Akurat
Pemprov Sumsel

HDF Energy, NEA SEA dan GIZ Kompak Kembangkan Hidrogen Hijau untuk Kapal Feri Antar-Pulau di Tanah Air

Ikhwan Fajar Ramadhan | 13 Oktober 2025, 11:46 WIB
HDF Energy, NEA SEA dan GIZ Kompak Kembangkan Hidrogen Hijau untuk Kapal Feri Antar-Pulau di Tanah Air

AKURAT.CO, HDF Energy (Hydrogène de France), Neuman & Esser South East Asia Ltd. (NEA SEA) dan the Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH, melalui International Hydrogen Ramp-Up Programme (H2Uppp), telah menandatangani perjanjian kerja sama untuk mengevaluasi infrastruktur hidrogen hijau. Itu dilakukan dalam rangka dekarbonisasi transportasi kapal feri penyeberangan antar- pulau di Indonesia.

Kemitraan ini mencerminkan dukungan dari Kementerian Federal Jerman untuk Urusan Ekonomi dan Energi terhadap keterlibatan dunia usaha dalam pengembangan dan perluasan penggunaan hidrogen di negara-negara Global Selatan.

Perjanjian ditandatangani pada Jumat, 10 Oktober dalam acara Indonesia Sustainability Forum 2025 di Jakarta. Ini merupakan tindak lanjut dari Nota Kesepahaman (MoU) yang telah ditandatangani pada April 2025 antara HDF Energy, Kementerian Perhubungan Republik Indonesia (Kemenhub), dan perusahaan listrik negara PLN (Persero), serta ASDP Indonesia Ferry (Persero), bekerja sama dengan International Maritime Organization (IMO).

Baca Juga: Wamen ESDM: Hidrogen Hijau Ulubelu Jadi Game Changer Transisi Energi Nasional

MoU tersebut menjadi landasan bagi dilaksanakannya studi bersama mengenai retrofit kapal feri penyeberangan antar-pulau dengan teknologi propulsi hidrogen, sebagai bagian dari program GreenVoyage2050 milik IMO, yang menandai tonggak sejarah nasional dalam upaya dekarbonisasi sektor maritim Indonesia.

Sebagai negara kepulauan, kondisi geografis kepulauan Indonesia sangat bergantung pada kapal feri antar-pulau. Namun, sebagian besar kapal tersebut masih beroperasi menggunakan jaringan listrik berbasis diesel terpisah yang memiliki kapasitas terbatas untuk mengintegrasikan energi terbarukan.

Hal ini menjadikan upaya dekarbonisasi sektor kelistrikan dan maritim menjadi tantangan, meskipun terdapat manfaat yang jelas dari pengurangan penggunaan diesel, seperti stabilitas biaya, ketahanan energi, dan peningkatan kualitas udara.

Baca Juga: Pembangkit Listrik Hidrogen Segera Hadir Listriki 10 Ribu Rumah Tangga di Sumba

Dalam konteks ini, propulsi berbasis hidrogen menawarkan solusi yang menjanjikan dan efisien secara energi untuk rute kapal penyeberangan jarak pendek hingga menengah, sekaligus mendukung transisi menuju sistem kelistrikan kepulauan yang lebih bersih.

Berdasarkan kerangka kerja tersebut, perjanjian kerja sama baru dibentuk di bawah skema kemitraan publik-swasta (public-private partnership) dalam program H2Uppp milik GIZ. Ini berfokus pada pengembangan rantai nilai infrastruktur hidrogen yang saling melengkapi, mencakup produksi, penyimpanan, transportasi, dan pengisian bahan bakar (bunkering).

Studi ini juga akan menilai bagaimana infrastruktur tersebut dapat diintegrasikan dengan jaringan listrik kepulauan dan sistem energi pelabuhan, yang dibutuhkan untuk menyediakan pasokan energi bagi kapal feri, seperti rute Kupang - Rote di wilayah Indonesia Timur yang dioperasikan oleh ASDP.

Baca Juga: PLN Gandeng Prancis dan PT SMI Kembangkan Hidrogen Hijau untuk Energi Bersih

Di bawah struktur paralel dari dua program yang dipimpin oleh HDF Energy, fokus kerja sama dibagi sebagai berikut:

Pertama, kerja sama IMO – HDF – Kemenhub - ASDP berfokus pada retrofit dan konversi kapal, serta aspek keselamatan dan kesiapan operasional.

Kedua, kerja sama GIZ – HDF – NEA SEA menitikberatkan pada infrastruktur hidrogen dan studi kelayakan teknis-ekonomi, dengan memanfaatkan keahlian Jerman melalui NEA SEA.

Kedua program tersebut secara bersama-sama mendukung satu tujuan yang sama, yaitu untuk mendemonstrasikan kelayakan teknis dan ekonomi kapal feri bertenaga hidrogen, serta membangun model yang dapat direplikasi untuk konteks pulau-pulau kecil di seluruh kepulauan Indonesia, sekaligus menarik minat investasi di sektor ini.

Baca Juga: Strategi PLN NP Dorong Ekosistem Hidrogen Nasional di Indonesia

HDF Energy saat ini tengah mengembangkan 23 pembangkit listrik hidrogen Renewstable di wilayah Indonesia Timur, dengan potensi investasi sebesar 2,3 miliar dolar AS. Fasilitas-fasilitas ini menggabungkan pembangkit listrik tenaga surya dengan penyimpanan energi di lokasi dalam bentuk hidrogen hijau, untuk menyediakan listrik bersih 100 persen yang stabil, dan tidak terputus (non-intermittent) ke jaringan listrik, baik siang maupun malam hari.

Dengan menghasilkan kelebihan hidrogen hijau pada biaya marjinal yang kompetitif, pembangkit Renewstable juga membuka jalan bagi penyediaan hidrogen hijau untuk mendukung dekarbonisasi transportasi maritim.

Hidrogen yang dihasilkan dapat digunakan untuk mengoperasikan sel bahan bakar berdaya tinggi (high-power fuel cells) yang dikembangkan dan diproduksi oleh HDF Energy. Ini menawarkan solusi modular dan andal yang dirancang khusus untuk konversi armada kapal maritim.

Baca Juga: Mahasiswa FTUI Kaji Potensi Hidrogen Alami di Sulawesi, Didorong Jadi Rujukan Kebijakan Nasional

Melalui proyek ini, HDF Energy menerapkan pendekatan terintegrasi yang unik: memproduksi hidrogen hijau kompetitif secara lokal sekaligus menyediakan solusi propulsi kapal tanpa emisi yang berbasis pada teknologi sel bahan bakarnya (fuel cellsl).

Inisiatif ini secara langsung berkontribusi terhadap Peta Jalan Net Zero Emission untuk Sektor Energi dan Peta Jalan Nasional Hidrogen Indonesia, sekaligus memperkuat upaya nasional dalam dekarbonisasi transportasi maritim, meningkatkan ketahanan energi bagi komunitas kepulauan, serta mendorong pengembangan ekosistem hidrogen berkelanjutan.

Mathieu Géze, Director for Asia-Pacific di HDF Energy sekaligus Presiden Direktur PT HDF Energy Indonesia, menyampaikan, kerja sama ini menyatukan keahlian internasional, kepemimpinan nasional, dan penerapan nyata di lapangan.

“Dengan menggabungkan kekuatan IMO, GIZ, NEA SEA, PLN, ASDP dan Kementerian Perhubungan bersama keahlian HDF Energy dalam teknologi hidrogen, kami sedang membuka jalan bagi rute kapal feri bertenaga hidrogen pertama di Indonesia, serta menuju masa depan maritim yang lebih bersih di seluruh kepulauan nusantara,” tuturnya.

Lisa Tinschert, Director of Energy Programme, GIZ Indonesia/ASEAN, menjelaskan, sebagai pusat maritim di kawasan ini, Indonesia menawarkan peluang unik untuk memajukan tujuan bersama dalam menghadapi perubahan iklim.

“Hidrogen hijau berada di inti dari transisi energi, dan melalui H2Uppp, kami mendukung kewirausahaan lokal dan pengembangan proyek guna mendorong pertumbuhan pasar hidrogen global. Dengan menggabungkan teknologi dan konteks lokal, inisiatif ini menciptakan lapangan kerja, mendorong pertumbuhan ekonomi, serta mendukung transfer teknologi yang bernilai,” imbuh Lisa.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.