Gelar Aksi Serentak, Mahasiswa Sebut Putusan MK Berpotensi Langgengkan Dinasti Politik Jokowi

AKURAT.CO Ratusan mahasiswa di beberapa daerah di Jawa Timur berunjuk rasa serentak menentang keputusan Mahkamah Konstitusi tentang batas usia Calon Presiden dan Wakil Presiden, Jumat (20/10/2023).
Dalam aksinya, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi itu menuding putusan MK itu merupakan upaya melanggengkan dinasti politik keluarga Presiden Joko Widodo.
"Tujuan aksi kali ini yaitu menolak dinasti politik yang telah dibangun oleh pemerintah, orang nomor satu kita yaitu Presiden Jokowi yang telah membangun dinasti politik," kata Koordinator aksi, Maushul.
Baca Juga: Sejauh Mana Politik Dinasti Terhadap Demokrasi RI? Pertanyaan Ini Muncul Usai Gibran Bisa Nyapres
Dalam keterangan persnya, dia menilai keputusan MK yang meloloskan penambahan frasa dalam UU Pemilu Nomor 7 Tahun 2017 menyimpang dari prinsip-prinsip hukum sebagaimana tugas MK sebagai negative legislator.
Dalam keputusannya, MK memang menetapkan batas usia minimal Capres-Cawapres adalah 40 tahun tapi mereka menambahkan pengecualian aturan tersebut bagi bakal calon yang memiliki pengalaman sebagai kepala daerah.
"Maka, di sini kami sebagai mahasiswa menolak keras untuk adanya dinasti-dinasti politik yang ada di Indonesia karena tidak ada yang namanya dinasti politik di Indonesia kita," ujarnya menegaskan.
Maushul mewakili para mahasiswa tersebut mencurigai keputusan tersebut bertujuan untuk meloloskan Walikota Solo, Gibran Rakabuming Raka menjadi cawapres.
Keterlibatan salah seorang putra Presiden Joko Widodo dalam Pemilihan Presiden 2024 mendatang disebut sebagai upaya melanggengkan dinasti politik untuk mempertahankan kekuatan keluarga Jokowi di Indonesia.
"Kami harap kepada MK untuk mencabut putusan itu dan kembali konsisten kepada undang-undang yang di awal. Yang kedua, untuk tidak membangun lagi dinasti dan membubarkan politik dinasti agar tidak ada lagi politik dinasti di Indonesia ini," ujar Maushul.
Tuntutan dan harapan yang sama juga disampaikan oleh sejumlah mahasiswa se-Kediri Raya, Jawa Timur dalam unjuk rasa yang digelar di Memorial Park Kediri pada Jumat sore waktu setempat.
Menurut koordinator aksi Heru Al Amin, MK memiliki fungsi sebagai pengawal demokrasi yang seharusnya bukan hanya dipandang sebagai kebebasan individu dan kebebasan kelompok dalam pandangan politik, tetapi juga memuat nilai-nilai yang adil, jujur dan bebas dari pengaruh apapun.
"Kita yakin (aksi) ini adalah sebuah upaya dalam bentuk moral dan spiritual dari kita untuk mendorong bahwasanya kita mengetuk hati nurani sekelompok orang yang mau melanggengkan dinasti (politik) kerajaan Solo," kata Heru seusai aksi.
Selain berorasi, para mahasiswa menyampaikan tuntutannya melalui spanduk yang dibentangkan sepanjang aksi damai tersebut.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 3Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









