Jelang Idul Adha, Bulog: Harga Beras dan Minyakita Terkendali

AKURAT.CO Perum Bulog menegaskan cadangan beras pemerintah (CBP) telah menembus lebih dari 5 juta ton, menjadi basis intervensi pasar untuk menjaga stabilitas harga pangan nasional menjelang Idul Adha 2026.
Wakil Direktur Utama Perum Bulog, Marga Taufiq menyatakan, stok beras dan minyak goreng saat ini dalam kondisi aman serta distribusi berjalan normal di berbagai daerah.
“Tugas kami adalah memastikan masyarakat memperoleh bahan pangan dengan harga wajar dan pasokan yang cukup,” ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (30/4/2026).
Baca Juga: Swasembada di Era Presiden Prabowo Terbukti, Dony Oskaria: Bulog Sampai Kekurangan Gudang!
Dalam inspeksi mendadak di Pasar Sei Sikambing, Medan, Bulog memastikan beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta Minyakita dijual sesuai harga eceran tertinggi (HET).
Untuk beras medium, HET ditetapkan Rp13.500 per kg, premium Rp14.900 per kg, sementara SPHP berada di kisaran Rp12.500–Rp13.500 per kg tergantung zona. Adapun Minyakita dipatok Rp15.700 per liter.
“Dari hasil pemantauan itu, stok pangan khususnya beras SPHP dan Minyakita dalam kondisi aman, distribusi berjalan lancar, serta harga relatif terkendali sesuai HET," tegas Marga.
Bulog menargetkan penyaluran beras SPHP sepanjang 2026 mencapai 828 ribu ton. Penugasan ini merujuk pada Surat Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 204/TS.03.03/K/2/2026.
Selain distribusi, Bulog juga mengoptimalkan penyerapan gabah petani pada puncak panen April–Mei 2026 untuk menjaga keberlanjutan stok nasional. Langkah ini menjadi krusial untuk memastikan pasokan tetap stabil di tengah fluktuasi produksi musiman.
Stabilisasi harga beras menjadi fokus pemerintah dalam beberapa tahun terakhir, terutama pasca lonjakan harga pada periode 2023–2024 akibat gangguan produksi dan distribusi. Program SPHP kemudian diperkuat sebagai instrumen intervensi langsung ke pasar.
Keberadaan cadangan beras di atas 5 juta ton saat ini menjadi salah satu level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, yang memberi ruang lebih besar bagi pemerintah untuk meredam gejolak harga.
Ketersediaan stok besar dan distribusi yang terjaga berpotensi menahan inflasi pangan, yang selama ini menjadi kontributor utama inflasi nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau secara konsisten menyumbang inflasi bulanan.
Baca Juga: Presiden Prabowo Sidak Gudang Bulog Magelang, Pastikan Stok Beras Aman
Dengan harga beras SPHP yang berada di bawah pasar, intervensi ini juga menjaga daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah yang paling sensitif terhadap kenaikan harga pangan.
Namun, Bulog mencatat masih ada temuan minor di lapangan, seperti harga sedikit di atas HET akibat kendala teknis.
“Temuan tersebut bukan indikasi kenaikan harga dasar, melainkan faktor operasional seperti ketersediaan uang kembalian,” kata Marga.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal










