Calon Tunggal Menjamur di Pilkada 2024, Petahana Sulit Dilawan karena Terlalu Kuat

AKURAT.CO Menjamurnya calon tunggal di Pilkada Serentak 2024 disebabkan karena sikap partai politik, yang memandang sosok calon kepala daerah petahana sulit dikalahkan.
"Calon tunggal Pilkada 2024 didominasi petahana kepala daerah, wakil kepala daerah atau kerabat petahana," kata Pakar hukum kepemiluan Universitas Indonesia (UI), Titi Anggraini, dikutip Senin (2/9/2024).
Menurut Titi, keluarnya putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mengubah ambang batas pencalonan menjelang pendaftaran calon kepala daerah tidak berpengaruh banyak pada kemunculan calon lain.
"Realitas bahwa petahana yang terlalu kuat dan dominan sulit untuk dilawan. Partai-partai memilih realitas dan pragmatis kalau tidak punya kader yang mumpuni, habis babak belur, habis uang, habis tenaga, habis Pemilu 2024," ujarnya.
Baca Juga: PDIP Dominasi Calon Tunggal di Pilkada 2024: Realitas Politik dan Kekuatan Petahana
Contohnya, di Papua Barat dan Surabaya. Pasangan petahana kepala daerah dan wakil kepala daerah kembali maju pada Pilkada 2024 di daerah masing-masing.
Pasangan Dominggus Mandacan - Mohamad Lakotani maju di Papua Barat dengan mengantongi dukungan dari semua partai politik. Sedangkan, Ery Cahyadi-Armuji yang merupakan kader PDI Perjuangan maju lagi untuk Pilkada Surabaya.
Terkahir di daerah Brebes, Jawa Tengah, di mana Paramitha Widya Kusuma - Wurja tak kunjung mendapat lawan sepadan karena belum bisa menyaingi kemasyhurannya. Oleh karena itu, Paramitha berpotensi melawan kotak kosong pada 27 November nanti.
"Paramitha anggota DPR memang bukan petahana, tapi setelah ditelusuri bapaknya adalah petahana. Bupati Brebes 2002-2010. Jadi di sana ternyata relasi petahana tetap kuat dan dominan," ucapnya.
Selain itu, terdapat 6 calon tunggal di tingkat kabupaten/kota yang memiliki hubungan dengan petahana. Rinciannya, satu adalah petahana bupati yang maju sebagai calon bupati Asahan. Satu lagi petahana wakil bupati yang maju sebagai calon bupati di Pilkada Tapanuli Tengah.
"Itu yang membuat partai mengambil pilihan yang realitas dan pragmatis untuk mengusung calon tunggal yang tadi punya latar belakang petahana, modal sosial serta modal politik yang kuat dan tentu saja modal kapital," tuturnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 3Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








