Gapmmi Dukung Investasi Lokal Untuk Kurangi Ketergantungan Impor

AKURAT.CO Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) menyatakan bahwa sektor makanan dan minuman di Indonesia masih sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan bahan baku.
Menurut Ketua Umum GAPMMI, Adhi S Lukman, minat investasi dalam negeri di bidang bahan baku industri makanan dan minuman perlu ditingkatkan. Mengingat, saat ini beberapa bahan baku yang masih banyak diimpor antara lain terigu dan gula industri yang mencapai 100%, garam industri sekitar 70%, dan susu sebanyak 80%.
"Untuk bahan baku pangan atau ingredients, kita masih banyak impor, seperti pengawet, pengatur asam, dan perisa yang harus diimpor. Ini tantangan kita," jelas Adhi dalam konferensi pers Food Ingredients Asia (FIA), Jakarta pada Senin (22/7/2024).
Baca Juga: Pelaku Industri Mamin Harapkan BI Rate Ditahan di 6,25 Persen hingga Akhir 2024
Adhi juga menekankan pentingnya peningkatan investasi domestik agar ketergantungan pada impor bisa dikurangi. Meskipun industri makanan dan minuman terus tumbuh, investasi di sektor bahan baku pangan masih belum berkembang sejalan.
"Presiden menargetkan untuk sebisa mungkin mengurangi impor. Kalau mengurangi produk impor, tapi tidak tersedia di dalam negeri kan sulit. Itu yang harus diinvestasi," ujarnya.
Namun, Adhi mengakui bahwa kebijakan pemerintah dalam menarik investasi bahan baku pangan masih lemah. Ia berpendapat bahwa diperlukan strategi menyeluruh dari hulu ke hilir untuk mengelola investasi ini.
"Sinkronisasi ini yang utama. Jika lokomotif industrinya adalah hilir, maka gerbong-gerbong di hulunya harus ikut," tegasnya.
Adhi juga menyebut bahwa alasan utama minimnya investasi di sektor bahan baku pangan di Indonesia adalah para investor lebih memilih negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia karena kemudahan perizinan, logistik, dan finansial di sana. "Indonesia perlu belajar dari mereka," ucapnya.
Dengan berlangsungnya acara Food Ingredients Asia (FIA) 2024, Adhi berharap Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita bisa mendorong para investor untuk berinvestasi di Indonesia, khususnya di sektor bahan baku pangan yang merupakan investasi kelas menengah.
Adhi juga menyoroti pentingnya perubahan pola pikir petani Indonesia agar bisa bertani dengan konsep industri. Saat ini, petani Indonesia masih terfragmentasi dengan kepemilikan lahan kecil sehingga produksi mereka kurang ekonomis bagi industri dalam negeri.
"Petani sebaiknya tetap boleh mengelola lahan kecil, tetapi harus mau diatur secara besar agar lebih ekonomis. Petani bisa menggunakan smart farming, mekanisasi, dan otomatisasi. Ini harus diatasi dan diubah mindset petaninya," tandas Adhi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









