Bahlil Sebut Impor Migas dari AS Cuma Geser Sumber Pasokan, Tak Tambah Volume
Lukman Nur Hakim Akurat.co | 21 Februari 2026, 15:41 WIB

AKURAT.CO Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan rencana impor energi dari Amerika Serikat (AS) senilai USD15 miliar tidak akan menambah total volume impor migas Indonesia.
Kebijakan tersebut hanya menggeser sumber pasokan dari sejumlah negara lain sebagai bagian dari strategi penyeimbangan neraca perdagangan.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia menjelaskan, komitmen belanja energi tersebut mencakup impor BBM jadi, LPG, dan minyak mentah (crude). Namun secara agregat, volume impor nasional tetap sama seperti sebelumnya.
“Bapak Ibu semua, USD15 miliar yang kita alokasikan untuk membeli BBM di Amerika Serikat, bukan berarti kita menambah volume impor. Namun, kita menggeser sebagian volume impor kita dari beberapa negara,” kata Bahlil dalam konferensi pers, Jumat (20/2/2026) malam.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia menjelaskan, komitmen belanja energi tersebut mencakup impor BBM jadi, LPG, dan minyak mentah (crude). Namun secara agregat, volume impor nasional tetap sama seperti sebelumnya.
“Bapak Ibu semua, USD15 miliar yang kita alokasikan untuk membeli BBM di Amerika Serikat, bukan berarti kita menambah volume impor. Namun, kita menggeser sebagian volume impor kita dari beberapa negara,” kata Bahlil dalam konferensi pers, Jumat (20/2/2026) malam.
Baca Juga: Soal Impor Migas dari AS, Kementerian ESDM Tegaskan Komitmen Stop Impor Solar Tetap Jalan
Bahlil menyebut, realokasi pasokan akan dilakukan dari negara-negara di Asia Tenggara, Timur Tengah, hingga Afrika. Dengan demikian, struktur pemasok energi Indonesia akan berubah, tetapi total kebutuhan impor tetap sesuai perencanaan awal.
Secara keseluruhan, neraca komoditas pembelian BBM dari luar negeri tidak mengalami kenaikan. Pemerintah hanya melakukan diversifikasi dan penyesuaian sumber pasokan guna mendukung keseimbangan perdagangan bilateral.
“Dalam prakteknya nanti, pembelian ini sudah barang tentu akan memperhatikan mekanisme-mekanisme keekonomian yang saling menguntungkan. Baik menguntungkan kepada pihak Amerika Serikat dan badan usahanya, maupun dari pihak Indonesia,” ujar Bahlil.
Diberitakan sebelumnya, Indonesia bakal melakukan impor komoditas minyak dan gas (Migas) dari Amerika Serikat (AS) sebesar USD15 miliar atau sekitar Rp253 triliun.
Adapun, impor tersebut merupakan salah satu poin perjanjian perdagangan timbal balik antara Indonesia dan AS yang ditandatangani pada Jumat (20/2/2026).
Dalam dokumen perjanjian dagang antara AS dan Indonesia, pemerintah akan mendukung dan memfasilitasi pengaturan komersial untuk impor sejumlah komoditas energi utama.
Rinciannya meliputi pembelian LPG senilai USD3,5 miliar, impor minyak mentah sebesar USD4,5 miliar, serta pembelian bensin atau BBM senilai USD7 miliar.
“Indonesia akan mendukung dan memfasilitasi pengaturan komersial untuk mengimpor komoditas energi AS senilai USD15 miliar,” dikutip dari dokumen perjanjian dagang tersebut, Jumat (20/2/2026).
Selain migas, Indonesia juga akan meningkatkan impor batubara metalurgi dari AS guna mendukung industri baja dan proses industrialisasi dalam negeri.
Bahlil menyebut, realokasi pasokan akan dilakukan dari negara-negara di Asia Tenggara, Timur Tengah, hingga Afrika. Dengan demikian, struktur pemasok energi Indonesia akan berubah, tetapi total kebutuhan impor tetap sesuai perencanaan awal.
Secara keseluruhan, neraca komoditas pembelian BBM dari luar negeri tidak mengalami kenaikan. Pemerintah hanya melakukan diversifikasi dan penyesuaian sumber pasokan guna mendukung keseimbangan perdagangan bilateral.
“Dalam prakteknya nanti, pembelian ini sudah barang tentu akan memperhatikan mekanisme-mekanisme keekonomian yang saling menguntungkan. Baik menguntungkan kepada pihak Amerika Serikat dan badan usahanya, maupun dari pihak Indonesia,” ujar Bahlil.
Diberitakan sebelumnya, Indonesia bakal melakukan impor komoditas minyak dan gas (Migas) dari Amerika Serikat (AS) sebesar USD15 miliar atau sekitar Rp253 triliun.
Adapun, impor tersebut merupakan salah satu poin perjanjian perdagangan timbal balik antara Indonesia dan AS yang ditandatangani pada Jumat (20/2/2026).
Dalam dokumen perjanjian dagang antara AS dan Indonesia, pemerintah akan mendukung dan memfasilitasi pengaturan komersial untuk impor sejumlah komoditas energi utama.
Rinciannya meliputi pembelian LPG senilai USD3,5 miliar, impor minyak mentah sebesar USD4,5 miliar, serta pembelian bensin atau BBM senilai USD7 miliar.
“Indonesia akan mendukung dan memfasilitasi pengaturan komersial untuk mengimpor komoditas energi AS senilai USD15 miliar,” dikutip dari dokumen perjanjian dagang tersebut, Jumat (20/2/2026).
Selain migas, Indonesia juga akan meningkatkan impor batubara metalurgi dari AS guna mendukung industri baja dan proses industrialisasi dalam negeri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








