Penolakan Partai Gelora Soal PKS Gabung Prabowo-Gibran Dinilai Murni karena Faktor Sejarah

AKURAT.CO Pakar Komunikasi Politik dari Universitas Pelita Harapan, Emrus Sihombing menilai, penolakan Partai Gelora terhadap Partai Keadilan Sejahtera (PKS) murni dilandasi karena faktor sejarah.
Emrus mengatakan, Gelora dan PKS memang memiliki pandangan politik yang saling bersebrangan. Hal ini mengapa niat PKS untuk bergabung ke dalam pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka ditolak mentah-mentah.
Apalagi, Gelora merupakan pecahan dari PKS. Sejumlah elitnya seperti Anis Matta dan Fahri Hamza juga merupakan mantan petinggi PKS. Maka tak heran jika penolakan tersebut datang dari Gelora.
Baca Juga: Prabowo Cari Waktu Temui PKS, Gerindra Mengaku Tidak Lihat Gelora Menolak
"Dua tokoh ini kan dari PKS, saya melihat kalau dua tokoh ini tidak setuju bergabungnya PKS kesana karena memang mereka sudah berseberangan secara politik," kata Emrus kepada Akurat.co, Sabtu (4/5/2024).
Dia menilai, penolakan Gelora ini tidak hanya didasari pada siapa pihak yang menang dan kalah di pilpres. Tetapi juga karena ada relasi politik yang kurang baik dan terjadi berlarut-larut.
"Artinya ada sesuatu dinamika politik di internal PKS dulu sehingga dua sosok ini memisahkan diri, jadi saya kira itu yang sebenarnya jadi motivasi teman-teman di Gelora menolak, karena memang ada historical nya," pungkasnya.
Baca Juga: Beda dengan Gelora, Gerindra Yakin Prabowo Masih Terbuka untuk PKS
Seperti diketahui, PKS sebelumnya telah memberi sinyal-sinyal terbuka untuk gabung pemerintahan Prabowo-Gibran. Namun, sikap PKS tersebut mendapat penolakan dari Partai Gelora sebagai pihak yang ikut mengusung Prabowo-Gibran.
Sekretaris Jenderal Partai Gelora Indonesia, Mahfuz Sidik mengatakan, salah satu alasan penolakan tersebut yaitu karena selama masa kampanye Pilpres 2024, PKS telah melakukan serangan negatif secara masif kepada Prabowo-Gibran, bahkan ke Presiden Joko Widodo.
"Seingat saya selama proses kampanye, di kalangan PKS banyak muncul narasi sangat ideologis dalam menyerang sosok Prabowo-Gibran," kata Mahfuz kepada wartawan beberapa waktu lalu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









