Genjot Produksi Jagung, Pemerintah Tebar Program Benih Gratis

AKURAT.CO Pemerintah mempercepat upaya peningkatan produksi jagung nasional melalui program benih jagung gratis untuk lahan hingga 1 juta hektare.
Kebijakan ini disiapkan Kementerian Pertanian (Kementan) sebagai strategi memperkuat ketahanan pangan dan mengurangi ketergantungan impor komoditas jagung di tengah dinamika pasokan global.
Program tersebut menjadi bagian dari langkah besar pemerintah dalam mendorong swasembada jagung nasional, sekaligus memperkuat produktivitas petani melalui dukungan input pertanian yang lebih terjangkau.
Baca Juga: Jelang Lebaran 2026, Pemerintah Salurkan 242 Ribu Ton Jagung Pakan
Selain penyediaan benih gratis, pemerintah juga memperkuat infrastruktur irigasi, distribusi pupuk bersubsidi, hingga jaminan harga panen agar petani memperoleh kepastian usaha.
Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono mengatakan, peningkatan produksi pertanian tidak bisa berdiri pada satu faktor saja. Menurutnya, keberhasilan sektor ini sangat bergantung pada empat komponen utama yang saling berkaitan.
Empat Pilar Utama Pembangunan Pertanian
Sudaryono menegaskan pembangunan sektor pertanian ditopang oleh empat elemen kunci, yaitu ketersediaan benih, irigasi, pupuk, dan kepastian harga panen.
“Dalam pertanian ada empat hal yang menjadi pokok penting, yaitu benih, air atau irigasi, pupuk, dan setelah panen harganya harus dibeli dengan harga yang baik,” kata Sudaryono saat menghadiri kegiatan penanaman jagung serentak Kuartal I 2026 di Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Senin (9/3/2026).
Sudaryono menjelaskan pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk memastikan seluruh komponen tersebut tersedia secara optimal di tingkat petani.
Salah satu langkah utama adalah penyediaan benih jagung gratis untuk memperluas area tanam nasional. “Kementerian Pertanian menyiapkan benih jagung gratis untuk 1 juta hektare lahan dari total sekitar 2,5 juta hektare lahan jagung nasional,” ujar Sudaryono.
Selain penyediaan benih, pemerintah juga memperkuat infrastruktur pertanian melalui revitalisasi jaringan irigasi nasional.
Sudaryono menyebut pemerintah telah mengalokasikan anggaran besar untuk mendukung program tersebut. “Presiden telah menganggarkan Rp12 triliun untuk revitalisasi jaringan irigasi primer, sekunder, dan tersier pada 2025, dan program ini akan terus dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya,” jelasnya.
Revitalisasi irigasi dinilai penting untuk memastikan ketersediaan air bagi lahan pertanian, sekaligus meningkatkan intensitas tanam di berbagai wilayah sentra produksi pangan.
Distribusi Pupuk Disederhanakan, Harga Dipangkas 20 Persen
Pemerintah juga melakukan reformasi distribusi pupuk bersubsidi agar lebih mudah diakses petani. Dalam skema terbaru, kuota pupuk dipastikan terpenuhi dan mekanisme distribusinya dibuat lebih sederhana.
“Pupuk bersubsidi kuotanya dipenuhi dan mekanisme distribusinya disederhanakan. Bahkan diberikan tambahan pengurangan harga sekitar 20 persen,” kata Sudaryono.
Langkah ini diharapkan dapat menurunkan biaya produksi petani sekaligus meningkatkan produktivitas lahan jagung nasional. Untuk memastikan petani tetap memperoleh keuntungan, pemerintah juga menetapkan harga pembelian hasil panen.
Sudaryono menegaskan pemerintah telah menetapkan harga acuan untuk beberapa komoditas pangan utama. “Pemerintah telah menetapkan harga pembelian panen Rp6.500 per kilogram untuk padi dan Rp5.500 per kilogram untuk jagung,” ujarnya.
Kebijakan tersebut diharapkan dapat menjaga stabilitas harga di tingkat petani sekaligus mendorong peningkatan produksi pangan nasional.
Potensi Jagung di Lahan Sawit Kalimantan Tengah
Dalam kesempatan yang sama, Kapolda Kalimantan Tengah Iwan Kurniawan melaporkan perkembangan pengembangan jagung di wilayahnya melalui sistem tumpang sari di lahan perkebunan kelapa sawit.
Menurutnya, luas perkebunan sawit di Kalimantan Tengah mencapai sekitar 2,1 juta hektare, sehingga membuka peluang besar untuk memanfaatkan lahan sela sebagai area budidaya jagung.
Namun, ia menekankan petani masih membutuhkan dukungan alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk meningkatkan produktivitas. “Kami juga membutuhkan dukungan dryer dan peralatan pendukung budidaya jagung agar produktivitas petani bisa meningkat,” kata Iwan.
Menanggapi laporan tersebut, Sudaryono memastikan pemerintah akan segera menindaklanjuti kebutuhan tersebut.
“Saya minta tenaga ahli segera mem-follow up kebutuhan alsintan, termasuk pembinaan jagung di kebun kelapa sawit. Ini salah satu upaya peningkatan produksi jagung, terutama pada kebun sawit yang masih muda,” ujarnya.
Penanaman Jagung Serentak Perkuat Swasembada Pangan
Sementara itu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan program penanaman jagung serentak merupakan bagian dari strategi nasional memperkuat kemandirian pangan Indonesia.
“Kegiatan penanaman jagung serentak ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden dalam memperkuat swasembada pangan. Kita harus memanfaatkan seluruh potensi yang dimiliki agar Indonesia semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangannya,” kata Sigit.
Dirinya mengungkapkan program penanaman jagung secara nasional telah mencapai ratusan ribu hektare. “Kita telah menanam lebih dari 600 ribu hektare dengan potensi produksi sekitar 3,9 hingga 4 juta ton. Ke depan targetnya mencapai penanaman hingga 1 juta hektare bahkan lebih,” jelasnya.
Program penanaman jagung serentak melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat keamanan, hingga petani di berbagai wilayah.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperkuat produksi jagung nasional, mengurangi ketergantungan impor, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini











