AKURAT.CO Hilirisasi nikel di Indonesia memiliki potensi besar menciptakan Green Jobs, yang menjadi elemen penting dalam transisi menuju ekonomi hijau. Namun, realisasi pekerjaan hijau ini masih jauh dari harapan.
Mengacu kepada studi Koaksi Indonesia, menunjukkan bahwa kebijakan hilirisasi saat ini belum sepenuhnya memenuhi prinsip keberlanjutan lingkungan maupun keadilan sosial.
Salah satu isu utama adalah praktik industri nikel yang masih mengandalkan PLTU batu bara sebagai sumber energi utama, yang menghasilkan emisi gas rumah kaca (GRK) tinggi.
Menurut Deputi Direktur Industri Hijau Kementerian Perindustrian, Taufik Achmad menjelaskan bahwa apabila proses produksi tidak men-dekarbonisasi, maka potensi Green Jobs akan sia-sia.
"Jika proses produksinya tidak mendekarbonisasi, potensi Green Jobs akan sia-sia,” ujar Taufik dalam keterangannya, Kamis (23/1/2024).
Selain itu, studi tersebut menyoroti lemahnya perlindungan hak-hak pekerja di sektor nikel. Upah pekerja sering kali lebih rendah dari biaya hidup di daerah tambang, dan kondisi keselamatan kerja juga menjadi sorotan.
Hal tersebut pun diamini oleh Presiden Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBI), Elly Rosita Silaban, dimana dirinya menegaskan apabila inginenerapkan pekerjaan hijau,maka harus terciptanya perlindungan sosial yang layak.
“Untuk benar-benar menciptakan pekerjaan hijau, kita harus memastikan ada perlindungan sosial yang layak dan upskilling tenaga kerja,” ujarnya.
Tantangan lainnya datang dari pasar global. Paspor baterai dengan standar ESG menjadi syarat utama untuk menembus pasar Eropa.
Namun, regulasi ESG untuk sektor tambang di Indonesia masih belum memadai. “Kita butuh regulasi yang dapat memastikan nikel Indonesia memenuhi standar keberlanjutan global,” ujar Meidy Katrin Lengkey, Sekjen APNI.
Meski begitu, ada peluang besar dari sisi rantai pasok industri hijau. Hilirisasi nikel dapat memberikan efek limpahan pada industri pendukung, seperti manufaktur panel surya dan turbin angin.
“Smelter nikel yang menggunakan energi terbarukan akan membuka peluang Green Jobs tidak hanya di sektor nikel, tapi juga di manufaktur terkait energi terbarukan,” tambah Reza Rahmaditio dari WRI Indonesia.
Untuk mencapai potensi ini, kolaborasi multipihak menjadi kunci. Pemerintah, industri, dan masyarakat sipil perlu bekerja bersama memastikan hilirisasi nikel selaras dengan tujuan transisi energi bersih dan penciptaan lapangan kerja yang layak.
Dengan dukungan regulasi yang tepat dan inovasi teknologi, hilirisasi nikel dapat menjadi model keberlanjutan yang tidak hanya memperkuat ekonomi nasional, tetapi juga berkontribusi pada pencapaian Net Zero Emission Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 4Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 520 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 8Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026









