Obligasi Aramco Ungkap Tekanan Fiskal dan Ambisi Ekonomi Arab Saudi

AKURAT.CO Keputusan Saudi Aramco menerbitkan obligasi dolar senilai USD5 miliar pada Selasa (27/5/2025) tidak hanya mencerminkan kebutuhan perusahaan terhadap likuiditas, tetapi juga menandakan meningkatnya tekanan anggaran Pemerintah Arab Saudi di tengah ambisi besar mendiversifikasi ekonomi nasional.
Obligasi tersebut terdiri dari tiga tahap, dengan tenor terpanjang yakni 30 tahun yang menyerap dana sebesar USD2,25 miliar. Imbal hasil obligasi dipatok pada 1,55% di atas surat utang negara AS, lebih rendah dari indikasi awal.
Dikutip dari laman reuters, langkah Aramco tersebut terjadi di tengah tren peningkatan pinjaman oleh perusahaan-perusahaan milik negara dan pemerintah Arab Saudi, seiring lonjakan utang kuartal terakhir yang digunakan untuk menutupi defisit anggaran.
Baca Juga: Ekspansif, Aramco Balik ke Pasar Utang
Pemerintah tengah menghadapi tekanan fiskal sebagai dampak dari turunnya harga minyak dan meningkatnya pembiayaan proyek-proyek mega dalam Visi 2030, rencana jangka panjang untuk mendiversifikasi perekonomian dari ketergantungan minyak.
Dengan gearing ratio sebesar 5,3%, Aramco masih memiliki ruang untuk meningkatkan pinjaman, berbeda dari banyak perusahaan minyak besar lainnya yang mencatatkan tingkat utang lebih tinggi.
Namun, meningkatnya utang bersih perusahaan selama kuartal pertama tahun ini menggarisbawahi tekanan arus kas yang kian besar, terutama untuk mendanai komitmen pembayaran dividen serta kebutuhan belanja operasional.
Baca Juga: Cari Dana USD11,2 M, Aramco IPO di Pasar Sekunder
Analis pasar melihat penerbitan obligasi ini sebagai sinyal bahwa Pemerintah Arab Saudi dan entitas strategisnya sedang memanfaatkan ruang fiskal dan reputasi kredit yang kuat untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







