Bank di Atas Ombak: Misi Mahal BRI Memutar Roda Perekonomian di Ujung Jakarta Lewat Kapal Bahtera Seva I

AKURAT.CO Sri Elijah (44), warga asli Pulau Kelapa memulai bisnis toko bangunan, kontrakan dan home stay 5 Saudara sekitar tahun 2022. Waktu itu Elijah kekurangan modal untuk membeli lahan bakal home stay. Untungnya pada satu hari ia melihat ada Teras BRI Kapal, layanan perbankan terapung dari BRI, menghampiri Pulau Kelapa.
“Jadi sekitar tahun 2022 itu kan saya mau beli lahan untuk bikin home stay, tapi kurang modal. Terus saya lihat ada Teras BRI Kapal datang. Kami masuk lah terus nanya-nanya CS. Dari situ kami dilayani Mantrinya, pak Amryan Fajri (Ryan), enggak lama cair KUR Rp50 juta,” kenang Elijah.
Elijah sendiri merupakan penduduk asli Pulau Kelapa. Satu hari ia sedang di Jakarta dan di sanalah ia bertemu sang suami yang asli orang Brebes, Jateng.
Mereka bersama-sama membangun bisnis dan rumah tangga di Pulau Kelapa, hingga kini anaknya sudah 5. Yang terkecil usia 6 tahun dan yang pertama sudah lulus kuliah S1 Ekonomi. Kini toko bangunan lebih banyak diserahkan pengelolaannya ke anak pertama.
Elijah menilai keberadaan Teras BRI Kapal sangat membantu. Ia jadi tak perlu ke Jakarta untuk menghampiri CS BRI Unit Jelambar atau Unit Pluit Kenanga misalnya untuk melakukan pengajuan kredit.
Baca Juga: Dari Kemang ke Kebagusan, KUR BRI Temani Usaha Warung Sembako dan Nasi Uduk Bu Sri
“Jadi kami enggak banyak pengeluaran pak. Enggak harus ke Jakarta. Enggak ribet atau lama prosesnya. Alhamdulillah dengan tambahan modal dari BRI, bisa berkembang usaha kami. Kalau bagi saya sih BRI membantu banget. Jadi bisa lebih mantep gitu merencanakan usaha ke depan,” aku Elijah.
Selain kemudahan layanan, bunga KUR BRI yang kompetitif juga menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi Elijah. Tak jarang ia didatangi mantri dari bank-bank lain yang secara door to door manawarkan pinjaman mungkin karena credit score yang cantik, tapi ia tetap memilih BRI.
“Kalau menurut saya, bunga untuk pelaku bisnis segitu sudah pantesnya lah. Saya kalau pinjam uang kan memang selalu untuk usaha. Kalau KUR BRI bersabahat bunganya, kalo selain itu saya enggak berani pinjem,” imbuh Elijah.
Usaha Elijah pun terus berkembang dari yang semula modal pribadi, kemudian mendapat tambahan modal dari BRI. Kontrakan 10 pintu yang ia sewakan seharga Rp500 ribu per bulan, serta home stay seharga Rp500 ribu per hari, selalu terisi. Kebanyakan pelanggannya juga warga pribumi Pulau Kelapa yang memang tak memiliki rumah di sana.
Baru-baru ini Elijah juga melakukan top up Rp100 juta untuk memperluas bisnis home staynya agar jumlahnya menjadi dua, serta untuk keperluan renovasi rumah. “Kemarin saya pinjam lagi Rp100 juta, sudah diacc, tinggal nunggu pencairan,” kata Elijah.
Sigap Menangkap Setiap Kebutuhan Warga Pulau
Algi Meza, Mantri dan Kepala Teras BRI Kapal Bahtera Seva I melayani nasabah
Diakui Algi Meza, Mantri sekaligus Kepala Teras BRI Kapal Bahtera Seva I, kebutuhan transaksi warga pulau beragam.
Tak jarang CS juga melayani transaksi pembukaan rekening, pembetulan fasilitas mbanking BRI yang error maupun pengajuan kredit. Sebagaimana yang diceritakan Sri Elijah, warga Pulau Kelapa pengusaha toko bangunan dan home stay tadi
Sesekali juga juga transaksi ritel seperti pembukaan rekening giro, misalnya oleh pengusaha-pengusaha besar di Pulau Tidung.
“Layanan sama persis seperti di darat, enggak ada bedanya. Asuransi tempat usaha juga ada. Pembukaan giro perusahaan-perusahaan kaya di Pulau Tidung ada juga. Kalau gitu biasanya kami tandem sama marketing funding, kami bawa,” ujar Algi.
Namun memang diakui Algi, transaksi terbanyak saat ini adalah setoran tunai. Dalam sepekan memutari 5 pulau, uang tunai yang terkumpul rata-rata berkisar Rp1-2 miliar, terbanyak dari Pulau Pramuka, Pulau Panggang dan Pulau Kelapa, dari warga biasa termasuk juga Agen BRILink.
Berikutnya, penarikan, terutama warga penerima bantuan PKH, BPNT dan PIP. Ini dilakukan lewat teller maupun mesin ATM, tergantung ketersedian kartu ATM yang disediakan BRI Unit Pluit Kencana.
“Kami ada ATM, enggak pernah mati, yang ngisi Bringin Gigantara, vendornya, masih anak usaha BRI juga. Kalo ATM offline kami lapor ke mereka atau enggak ke IT,” kata Algi.
Banyak warga yang merasa terbantu dengan keberadaan Teras BRI Kapal karena mereka tak harus jauh-jauh ke darat untuk bertransaki.
Bahkan ada warga dari pulau yang tak terjangkau Teras BRI Kapal rela membayar ojek kapal ke pulau-pulau yang dijangkau Teras BRI Kapal, seperti yang dilakukan Nia Triyanti, (50 tahun), warga Pulau Pramuka yang siang hari itu, Selasa (2/6/2026) menyebrang ke Pulau Panggang untuk bertemu teller di Teras BRI.
Nia Triyanti, nasabah BRI warga Pulau Pramuka menyebrang Pulau Panggang pakai ojek kapal
Ia mengecek saldo di buku tabungannya, atau mencetak rekening koran. Yanti memang sedang menunggu pencairan bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).
“Naik ojek perahu ke sini karena kemarin Senin (yang sedianya jadwal kunjungan Teras BRI ke Pulau Pramuka) kan tanggal merah, libur Hari Lahir Pancasila. Saya ngecek PKH sama PPMP. Nominalnya berbeda-beda setiap orang. Tapi ini belum masuk (cair),” ungkap Yanti.
Ibu rumah tangga yang tinggal di Pulau Pramuka sejak tahun 2015 karena ikut suaminya ini mengaku terbantu dengan keberdaan layanan perbankan terapung BRI. Selain meminta rekening koran ke teller, Yanti juga sekaligus meminta penggantian kartu ATM nya yang rusak.
Meski harus membayar ojek perahu Rp5.000 sekali melintas, atau Rp10.000 untuk bolak-balik pulau, ia tak keberatan karena memang ia perlu mengetahui saldo di buku tabungannya. “Sekalian benerin ATM. Ya kalau bisa pulau kami setiap hari dikunjungi (Teras BRI Kapal) sih lebih bagus lagi,” harap Yanti.
Berbeda dengan Yanti, Suanah (37) warga Pulau Panggang justru mendapati kabar gembira saat meminta rekening koran ke teller. Pasalnya, setelah 4 tahun tak kunjung mendapat bantuan PKH, ia untuk pertama kalinya mendapat pencairan PKH untuk periode April-Juni 2026.
Suanah, nasabah BRI warga Pulau Panggang baru saja mengecek pencairan PKH
“Tadi saya ngecek PKH, program bantuan yang 3 bulanan sekali. Alhamdulillah cair, karena sudah 4 tahun ini enggak pernah cair,” ujar Suanah.
Selain melakukan pengecekan saldo terkait PKH, ia juga kerap ke Teras BRI Kapan untuk melakukan transaksi lain termasuk tarik tunai, setor tunai dan mengecek bantuan sosial lain seperti Program Indonesia Pintar (PIP).
“Ke kapal biasanya ambil uang, nabung, terus cek PIP juga. Alhamdulillah Teras BRI sangat membantu juga sih, jadi kami enggak perlu capek-capek ke Jakarta untuk ngurus ini-itu, enggak keluarin ongkos. kami sudah disamperin kapalnya ke sini. Dimanjakan gitu. Ya senang aja, kalau ada apa-apa kan enggak perlu ke Jakarta lagi,” aku Suanah.
Suanah yang sudah 4 tahun belakangan menjadi nasabah Teras BRI mengaku puas dengan pelayanan perbankan terapung ini dan tak memendam keluhanan apapun. Alhamdulillah ramah dan baik pelayannya,” ujar Suanah.
Sementara Amelia (36), warga Pulau Panggang lainnya berharap kecepatan layanan Teras BRI bisa ditingkatkan ke depannya. Pasalnya, masih ada masyarakat yang sudah antre menunggu kedatangan Teras BRI berharap untuk mencairkan PKH ataupun PIP, tapi belum terlayani secara maksimal.
Amelia, nasabah BRI warga Pulau Panggang ikut mengantre di teller Teras BRI Kapal
Ia mencontohkan, di hari Senin dan Selasa, yang mana Teras BRI dijadwalkan melayani warga Pulau Pramuka dan Pulau Panggang, kapal tidak selalu pasti datang di hari itu.
Jikapun datang, masih ada kendala di ketersediaan uang tunai di mesin ATM yang tak selalu penuh. Pernah ada temannya yang terpaksa kehilangan (hangus) pencairan PKH seniali Rp1,1 juta karena Teras BRI tak berkunjung selama sepekan.
“Setiap Hari Senin dan Selasa agak lambat datangnya Teras BRI, pernah juga enggak dateng. Kemudian pernah juga pas mau nyairin PKH, enggak ada uangnya, nunggu ada yang nabung (setor tunai dulu). Pas pekan depannya mau ambil, kata dia hangus,” ujar Amelia.
Amelia berharap ke depan, saat periode pencairan PKH dan BNPT agar operasional Teras BRI ke Pulau Pramuka dan Pulau Panggang bisa dipercepat.
“Tolong diduluin, jangan sampai lambat gitu takutnya keburu hangus. Kasihan kan yang sudah pada nunggu kapal, antre, bawa anak kecil, kepanasan, apalagi pas bulan puasa, mereka semua ingin bisa mencairkan PKH dan BPNT,” harap Amelia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026





