Kadin Ungkap 3 Sektor Ini Paling Pede di Tengah Tekanan Global

AKURAT.CO Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mencatat penurunan tajam sentimen bisnis pada kuartal I-2026.
Namun di tengah tekanan global, tiga sektor informasi dan komunikasi, jasa pendidikan, serta industri pengolahan justru tetap menunjukkan optimisme tinggi.
Direktur Insights Kadin Indonesia Institute, Fakhrul Fulvian, mengatakan hasil survei Business Pulse terbaru menunjukkan adanya pergeseran persepsi pelaku usaha.
Baca Juga: Tanggapi Pelemahan Rupiah, Bos Kadin: Faktor Dinamika Likuiditas Globak Bukan Fundamental Ekonomi RI
"Sektor yang paling optimis itu ada tiga, informasi komunikasi, jasa pendidikan dan industri pengolahan, itu paling optimis daripada yang lain," ujar Fakhrul di Jakarta, Jumat (24/4/2026).
Survei yang dilakukan pada pertengahan Maret hingga awal April 2026 terhadap 210 anggota Kadin di 27 provinsi menunjukkan bahwa proporsi pelaku usaha yang menilai kondisi bisnis membaik turun dari 39,3% menjadi 25,2%.
Sementara yang menilai kondisi memburuk naik menjadi 40,5% dan rencana investasi turun dari 47% menjadi 38,9%
Penurunan ini dipicu oleh kombinasi tekanan eksternal dan domestik, termasuk pelemahan permintaan, kenaikan biaya operasional, serta daya beli masyarakat yang belum pulih penuh.
Awal 2026 ditandai dengan meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, mulai dari gangguan rantai pasok, volatilitas harga komoditas, hingga tekanan nilai tukar di pasar negara berkembang.
Secara historis, pola pelemahan sentimen bisnis seperti ini juga sempat terjadi pada periode pasca-pandemi 2020–2021, ketika dunia usaha menghadapi disrupsi serupa. Namun, berbeda dengan periode tersebut, saat ini terjadi polarisasi sektor di mana tidak semua industri terdampak secara merata.
Survei Kadin mencatat sektor yang berbasis teknologi, pendidikan, dan manufaktur domestik cenderung lebih adaptif terhadap tekanan global dan geopolitik.
Dampak Turunnya Sentimen Bisnis
Penurunan sentimen bisnis berimplikasi langsung pada strategi pelaku usaha.
Mayoritas perusahaan kini memilih langkah defensif, termasuk menahan ekspansi bisnis, memprioritaskan efisiensi biaya hingga menjaga likuiditas perusahaan
Selain itu, persepsi terhadap kebijakan pemerintah sebagai tantangan meningkat signifikan dari 0,3% menjadi 16,7%, terutama terkait isu perubahan kebijakan lingkungan, subsidi energi dan regulasi sektoral.
Di sisi lain, sektor perdagangan besar, jasa perusahaan, serta pertambangan dan penggalian menunjukkan tingkat pesimisme lebih tinggi akibat tekanan rantai pasok dan ketidakpastian regulasi.
Meski demikian, kesiapan menghadapi risiko global relatif terjaga. Sebanyak 36% pelaku usaha menyatakan siap menghadapi konflik geopolitik, sementara 32% menilai kondisi masih normal.
Kadin menilai kepercayaan dunia usaha ke depan akan sangat bergantung pada konsistensi kebijakan pemerintah, stabilitas harga energi, serta dukungan fiskal.
Pelaku usaha juga mulai melihat peluang dari transformasi digital, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), sebagai sumber pertumbuhan baru.
"Kebutuhan utama dunia usaha saat ini adalah dukungan pemerintah, terutama dalam bentuk subsidi dan insentif fiskal, serta kemudahan akses pembiayaan guna menjaga stabilitas bisnis," kata Fakhrul.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal










