Akurat
Pemprov Sumsel

Fakta-fakta Proyek Tanah Merah Yang Viral Dengan Tagar All Eyes on Papua

M. Rahman | 5 Juni 2024, 14:50 WIB
Fakta-fakta Proyek Tanah Merah Yang Viral Dengan Tagar All Eyes on Papua

AKURAT.CO Proyek Tanah Merah merupakan rencana ambisius untuk mengembangkan perkebunan sawit secara besar-besaran di Papua. Semenjak viralnya tagar “All Eyes On Papua” kasus ini kembali menjadi sorotan.

Dilansir laporan The Gecko Project, sebuah organisasi nirlaba asal Inggris yang befokus pada investigasi jurnalistik terkait penggunaan lahan dan dampaknya pada berbagai isu penting global, proyek ini mulai menyeruak dimulai dari seorang pria bernama Chairul Anhar yang mengklaim memiliki izin atas tanah seluas 4.000 km persegi di Papua.

Klaim tersebut disampaikan dalam sebuah konferensi pers di Malaysia pada bulan Desember 2012. Hal ini menandai awal dari sebuah kasus pembabatan hutan yang melibatkan jaringan kompleks perusahaan cangkang dan berbagai aktor internasional.

Awal Mula Proyek 

Proyek Tanah Merah tidaklah seperti proyek perkebunan sawit pada umumnya. Pada awalnya, proyek ini didorong oleh perusahaan-perusahaan cangkang yang dirancang untuk menyembunyikan identitas aktor sebenarnya yang terlibat. Perusahaan-perusahaan ini memberikan lapisan perlindungan bagi individu dan entitas yang ingin tetap anonim dan tidak diketahui publik.

Menurut The Gecko Pada akhir tahun 2012, saham dari perusahaan-perusahaan cangkang tersebut dijual ke entitas di Timur Tengah dan Singapura. Penjualan ini mengawali babak baru, dan menambah aktor baru dalam proyek ini.

Baca Juga: Apa Itu Suku Awyu dan Bagaimana Kaitannya dengan Seruan All Eyes on Papua?

Berdasarkan investigasi Gecko Project beberapa aktor intelektual yang terlibat di antaranya mantan Kapolri, keluarga kaya dari Yaman, perusahaan pembalakan dari Malaysia, dan konglomerat Malaysia yang sempat terlibat dalam skandal korupsi. Transaksi jual beli saham tersebut juga mengungkapkan jaringan luas dan kompleks yang mendukung Proyek Tanah Merah.

Keterlibatan berbagai pihak dari Timur Tengah, Singapura, dan Malaysia menunjukkan bagaimana proyek ini didorong oleh kepentingan internasional yang beragam. Mantan Kapolri yang terkait dengan proyek ini juga membawa nuansa lokal dan bekingan yang cukup kentara.

Ancaman ke Hutan 

Meski pengembangan proyek ini baru berjalan sebagian kecil, Proyek Tanah Merah sudah menimbulkan kekhawatiran besar terkait dampak lingkungan. Hutan Papua, yang dikenal sebagai salah satu kawasan hutan tropis paling penting di dunia, terancam mengalami deforestasi besar-besaran.

Jika seluruh rencana pengembangan terlaksana, diperkirakan emisi karbon yang dihasilkan akan sangat besar, bahkan melebihi emisi tahunan negara-negara kecil maju seperti Belgia. Proyek ini menjadi ujian besar bagi komitmen Indonesia dalam menghentikan deforestasi dan mengurangi emisi karbon dari sektor kehutanan.

Kontroversi seputar Proyek Tanah Merah mencerminkan dilema yang lebih luas yang dihadapi oleh banyak negara berkembang, kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui eksploitasi sumber daya alam versus kewajiban untuk menjaga lingkungan dan mematuhi komitmen internasional terkait perubahan iklim.

Dalam kasus Proyek Tanah Merah, ambisi besar untuk mengembangkan perkebunan sawit telah memicu kekhawatiran akan kehilangan salah satu hutan tropis terbesar dan terpenting di dunia. Dengan keterlibatan berbagai aktor internasional dan ancaman besar terhadap hutan Papua, masa depan Proyek Tanah Merah akan menjadi salah satu penentu penting bagi kebijakan lingkungan dan ekonomi Indonesia.

Perhatian global terhadap proyek ini diharapkan dapat mendorong dialog yang lebih mendalam dan solusi yang berkelanjutan, agar pembangunan dapat berjalan seiring dengan pelestarian alam.

Profil PT IAL

Menurut laporan The Gecko Project, PT IAL atau Indo Asiana Lestari disebut sebagai dalang di balik proyek ini. IAL adalah milik dua perusahaan asal Malaysia. Pemilik mayoritasnya yaitu Mandala Resources. Mandala Resources disebut-sebut sebagai perusahaan cangkang yang terdaftar di Kota Kinabalu, Malaysia.

Penanggung jawab PT Indo Asiana Lestari ialah Muh. Yabub Abbas. Ia sekaligus menduduki jabatan sebagai direktur. Kantor perusahaan berada di Distrik Mandobo, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua. Lokasi usaha atau kegiatan terletak di Distrik Mandobo dan Distrik Fofi, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua.

Namun, masyarakat adat setempat menolak IUPHHK tersebut. Mereka khawatir IAL akan merusak hutan dan lingkungan mereka. Hutan Papua merupakan habitat bagi berbagai flora dan fauna yang dilindungi. Selain itu, hutan juga merupakan sumber air dan makanan bagi masyarakat adat setempat.

Organisasi lingkungan juga mengkritik IUPHHK tersebut. Mereka mengatakan bahwa IAL tidak memiliki rencana yang jelas untuk melindungi hutan dan lingkungan. Mereka juga khawatir IAL akan mengeksploitasi hutan secara berlebihan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa