Akurat
Pemprov Sumsel

Dibedah Habis, Data Anies dan Ganjar Soal Pertahanan di Debat Capres Ternyata Banyak yang Keliru

Atikah Umiyani | 9 Januari 2024, 10:24 WIB
Dibedah Habis, Data Anies dan Ganjar Soal Pertahanan di Debat Capres Ternyata Banyak yang Keliru

AKURAT.CO Capres nomor urut 1, Anies Baswedan dan capres nomor urut 3, Ganjar Pranowo, menyampaikan banyak data soal pertahanan yang keliru saat debat sesi ketiga yang digelar KPU, Minggu malam.

Akun X @tweetmiliter (TM) pun membedah satu per satu data yang disampaikan ketiga capres yang bersaing, baik Anies, Ganjar maupun capres nomor urut 2, Prabowo Subianto. Pertama, yaitu soal data yang disampaikan Anies soal dana Rp700 triliun yang dipakai untuk membeli alutsista bekas.

"Hal ini tidak benar, karena PSP Kemhan pada tahun 2020-2024 untuk pembelian alutsista sebesar USD25,4 miliar/Rp386 T," tulisnya dikutip Selasa (9/1/2024).

Selain itu, pernyataan Anies yang selalu menekankan pada perihal pembelian alutsista bekas juga tidak tepat. Karena banyak alutsista baru yang dibeli Kemenhan.

Baca Juga: Jadi Bahan Kampanye Prabowo Subianto, Ini 10 Manfaat Susu Bagi Pertumbuhan Anak

"Faktanya, pembelian alutsista Kemhan sejak 2019 hingga sekarang merupakan alutsista baru, seperti pesawat tempur Rafale, pesawat angkut A400M, frigate Merah Putih, rantis Maung, hingga radar GM400A," ujarnya.

Kemudian, soal pernyataan Ganjar yang menilai kinerja Kemhan masih buruk melalui beberapa metrik. Ukuran pertama yang dibawa Ganjar adalah menurunnya Global Peace Index (GPI) Indonesia.

Akun tersebut menjelaskan, GPI terdiri dari indeks keamanan masyarakat, konflik domestik & internasional, dan militerisasi. Tiga indeks ini dianggap tidak tepat untuk mengukur kinerja Kemhan.

"Menurut TM, ketiga indeks ini tidak cocok untuk mengukur kinerja Kemhan, karena sebagian besar indeks tersebut (keamanan masyarakat dan konflik domestik) berada di bawah wewenang Kemenkopolhukam," ucapnya.

Baca Juga: Prediksi Susunan Pemain Indonesia vs Iran: Marselino-Jenner Otak Serangan, Dimas Drajad Ujung Tombak

Selanjutnya, Ganjar menjelaskan terkait penurunan peringkat Global Militarisation Index (GMI) Indonesia. GMI sendiri mengukur proporsi sumber daya yang dialokasikan negara untuk sektor hankam.

Artinya, semakin rendah peringkat GMI, alokasi sumber daya sektor non-hankam (pendidikan, dll) meningkat.

"Berdasarkan publikasi BICC, ranking GMI Indonesia naik dari 130 (2022) menjadi 124 (2023). Artinya, alokasi sumber daya negara ke sektor pertahanan meningkat. Ini menunjukan bahwa pemerintah sedang serius berkomitmen untuk memperkuat pertahanan Indonesia," tuturnya.

Lebih lanjut, indeks terakhir yang disebut Ganjar adalah Asia Power Index yang turun. Padahal berdasarkan publikasi Lowy Institute, meskipun peringkatnya turun, pengaruh diplomatik Indonesia naik signifikan.

Baca Juga: 8 Keajaiban Air Putih, Manfaat Tak Terduga yang Perlu Anda Ketahui

"Data ini juga membantah klaim Anies yang bahwa Indonesia cuma penonton politik dunia," ucapnya.

Terakhir, Ganjar menyebut proporsi anggaran pertahanan Indonesia turun menurut IISS. Padahal, pada sisi lainnya rencana pertahanan Indonesia sekarang adalah yang paling ekspansif di kawasan.

"Namun, pada laporan yang sama, IISS menyatakan rencana pertahanan Indonesia sekarang adalah yang paling ekspansif di kawasan. Hal ni didukung oleh kenaikan real-terms defence budget," ujarnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.