Akurat
Pemprov Sumsel

Daya Saing Indonesia Turun Tajam di WCR 2025, Kemenperin Soroti Tekanan Eksternal

Hefriday | 25 Juni 2025, 21:30 WIB
Daya Saing Indonesia Turun Tajam di WCR 2025, Kemenperin Soroti Tekanan Eksternal

AKURAT.CO Posisi daya saing Indonesia dalam laporan World Competitiveness Ranking (WCR) 2025 yang dirilis oleh International Institute for Management Development (IMD) mengalami penurunan signifikan. Dari posisi ke-27 pada 2024, Indonesia turun ke peringkat 40 dari total 69 negara yang dikaji.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai, anjloknya peringkat tersebut lebih banyak disebabkan oleh faktor eksternal, terutama dampak dari perang tarif global.

Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif, saat ditemui di Jakarta, Rabu (25/6/2025), menjelaskan bahwa penurunan daya saing tidak mencerminkan kondisi internal industri nasional secara keseluruhan.

Baca Juga: Kemenperin Gandeng YBI Gelar Acara Bangga Berbatik pada Agustus Mendatang

“Kalau kami lihat, secara internal Indonesia masih cukup baik. Efisiensi tetap terjaga, tenaga kerja masih produktif, dan sebagian besar bahan baku masih tercukupi,” ujarnya.

Menurut Febri, yang menjadi tantangan saat ini adalah gempuran produk impor murah dari negara-negara yang mengalami over-supply akibat perang tarif, khususnya di kawasan Asia Tenggara.

“Negara-negara yang over-supply mencari pasar alternatif, dan salah satunya adalah Indonesia. Jadi turunnya daya saing ini lebih karena tekanan eksternal, bukan lemahnya sektor industri dalam negeri,” tambahnya.

Laporan WCR 2025 yang disampaikan IMD mencatat bahwa pascapandemi, Indonesia sempat menunjukkan performa impresif dengan lonjakan peringkat selama tiga tahun berturut-turut, dari posisi 44 pada 2022, naik ke posisi 34 pada 2023, dan menyentuh posisi 27 pada 2024. Namun pada 2025, tren positif itu terhenti karena faktor eksternal yang tak bisa dikendalikan sepenuhnya oleh pemerintah.

Direktur World Competitive Center IMD, Arturo Bris, menjelaskan bahwa penurunan daya saing ini tidak hanya dialami Indonesia, tetapi juga sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara. Perang tarif global dinilai menekan performa ekspor dan mempersempit pasar internasional, sehingga berdampak pada banyak indikator yang digunakan dalam penilaian WCR.

Baca Juga: Kemenperin Galakkan Gerakan Beli Produk Lokal

“Indonesia sempat mendapat keuntungan dari tingginya ekspor migas dan komoditas pada masa pemulihan pandemi. Namun kini, tekanan eksternal membuat daya saing anjlok. Tantangannya adalah bagaimana Indonesia membangun ketahanan ekonomi jangka panjang yang mampu bertahan dalam situasi global yang tidak pasti,” kata Bris.

Penilaian WCR dilakukan berdasarkan 262 indikator yang terdiri atas 170 data statistik dan 92 hasil survei terhadap 6.162 eksekutif bisnis di berbagai negara. Di Indonesia sendiri, salah satu catatan penting dari survei tersebut adalah adanya kekhawatiran mengenai kurangnya peluang ekonomi yang dinilai mendorong polarisasi sosial.

Sebanyak 66,1 persen eksekutif Indonesia menyebut keterbatasan kesempatan ekonomi sebagai akar persoalan utama. Mereka menyoroti kurangnya infrastruktur, lemahnya lembaga negara, dan keterbatasan talenta sumber daya manusia (SDM) sebagai faktor yang menghambat daya saing nasional.

Lembaga Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LM FEB UI), sebagai mitra penelitian WCR di Indonesia, mendorong pemerintah untuk fokus pada pembangunan tenaga kerja yang lebih produktif serta integrasi kebijakan dari hulu ke hilir. Mereka menilai kebijakan industri dan ekonomi harus berjalan harmonis agar memberikan dampak positif bagi peringkat daya saing di masa depan.

“Efisiensi pemerintah tidak bisa lagi menjadi sekadar jargon. Ini harus diwujudkan dalam kebijakan konkret untuk memperkuat ketahanan ekonomi dan menarik investasi berkualitas,” ujar Bris.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Andi Syafriadi