Akurat
Pemprov Sumsel

SPPG Dorong Ekonomi Lokal dan Semangat Belajar Anak di Daerah

Saeful Anwar | 19 Maret 2026, 21:44 WIB
SPPG Dorong Ekonomi Lokal dan Semangat Belajar Anak di Daerah
Petugas SPPG sedang menyiapkan menu MBG.

AKURAT.CO Di tengah upaya Badan Gizi Nasional (BGN) memperketat standar mutu dan evaluasi Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG), sejumlah daerah justru menunjukkan kisah sukses implementasi program yang berdampak luas, tidak hanya pada gizi anak tetapi juga ekonomi lokal.

Sejumlah SPPG kini tidak lagi sekadar berfungsi sebagai dapur umum, melainkan berkembang menjadi penggerak ekonomi desa sekaligus pendukung keberlangsungan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Salah satu contoh datang dari SPPG Kadi Wano di Wewewa Timur, Sumba Barat Daya. Di bawah pengelolaan Edwin Putra Kadege, program ini dinilai mampu meningkatkan semangat belajar anak-anak.

“Banyak anak datang ke sekolah tanpa sarapan karena keterbatasan ekonomi. Kini mereka lebih bersemangat, meski jarak tempuh ke sekolah cukup jauh,” ujarnya.

Temuan tersebut sejalan dengan hasil riset Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) terkait dampak awal program MBG.

Survei terhadap 1.800 orang tua di sejumlah wilayah Jawa Tengah menunjukkan sekitar 50 persen responden menilai anak menjadi lebih ceria, sementara 48 persen menyebut anak lebih jarang sakit.

Direktur RISED, M. Fajar Rachmadi, mengatakan program MBG memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan anak.

“Sekitar separuh responden melihat anak mereka lebih ceria dan lebih jarang sakit setelah menerima MBG,” ujarnya, Kamis (19/3/2026).

Baca Juga: Lebih dari 1.000 Dapur MBG Ditutup Sementara Karena Tak Sesuai Standar

Sinergi dengan Petani Lokal

Selain berdampak pada gizi anak, SPPG juga mendorong perputaran ekonomi lokal.

Di SPPG Kadi Wano, kebutuhan bahan pangan seperti sayur-mayur dipasok langsung oleh petani setempat, menciptakan ekosistem ekonomi yang saling menguntungkan.

Model serupa juga diterapkan di SPPG Cibuntu, Kecamatan Taraju, Tasikmalaya. Dengan tingkat pemenuhan bahan pangan lokal mencapai 85 persen, SPPG ini melibatkan petani, pedagang pasar, hingga karang taruna.

Mitra SPPG Cibuntu, Tino Rirantino, menyebut program ini turut mendorong perubahan pola tanam petani.

“SPPG menjadi jembatan strategis. Petani kini memiliki pasar yang jelas untuk hasil panennya,” ujarnya.

Keberadaan SPPG bahkan memicu peningkatan produksi lokal, termasuk mendorong petani menanam komoditas baru seperti buah-buahan yang sebelumnya didatangkan dari luar daerah.

Lebih dari Sekadar Program Gizi

Keberhasilan SPPG tidak hanya diukur dari aspek ekonomi, tetapi juga dampak sosial yang dihasilkan.

Pengelola dituntut menjaga kualitas makanan, higienitas dapur, serta menyesuaikan menu dengan kebutuhan gizi dan selera lokal agar makanan dapat dikonsumsi optimal oleh anak-anak.

Kolaborasi dengan pihak sekolah juga menjadi kunci, termasuk melibatkan guru dalam proses distribusi untuk memastikan setiap siswa mendapatkan perhatian yang merata.

Di SPPG Cibuntu, program ini bahkan diperluas melalui kegiatan tanggung jawab sosial dengan memberikan bantuan sarana dan prasarana bagi siswa yatim dan yatim piatu.

Baca Juga: Cara Memperbaiki Data yang Salah di Akun LPDP Setelah Submit

Kisah-kisah tersebut menunjukkan bahwa program MBG melalui SPPG tidak hanya berfungsi sebagai intervensi gizi, tetapi juga telah berkembang menjadi penggerak ekonomi dan sosial di tingkat lokal, sekaligus memperkuat ekosistem kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.