Dari Buku Karya Romo Sindhunata, Hasto Sebut Kekuatan Wong Cilik Tak Terkalahkan

AKURAT.CO Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto melihat sejumlah karya seni dan buku hasil disertasi Romo Sindhunata berjudul Ratu Adil Ramalan Jayabaya & Sejarah Perlawanan Wong Cilik saat mengunjungi pameran seni di Bentara Budaya.
Hasto mengaku tengah menyempatkan waktu untuk membaca buku tersebut. Hasto mengaku bahwa isinya masih relevan dengan kondisi politik saat ini. Buku itu membahas tentang harapan wong cilik atau rakyat kecil ketika menghadapi berbagai bentuk penindasan.
"Yang oleh Bung Karno dimunculkan di dalam filsafat tentang Pak Marhaen. Maka Pancasila itu lahir sebagai ideologi pembebasan bagi wong cilik,” ujar Hasto, di Bentara Budaya, Jakarta, Senin (15/1/2024).
“Dan ini senapas dengan komtemplasi ideologis yang dilakukan oleh Megawati Soekarnoputri dan oleh seluruh jajaran PDI Perjuangan di mana pada Rakernas yang ketiga pada 6-8 Juni 2023 yang lalu mengambil tema fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara," kata Hasto.
Baca Juga: Peringati Hari Sumpah Pemuda, Bechi Bangun Rumah Gratis Untuk Dhuafa dan Fakir Miskin
Menurut Hasto, buku tersebut memberikan gambaran aspek antropologis, sosiologis, dan juga historis tentang perjuangan wong cilik dan petani di dalam menghadapi penindasan khususnya pada masa kolonialisme Belanda.
"Di mana muncul beberap kali pemberontakan petani yang memunculkan suatu mitilogi Ratu Adil. Suatu konsepsi yang membangun harapan. Maka dengan buku ini PDI Perjuangan juga mendapatkan suatu karya akademis dengan metedologi yang belajar dari bawah, dari kehidupan wong cilik itu sendiri, diangkat menjadi suatu karya intelektual yang diharapkam bisa mengilhami seluruh anak bangsa di dalam memerjuangkan wong cilik," kata Hasto.
Dosen Universitas Pertahanan RI ini menyampaikan negara sebesar Tiongkok dengan penduduk 1,6 miliar mampu mengatasi kemiskinan ekstrem. "Kita yang seharusnya punya ideologi pembebasan, punya falsafah Pancasila, punya gerakan di dalam membebaskan rakyat, kita juga harusnya mampu mewujudkan kemiskinan nol persen," jelas Hasto.
Sebab, lanjut Hasto, negara dengan penduduk jauh lebih besar dari bangsa Indonesia pun bisa. Hal itulah, lanjut Hasto, yang kemudian bisa diyakini menginspirasi Ganjar Pranowo ketika menjadi gubernur Jawa Tengah untuk fokus dalam menuntaskan kemiskinan.
"Bahkan, Pak Ganjar memberikan fundamen yang lebih baik, dimana melalui pendidikan, melalui pendidikan vokasi, melalui satu keluarga miskin satu sarjana, itu nanti akan memberikan suatu loncatan bagi wong cilik. Tidak hanya melalui bansos, melalui BLT, melalui KIS, KIP, KTP Sakti. Tegasnya buku ini sangat menarik sehingga menjadi bacaan wajib bagi seluruh kader-kader PDI Perjuangan di dalam menegaskan komitmennya terhadap wong cilik," beber Hasto.
Dalam buku ini juga digambarkan bahwa penindasan tidak akan pernah berhasil menekan wong cilik.
"Kekuatan yang seperkasa Orde Baru pun bisa rontok, meskipun muncul fenomena New Orde Baru itu kembali hadir. Karena dibalik intimidasi itu memunculkan harapan. Itu telah terbukti secara empiris dalam kajian-kajian ilmiah. Karena kita bangsa spiritual. Bangsa yang punya nilai moral, keagamaan, dan membangun harapan sehingga teman-teman yang terkena intimidasi justru kami yakini MENjadi energi juang," ucap Hasto.
Dari sisi politik, lanjut Hasto, hal itu yang membuat Ganjar-Mahfud bersama PDIP, PPP, Hanura, Perindo, serta unsur sukarelawan terus menyatu dalam akar rumput ini.
"Kekuatan akar rumput akan selalu menampilkan suatu harapan dan tradisi dalam menyikapi bentuk praktek-praktek politik kekuasaan yang tidak demokratis," kata Hasto.
Dalam kunjungan ke Bentara Budaya ini, Hasto didampingi politikus muda PDIP, yaitu Once Mekel dan Aryo Seno Bagaskoro.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








