IHSG Ditutup Melemah 1,61 Persen ke 7.117.4 Ditekan Saham 4 Bank Yang Memerah

AKURAT.CO Pasca libur hari Buruh 2024, IHSG mengalami penurunan yang cukup signifikan, turun 1,61% hari ini ke level 7.117,4, didorong oleh pelemahan empat bank dengan kapitalisasi pasar terbesar (BMRI turun 8,33%, BBRI turun 3,64%, BBCA turun 2,55% dan BBNI turun 8%).
Menilik riset Eastsring Investments, investor umumnya khawatir dengan kinerja kuartal I-2024 dari tiga bank BUMN yang dirilis dalam sepekan terakhir.
Dibuka melemah, IHSG betah di teritori negatif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona merah hingga penutupan perdagangan saham.
Baca Juga: Sesi I, IHSG Terjun 1,6 Persen ke 7.116
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, dua sektor meningkat dipimpin sektor kesehatan yang naik 0,12%, diikuti sektor industri yang naik sebesar 0,11%.
Sedangkan sembilan sektor terkoreksi yaitu sektor keuangan turun paling dalam, minus 2,78%, diikuti sektor transportasi & logistik dan sektor barang konsumen non primer yang masing-masing minus 2,02% dan 1,75%.
Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu TRGU, NASI, MSKY, OKAS dan MHKI. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni ATLA, ZINC, SMDR, MAPI dan BMRI.
Di pertemuan Bank Indonesia yang terakhir, Bank Indonesia juga memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan menjadi 6,25%, untuk menjaga kestabilan Rupiah yang secara bertahap terus melemah mendekati level terendah sejak 2020.
"Kenaikan suku bunga ini tidak direspon dengan baik oleh pasar obligasi domestik, dimana tingkat imbal hasil bertenor 10 tahun naik melampaui level psikologis 7 persen dan mendekati 7,2 persen di akhir bulan April 2024, yang merupakan level tertinggi sejak Oktober 2023 dimana tingkat imbal hasil Treasury 10 Tahun sempat mencapai 5 persen," tulis riset tersebut.
Sementara itu, the FED memutuskan untuk mempertahankan suku bunga FFR di 5,25-5,5% di pertemuan kemarin. Chair Powell melihat tingkat suku bunga sekarang "cukup ketat" dan menampik kemungkinan kenaikan suku bunga.
Pasar melihat sikap ini sebagai dovish, dan cukup berbeda dengan pernyataan the FED di akhir tahun lalu, dimana Chair Powell mengatakan bahwa kemungkinan untuk menaikkan suku bunga masih ada. Selain itu, the FED juga mengumumkan keputusan untuk mengurangi batas 'quantitative tightening' dari USD60 miliar menjadi USD25 miliar per bulan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 3Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









