Ganjartivity Tampung Langsung Keluhan dan Aspirasi Petani Cabai di Sumedang

AKURAT.CO Alumni muda Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjajaran (Unpad) dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang tergabung dalam kelompok Ganjartivity meluaskan program sosialnya hingga ke Sumedang.
Tepatnya di Desa Ciherang, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Kehadiran mereka dimaksudkan untuk menemui para petani cabai di wilayah tersebut.
Ganjartivity mengajak para petani cabai untuk melakukan diskusi dengan mereka. Ganjartivity menampung berbagai keluhan dan aspirasi para petani cabai.
"Kita melakukan komunikasi sama masyarakat petani cabai di wilayah ini. Kita banyak diskusi dan tanya jawab di forum ini," kata Ketua Ganjartivity Dicky Fauzia, Senin (25/12/2023).
Baca Juga: Masih Soal Debat Cawapres, Sekjen PAN: Gibran Bukan Mantap, tapi Mantap Banget
Diskusi berlangsung dengan interaktif. Ganjartivity pun berkomitmen untuk menampung segala aspirasi mereka, dan berupaya mencari solusi atas kesulitan yang dialami petani.
Dicky menjelaskan, berkat diskusi tersebut dirinya mengetahui bahwa para petani kesulitan mendapatkan pupuk imbas langkanya pupuk di pasaran.
Fakta ini pun disebutnya selaras dengan apa yang disampaikan Ganjar sewaktu mengikuti debat capres beberapa waktu lalu.
"Banyaknya kita minta keluh kesahnya. Kemarin debat kan Pak Ganjar sempat menyampaikan bahwa kalau kelangkaan pupuk itu bukan hanya di Jateng saja, tapi di seluruh Indonesia. Itu salah satu yang dibahas di sini," jelas Dicky.
Baca Juga: 7 Daftar Konser Musik Malam Tahun Baru 2024, Jangan Sampai Terlewat!
Dalam wawancara dengannya, dia juga membeberkan alasan pihaknya mengunjungi petani di wilayah tersebut.
Menurutnya, para petani di sana jarang diakomodir kebutuhannya oleh pemerintah. Paslon dari capres lain juga disebut Dicky belum ada yang datang ke wilayah tersebut.
"Di sini itu tidak terjangkau oleh siapapun paslonnya walau soal kampanye ini sudah lama. Tapi tidak ada yang tersentuh, maka kita sentuh dengan Ganjartivity," katanya.
Selain menampung aspirasi, para relawan juga memberikan edukasi kepada para pemuda wilayah setempat yang juga hadir dalam diskusi tersebut.
"Kita ingin mengedukasi dan ke depannya melakukan pelatihan bahwa jangan sampai ibu bapaknya saja yang petani, tapi anak-anaknya bisa sambil sekolah, kuliah, tapi sambil bertani juga," sebut Dicky.
Para petani dan pemuda setempat pun nampak antusias dalam berdiskusi. Dicky menilai, hal itu terjadi karena para relawan menggunakan bahasa yang santai saat berdiskusi.
Salah satu petani cabai, Iwan Setiadi mengapresiasi digelarnya diskusi oleh para relawan.
Iwan yang baru menggeluti pertanian cabai selama dua tahun ini mengaku, diskusi tersebut menambah wawasannya perihal tantangan di dunia pertanian cabai saat ini.
Baca Juga: Profil PT ITSS Morowali yang Tungku Smelter Nikelnya Meledak Hingga 13 Pekerja Tewas
"Jadi tahu permasalahan petani ini soal kondisi pupuk langka, digital marketingnya. Sudah dijelaskan secara detail," kata Iwan.
"Saya sebagai petani yang juga pemuda milenial, dengan adanya sosialisasi ini bermanfaat untuk (tahu) berproses ke depannya nanti bagaimana," imbuhnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










