BI Dorong Daya Saing Industri Fashion RI Lewat IKRA

AKURAT.CO Persaingan di industri fashion semakin ketat dengan banyaknya negara yang mulai mengembangkan modus fashion mereka. Namun, Indonesia memiliki peluang dan potensi yang sangat besar dalam sektor ini.
Menurut Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia (BI), Ita Nurlina, meski persaingan meningkat, Indonesia masih memiliki kekuatan unik yang membedakannya. "Memang persaingan makin ketat karena negara lain juga sekarang mulai banyak membuat modus fashion. Tapi Indonesia peluangnya dan potensinya sangat besar. Mungkin tidak bisa lebih besar dibanding negara-negara lain," ujar Ita di Reffles Hotel, Jakarta pada Senin (26/8/2024).
Menurutnya, kekuatan Indonesia terletak pada keragaman produk fashion yang dimiliki. "Kekuatan kita adalah kita punya uastra yang jenisnya sangat macem-macem gitu ya. Sejutaan model kali gitu ya. Nah itu yang membedakan kita dengan mereka,” ucapnya.
Baca Juga: Pelaku Modest Fashion RI Diarahkan ke Panggung Dunia lewat IN2MF 2024
Selain itu, ia juga menambahkan bahwa keunikan inilah yang memberikan keyakinan pada Indonesia untuk dapat bersaing secara global. "Kami yakin modus fashion Indonesia itu bisa menerobos pasar global dan malah bisa jadi juara di situ,” ucapnya.
Dalam upaya mendukung pertumbuhan sektor desain dan kreatif di Indonesia, Bank Indonesia telah meluncurkan program Industri Kreatif Syariah (IKRA) Indonesia yang diinisiasi oleh BI adalah suatu platform pengembangan usaha syariah yang holistik di sektor fesyen, makanan dan minuman, mencakup pengembangan kapasitas, branding, pemasaran hingga mempertemukan UMKM dengan pembeli dan investor global.
"Ya, kami punya program yang namanya IKRA. Tapi intinya Dewan IKRA ini memilih teman-teman yang belum jadi Anggota IKRA menjadi Anggota IKRA dulu," jelas Ita.
Program IKRA ini bertujuan untuk memberikan dukungan teknis dan akses pasar baik domestik maupun global kepada para anggotanya. Saat ini, ia mengungkapkan, Angkota IKRA berjumlah sekitar 900, dengan 500 di antaranya berasal dari sektor makanan dan 400 lainnya adalah desainer.
“Kami udah punya inventarisasi gitu ya. Desainer-desainer yang girohnya ada di modus nasional. Dan ini kita maintain. Jadi gak kita lepas gitu aja," tambah Rulina.
Sehingga, ia berharap bahwa program ini dapat terus berkembang dan meningkatkan eksposur desainer Indonesia di kancah global. "Kami lakukan Alhamdulillah istiqomah dari tahun ke tahun. Nah menurut kami mudah-mudahan program Ikra ini makin lama makin mengglobal. Paling tidak menasional gitu ya,” tukasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









