Janji Tinggalkan Bisnis Batu Bara, 89 Persen Pendapatan Kuartal III-2023 Indika (INDY) Masih Dari 'Emas Hitam'

AKURAT.CO PT Indika Energy Tbk (INDY) membukukan pendapatan sebesar USD2,29 miliar pada kuartal III-2023. Menariknya, meski sudah berkomitmen meninggalkan bisnis batu bara secara bertahap pada 2050 mendatang, emiten milik Arsjad Rasjid ini masih mengandalkan mayoritas pendapatannya dari lini bisnis sumber daya energi (batu bara).
Menilik laporan keuangan interim yang tidak diaudit perusahaan, pendapatan INDY kuartal III-2023 mayoritas atau sebesar 89,49% setara USD2,04 miliar bersumber dari segmen operasi sumber daya energi.
Aset utama segmen ini adalah Kideco Jaya Agung atau KJA yang merupakan produsen batubara ketiga terbesar di Indonesia menurut volume produksi. Pada segmen ini, Grup juga didukung oleh Multi Tambangjaya Utama (MUTU) dan perdagangan batubara yang diwakili oleh ndika Capital Investments Pte. Ltd. (ICI) dan Indika Energy Trading Pte. Ltd. (IETPL).
Baca Juga: Biayai Modal Kerja, 2 Entitas Indika Energy (INDY) Transaksi Fasilitas Pinjaman Rp70,7 M
Adapun sisa pendapatan lainnya disumbang segmen jasa energi melalui Tripatra yang memberikan jasa teknik, pengadaan material dan pelaksanaan konstruksi, operasi dan pemeliharaan serta logistik sebesar USD184,09 juta.
Lalu segmen logistik dan infrastruktur lewat PT Indika Logistic & Support Service (ILSS) dan PT Karinangau Gapura Terminal Energi (KGTE) menyumbang USD34,2 juta, segmen mineral lewat PT Indika Mineral Investindo (IMI) yang menyumbang USD21,8 juta, segmen bisnis hijau lewat PT Empat Mitra Indika Tenaga Surya (EMITS) yang menyumbang USD10,6 juta serta segmen ventura digital lewat Xapiens yang menyumbang USD4,2 juta.
Tambahan informasi, sejak 2018 INDY melakukan diversifikasi ke sektor non-batu bara, rendah karbon dan berkelanjutan. Lini bisnis tambang, EPC dan jasa migas lewat PT Tripatra Engineering dan PT Petrosea Tbk perlahan ditinggalkan dan didivestasi.
Saat ini Grup Indika pun fokus ke lima lini usaha yakni energi lewat Kideco Jaya Agung, mineral lewat Nusantara Resources LTD, digital lewat Xapiens dan Zebra Cross Teknologi, logistic lewat Interport Mandiri Utama, dan bisnis hijau lewat Empat Mitra Indika Tenaga Surya/ EMITS.
Emiten energi satu ini juga fokus menggarap bisnis natural based solution misalnya hutan tanam industri energi untuk bio mass, kehutanan dan hortikultur sebagai bagian dari ekonomi sirkular dengan menggandeng petani rakyat sembari merangkul UMKM
Terbaru, lewat entitas usaha PT Indika Multi Properti (IMP) dan PT Indika Inti Corporindo (IIC), INDY mendirikan PT Laras Ekosistem Organik yang bergerak di bidang konsultasi manajemen, perdagangan besar kopi, teh dan kakao.
Alasan Tinggalkan Emas Hitam
Sebelumnya Presiden Direktur INDY, Arsjad Rasjid pernah menceritakan bahwa di satu kesempatan makan siang dan minum kopi bersama puteri ketiganya, sang anak menunjukkan smartphone nya yang berisi artikel berjudul "100 Killers of The World".
Perbincangan seputra isu lingkugan itu berlanjut sesampainya mereka di rumah. Sang putri meminta ayahnya membesarkan layar kaca smartphone sampai akhirnya Arsjad melihat namanya terpampang jelas dalam daftar "100 Pembunuh Dunia" tersebut. Akhirnya ia memutuskan untuk mengajak seluruh dewan direksi INDY untuk mengubah haluan core business mereka ke depan.
Usai obrolan dengan puterinya itu, Arsjad bertemu dengan dewan direksi (board) dan meyakinkan mereka agar manajemen harus melihat kembali strategi bisnis ke depan. Dicanangkanlah komitmen atau target mencapai Net Zero Emission INDY pada tahun 2050, dengan salah satu strategi utamanya meninggalkan bisnis batu bara.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









