Akurat
Pemprov Sumsel

Akui Kekurangan Insinyur, Airlangga: RI Butuh Tambahan 150 Ribu Engineer hingga 6 Tahun ke Depan Untuk Industri Digital

Yosi Winosa | 4 Maret 2026, 18:13 WIB
Akui Kekurangan Insinyur, Airlangga: RI Butuh Tambahan 150 Ribu Engineer hingga 6 Tahun ke Depan Untuk Industri Digital
Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto

AKURAT.CO Menko Perekonomian RI, Airlangga mengungkapkan bahwa Indonesia masih mengalami kekurangan jumlah insinyur ataupun sarjana teknik (engineers), terutama karena Pemerintah sedang mendorong pengembangan industri semikonduktor.

Indonesia membutuhkan tambahan sekitar 45% dari jumlah engineer yang ada sekarang. Kemudian spesifik untuk industri semikonduktor, dibutuhkan sekitar 15 ribu engineers.

"Dan kalau untuk industri digital ya mungkin kita butuh tambahan itu sekitar 150 ribu engineers dalam satu tahun sampai dengan 6 tahun ke depan,” ungkap Airlangga di sela World Engineering Day 2026 di Jakarta, Rabu (4/3/2026).

Baca Juga: Taiwan Terbitkan Surat Penangkapan CEO OnePlus, Diduga Rekrut Puluhan Insinyur Secara Ilegal

Pemerintah, melalui Kementerian Ketenagakerjaan, juga sudah mendorong program pelatihan vokasi untuk retraining dan reskilling. Kemudian, dengan program yang kemarin di London sudah ditandatangani antara Danantara dan ARM Limited, terakit pelatihan untuk 15 ribu engineers kepada ekosistem ARM.

"Jadi, kita sekarang lebih spesifik lagi mencari kebutuhan engineer untuk industri-industri yang didorong Pemerintah,” tutur Airlangga.

Indonesia telah menunjukkan dirinya sebagai negara pertama di kawasan ASEAN yang berhasil menyelesaikan UNESCO AI Readiness Assessment.

Ini berarti bahwa Indonesia bukan hanya konsumen dari teknologi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI), melainkan juga menjadi negara yang secara sistematis mempersiapkan kerangka hukum, etika, dan sosial untuk menjadi tuan rumah generasi inovasi berikutnya.

Industri yang cepat mengadopsi AI terlihat memperoleh pendapatan tiga kali lebih tinggi daripada industri yang lebih lambat beradaptasi, dengan peningkatan produktivitas dari 8,5% menjadi 27%.

Secara global, AI diproyeksikan akan berkontribusi sebesar USD15,7 triliun bagi perekonomian di 2030. Khusus untuk Indonesia, AI Generatif saja berpotensi menambah kontribusi sebesar USD243,5 miliar.

“Indonesia adalah pasar potensial yang sangat besar di masa depan dan dunia sedang berinvestasi di Indonesia. Meskipun Indonesia menjadi pasar AI yang utama, juga harus dipastikan bahwa kita bukan hanya konsumen teknologi canggih saja, tetapi juga sebagai pencipta dan pemiliknya,” ucap Airlangga.

Tidak ada satu negara pun yang dapat membangun planet yang berkelanjutan sendirian.

Oleh karena itu, dalam perayaan World Engineering Day 2026 ditegaskan kembali bahwa misi engineering bukan hanya tentang inovasi, melainkan juga tentang tanggung jawab dalam membentuk dunia yang lebih cerdas, lebih hijau, dan lebih berkelanjutan untuk generasi mendatang.

“Saya ingin mengajak Persatuan Insinyur Indonesia (PII) untuk semakin berpartisipasi aktif dalam menyukseskan misi ini. Yaitu untuk memobilisasi para insinyur atau sarjana teknik kita, memperkuat standar profesional, mempercepat sertifikasi, mempromosikan praktik engineering yang beretika, dan mendukung pengembangan semikonduktor, AI, dan teknologi hijau di seluruh Indonesia,” tutur Airlangga.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.