Sudah Saatnya Indonesia Bangun Ekonomi ‘Skala Manusia’

AKURAT.CO Gagasan ekonom E.F. Schumacher tentang Small is Beautiful kembali menemukan relevansinya di tengah laju pembangunan Indonesia yang kian masif.
Di tengah euforia pertumbuhan ekonomi, hilirisasi tambang, dan ekspansi kota-kota besar, muncul pertanyaan mendasar: apakah arah pembangunan kita masih berpihak pada manusia dan alam?
Petani regeneratif dan praktisi permakultur, Wirendra Tjakrawerdaja, menilai Indonesia perlu melakukan koreksi mendasar terhadap cara pandang ekonomi yang terlalu menitikberatkan pada skala besar dan pertumbuhan tanpa batas.
“Kita sering mengira masalah produksi sudah selesai hanya karena angka GDP naik. Padahal, kita sedang menguras modal alam seolah-olah itu pendapatan rutin. Ini kesalahan akuntansi yang berbahaya,” ujarnya, Selasa (3/3/2026).
Menurut Wirendra, praktik hilirisasi nikel, ekspansi tambang batubara, hingga pembukaan hutan untuk perkebunan skala besar memang menghasilkan devisa dan lapangan kerja.
Namun di sisi lain, model ini berisiko mengorbankan daya dukung ekologis dalam jangka panjang.
Ia mengingatkan bahwa manusia bukanlah “produsen utama”, melainkan hanya pengelola sumber daya yang disediakan alam.
Jika eksploitasi melampaui batas toleransi alam, maka kerusakan ekologis dan krisis sosial hanyalah soal waktu.
“Kita tidak bisa terus-menerus mengejar pertumbuhan tanpa batas di bumi yang terbatas. Itu bukan kemajuan, itu kegilaan ekonomi,” tegasnya.
Baca Juga: DPR Kritik Kenaikan Harga BBM saat Ramadan: Bebani Rakyat di Tengah Ekonomi Lesu
Kritik atas Gigantisme
Fenomena megapolitan seperti Jakarta dan kota-kota satelitnya dinilai sebagai contoh pembangunan yang terjebak dalam “gigantisme”.
Skala yang terlalu besar, kata Wirendra, justru menciptakan ketidakseimbangan: desa kehilangan talenta muda, kota kelebihan beban infrastruktur.
“Keberhasilan daerah tidak diukur dari gedung pencakar langit atau jumlah penduduk, tetapi dari kualitas hidup warganya. Skala yang terlalu besar seringkali membuat manusia kehilangan makna dan kendali,” ujarnya.
Dalam pandangannya, pembangunan yang sehat justru bertumpu pada unit-unit kecil yang tangguh dan mandiri—desa produktif, UMKM berbasis komunitas, serta ekonomi lokal yang kuat.
Sebagai praktisi permakultur, Wirendra mendorong konsep production by the masses, bukan mass production.
Ia menilai sektor UMKM dan pertanian lokal memiliki potensi besar jika didukung teknologi tepat guna yang ramah lingkungan dan terjangkau.
“Teknologi harus punya wajah manusia. Alat yang memperkuat kreativitas petani dan perajin itu berbeda dengan mesin raksasa yang hanya menjadikan manusia pelayan sistem,” katanya.
Pendekatan teknologi perantara—yang lebih produktif dari alat tradisional namun tidak sekompleks dan semahal teknologi industri besar—dinilai bisa menjadi solusi pengangguran struktural di desa. Dengan begitu, masyarakat tidak perlu bermigrasi ke kota demi mencari nafkah.
Wirendra juga menyoroti sistem pendidikan yang dinilainya terlalu teknokratis. Menurutnya, pendidikan saat ini cenderung menghasilkan lulusan dengan keterampilan teknis tinggi, tetapi minim kesadaran ekologis dan etika sosial.
“Pendidikan bukan sekadar paspor untuk mengejar kekayaan materi. Ia harus menjadi jalan pencarian kebijaksanaan,” katanya.
Tanpa landasan nilai dan spiritualitas, pembangunan ekonomi berisiko berubah menjadi eksploitasi yang terencana dengan rapi.
Ia menegaskan bahwa Indonesia perlu keberanian moral untuk mengatakan “tidak” pada model pembangunan yang destruktif.
Reorientasi menuju kesederhanaan, stabilitas, dan keberlanjutan dinilai sebagai langkah mendesak.
Baca Juga: KPK Selidiki Peran PT Karabha Digdaya dalam Kasus Sengketa Lahan di Depok
Strategi pembangunan nasional, menurut Wirendra, seharusnya bergeser dari dominasi korporasi raksasa menuju pemberdayaan unit ekonomi kecil yang adaptif dan berbasis komunitas.
“Kalau kita sungguh-sungguh ingin berkelanjutan, kita harus kembali ke skala manusia. Bumi ini terbatas, tapi potensi spiritual dan kreativitas manusia tidak,” ujarnya.
Di tengah krisis iklim dan ketimpangan sosial yang kian nyata, pesan tersebut terasa semakin relevan: mungkin benar, seperti yang pernah diingatkan Schumacher, bahwa pada akhirnya—kecil itu indah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 3Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal





