Akurat Logo

Ekonomi Kicau Tembus Rp2 Triliun, Pemerintah Dorong Industri Turunan

Esha Tri Wahyuni | 4 Mei 2026, 09:40 WIB
Ekonomi Kicau Tembus Rp2 Triliun, Pemerintah Dorong Industri Turunan
Menteri Perdagangan, Budi Santoso

AKURAT.CO Menteri Perdagangan, Budi Santoso mengungkapkan, nilai ekonomi ekosistem burung kicau di Indonesia kini mencapai Rp1,7 triliun hingga Rp2 triliun. Angka ini mencerminkan besarnya perputaran ekonomi dari aktivitas lomba hingga industri turunannya.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam Festival Lomba Burung Berkicau dan Kuliner UMKM di Jakarta, Minggu. Selain pasar domestik, pemerintah juga mencatat ekspor burung hias mencapai Rp12,5 miliar pada tahun sebelumnya.

“Nilai ekonomi di balik kicau burung itu sekitar Rp1,7 sampai Rp2 triliun. Ekspor burung hias tahun lalu sekitar Rp12,5 miliar,” ujar Budi dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (4/5/2026).

Baca Juga: Kemendag Siapkan 3 Jurus Agar Produk Halal UMKM RI Kian Mendunia

Busan menegaskan, tren peningkatan lomba burung berkicau di berbagai daerah menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi sektor ini. Semakin sering lomba digelar, semakin besar pula perputaran uang yang terjadi.

Budi menjelaskan, industri burung kicau tidak hanya berhenti pada aktivitas hobi, tetapi telah berkembang menjadi ekosistem ekonomi yang melibatkan banyak sektor.

Mulai dari peternak burung, pelaku breeding, produsen pakan, pembuat sangkar, hingga peternak jangkrik sebagai pakan alami, seluruhnya mengalami peningkatan permintaan.

“Peternaknya semakin banyak, breeding semakin berkembang, pembuat sangkar, pabrik pakan, sampai peternak jangkrik ikut tumbuh,” jelasnya.

Data ini sejalan dengan tren ekonomi berbasis komunitas (community-driven economy), di mana aktivitas hobi berkembang menjadi industri mikro dan menengah yang berkontribusi pada ekonomi lokal.

Fenomena burung kicau bukan hal baru di Indonesia. Tradisi memelihara burung telah berlangsung sejak dekade 1980-an, namun mengalami transformasi signifikan dalam 10–15 tahun terakhir.

Baca Juga: Pramono Anung Segera Tindaklanjuti Penggantian Ketua DPRD Jakarta ke Kemendagri

Lonjakan terjadi seiring meningkatnya jumlah kontes burung berkicau yang terorganisir secara profesional, dengan hadiah mencapai ratusan juta rupiah per event. Hal ini menciptakan pasar baru yang lebih terstruktur.

Menurut data komunitas dan asosiasi perburungan nasional, jumlah event lomba burung meningkat signifikan pascapandemi, seiring pulihnya aktivitas sosial masyarakat.

Transformasi ini juga ditopang oleh digitalisasi, di mana jual beli burung, pakan, dan perlengkapan kini banyak dilakukan melalui platform online, memperluas jangkauan pasar.

Pertumbuhan industri burung kicau memberikan efek berganda (multiplier effect) terhadap sektor riil, khususnya UMKM.

Beberapa dampak utama yang teridentifikasi:

  • Peningkatan jumlah peternak: Breeding burung menjadi sumber pendapatan baru di daerah.

  • Lonjakan permintaan pakan: Industri pakan dan serangga seperti jangkrik ikut berkembang.

  • Pertumbuhan UMKM: Pengrajin sangkar dan aksesoris burung mengalami peningkatan omzet.

  • Perputaran ekonomi event: Lomba burung menggerakkan sektor kuliner, transportasi, hingga pariwisata lokal

Dalam konteks makro, angka Rp2 triliun menunjukkan sektor ini telah masuk kategori ekonomi niche yang signifikan, meski belum tercatat sebagai industri formal skala besar.

Pemerintah juga menyoroti aspek keberlanjutan. Budi menegaskan bahwa burung yang dilombakan merupakan hasil ternak, bukan tangkapan liar.

Hal ini penting mengingat Indonesia memiliki tantangan konservasi burung, dengan sejumlah spesies masuk dalam daftar dilindungi.

“Yang dilombakan adalah burung ternak, bukan burung liar,” tegas Budi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.