Elon Musk Kecam RUU Pajak Trump, Sebut Ancam Industri Masa Depan AS

AKURAT.CO Ketegangan antara Elon Musk dan Presiden AS Donald Trump kembali mencuat, menyusul kritik pedas Musk terhadap Rancangan Undang-Undang (RUU) pajak baru yang diajukan Senat AS atas dorongan kubu Trump.
RUU tersebut, yang dirancang untuk menghapus berbagai insentif pajak kendaraan listrik dan energi bersih, dinilai Musk sebagai ancaman serius bagi masa depan industri Amerika Serikat.
“RUU ini sangat merusak,” tulis Musk dalam unggahan di platform X, Sabtu (28/6/2025). “Ia (Trump) nampaknya ingin menghancurkan jutaan pekerjaan masa depan dan memberi nafas buatan pada industri masa lalu.”
Baca Juga: Perseteruan Elon Musk dan Donald Trump Bisa Rugikan Tesla hingga SpaceX
RUU ini disebut-sebut akan mengakhiri keringanan pajak konsumen sebesar USD7.500 untuk kendaraan listrik per 30 September 2025. Insentif serupa untuk kendaraan listrik bekas dan komersial juga akan dihentikan pada waktu yang sama.
Pernyataan Musk datang tak lama setelah dirinya memutuskan keluar dari posisi strategis sebagai kepala Departemen Efisiensi dalam pemerintahan Trump.
Hubungan antara keduanya sempat mencair ketika Musk bergabung untuk membantu reformasi birokrasi dan efisiensi anggaran. Namun, dengan munculnya kebijakan yang dinilai Musk "mundur ke belakang", hubungan antara keduanya kembali memanas.
Menurut Musk, pemangkasan insentif tersebut bukan hanya berdampak pada Tesla, tetapi juga terhadap ekosistem industri ramah lingkungan yang tengah berkembang. Ia menilai pemerintah justru memihak pada industri konvensional seperti minyak dan gas.
Baca Juga: Fokus ke Tesla, Elon Musk Resmi Tinggalkan Pemerintahan Trump dengan Kontroversi
Kritik Musk bisa menjadi pukulan balik bagi Trump, yang tengah menggalang dukungan di tengah tahun politik. Apalagi, sektor kendaraan listrik kini telah menjadi titik krusial dalam transformasi ekonomi AS menuju energi bersih.
Meski demikian, RUU tersebut tetap dijadwalkan untuk pemungutan suara awal di Senat dalam waktu dekat. Jika disahkan, Amerika Serikat berpotensi kehilangan daya saing di sektor mobil listrik yang tengah tumbuh pesat, di tengah persaingan global dengan Eropa dan Tiongkok.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026









