Akurat Logo

Potensi Tekan Impor 750 Persen, Reformasi Subsidi DME Jadi Kunci Keberhasilan

Idham Nur Indrajaya | 10 Mei 2026, 12:49 WIB
Potensi Tekan Impor 750 Persen, Reformasi Subsidi DME Jadi Kunci Keberhasilan
Potensi substitusi LPG dengan DME diperkirakan mampu menekan impor hingga 75 persen. Reformasi subsidi energi dan hilirisasi batu bara dinilai jadi kunci keberhasilan transisi energi nasional. Sumber foto: Instagram/miningindustry.id

AKURAT.CO Arsitektur subsidi energi nasional kini berada di persimpangan jalan. Ketergantungan terhadap LPG impor yang kian masif tidak hanya membebani devisa, tetapi juga membuat belanja subsidi dalam APBN menjadi tidak optimal karena lebih banyak digunakan untuk menopang komoditas impor ketimbang menggerakkan sumber daya domestik.

Melansir Laporan Kinerja Ditjen Migas Kementerian ESDM tahun 2025, ketergantungan Indonesia terhadap gas impor terus memburuk dalam lima tahun terakhir.

Porsi impor LPG kini telah mendominasi lebih dari 75% konsumsi nasional. Pada 2021, dari konsumsi 8,36 juta ton, impor mencapai 6,34 juta ton. Angka ini melonjak menjadi 7,49 juta ton impor pada 2025 dari total konsumsi 9,24 juta ton.

"Devisa kita setiap tahun hanya untuk membeli LPG saja itu sekitar Rp120 triliun sampai Rp150 triliun. Apalagi kalau harga minyak dunia naik, pasti lebih besar lagi," ujar Bahlil Lahadalia saat ditemui usai pelantikan pejabat eselon II di Kementerian ESDM di Jakarta pekan ini.

Selain tekanan devisa, Bahlil juga menyoroti beban subsidi LPG di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang terus merangkak.

Kementerian Keuangan mencatat belanja subsidi LPG mencapai Rp67,6 triliun pada 2021, melonjak menjadi Rp100,4 triliun pada 2022, kemudian sebesar Rp74,3 triliun pada 2023, Rp80,9 triliun pada 2024, dan mencapai Rp87 triliun pada 2025.

''Tidak ada cara lain dalam rangka efisiensi selain mencari jalan agar bahan baku yang tersedia di dalam negeri bisa dikonversi untuk mengganti LPG," imbuh Bahlil.

Hilirisasi Batu Bara Jadi Strategi Substitusi LPG

Salah satu strategi yang digenjot guna menutup gap besar impor LPG ialah melalui hilirisasi batu bara kalori rendah menjadi Dimethyl Ether (DME) yang dikembangkan oleh MIND ID, Pertamina, Bukit Asam, dan Pertamina Patra Niaga. Proyek ini telah diresmikan Percepatan Pengembangan Coal to DME oleh Prabowo Subianto dalam Rangkaian Groundbreaking Proyek Hilirisasi Ke-2 di akhir April 2026.

Sejumlah akademisi dan pengamat memberi catatan kritis atas groundbreaking proyek tersebut. Pengamat energi sekaligus Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) Iwa Garniwa menilai keberhasilan DME sebagai substitusi LPG tidak hanya bergantung pada pembangunan pabrik, tapi juga butuh dukungan dari sisi insentif fiskal dan konsistensi kebijakan.

DME kata Iwa perlu disokong oleh kepastian harga batu bara dan stimulus kebijakan berupa subsidi agar harga jualnya lebih terjangkau diterima masyarakat.

''DME sangat sensitif terhadap harga batu bara dan capex gasifikasi itu tinggi. Jika harga batu bara di atas US$60 per ton, DME tidak kompetitif tanpa subsidi,’’ ujar Iwa.

Baca Juga: MIND ID Tegaskan Komitmen Keberlanjutan, Dorong Inovasi Sosial di Wilayah Operasional

Baca Juga: Gandeng Produsen Batu Bara, PLN Dorong Elektrifikasi Tambang dan Green Mining

Reformasi Subsidi dan Diversifikasi Energi Dinilai Krusial

Dalam hal ini, Iwa mendorong dilakukannya reformasi subsidi energi secara bertahap dari komoditas ke individu melalui Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Tanpa reformasi ini, insentif untuk beralih ke jaringan gas (jargas), listrik, atau DME menjadi lemah.

Selain itu, pemerintah diminta mengembangkan indikator kinerja proyek ini. Keberhasilan tidak hanya diukur dari jumlah pabrik DME, melainkan dari penurunan volume impor LPG, penghematan subsidi, dan penurunan intensitas emisi per kapita.

''Diversifikasi energi rumah tangga adalah isu multidimensi yang menyangkut fiskal, ketahanan energi, lingkungan, dan keadilan sosial. Keberhasilannya bergantung pada konsistensi kebijakan lintas periode pemerintahan dan kemampuan mengelola transisi secara berkeadilan," jelas Iwa saat dihubungi.

Baca Juga: Menakar Wacana CNG sebagai Pengganti LPG, Efektifkah?

Baca Juga: Dedi Mulyadi Dorong Biogas hingga Kompor Listrik Imbas Kenaikan Harga LPG Nonsubsidi

Tak hanya itu, pemerintah juga perlu menyusun peta jalan diversifikasi energi rumah tangga berdasarkan karakteristik wilayah.

Misalnya, pemanfaatan jaringan gas bumi (jargas) di kota besar yang dekat dengan jaringan transmisi gas, penggunaan kompor listrik di daerah dengan surplus daya listrik, serta pemanfaatan DME di wilayah non-pipa seperti Sumatera Selatan dan Kalimantan.

Dengan skema tersebut, potensi substitusi LPG diperkirakan dapat mencapai 4,5 juta ton hingga 6,5 juta ton per tahun atau setara 55%-75% dari volume impor LPG saat ini.

Infrastruktur dan Kolaborasi Jadi Penentu Implementasi DME

Selain dukungan kebijakan, Pengamat Energi Migas Hadi Ismoyo juga menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah dan pelaku usaha untuk mengembangkan infrastruktur DME.

''Infrastruktur kompor DME sudah ada di Lemigas. Tidak masalah. Tinggal membuat pabrik skala besar. Danantara bisa kolaborasi dengan Pertamina yang sudah punya jaringan distribusi yang matang dan terukur," ungkap Hadi.


Baca Juga: Bukukan Pendapatan 139 Triliun, Integrasi Hilirisisi MIND ID Dinilai Efektif

Baca Juga: Bahlil Pastikan CNG Disubsidi, Harga Ditargetkan Setara LPG 3 Kg

FAQ

Apa itu DME dan mengapa dianggap sebagai pengganti LPG?

DME atau Dimethyl Ether adalah bahan bakar hasil hilirisasi batu bara kalori rendah yang dapat digunakan sebagai substitusi LPG untuk kebutuhan rumah tangga. DME dinilai potensial karena Indonesia memiliki cadangan batu bara melimpah sehingga bisa mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG.

Mengapa impor LPG menjadi beban bagi Indonesia?

Impor LPG membebani devisa negara karena lebih dari 75 persen kebutuhan LPG nasional masih dipenuhi dari luar negeri. Selain itu, subsidi LPG dalam APBN juga terus meningkat setiap tahun sehingga menambah tekanan fiskal pemerintah.

Bagaimana proyek DME dapat menekan impor LPG?

Pengembangan DME diproyeksikan mampu menggantikan 4,5 juta hingga 6,5 juta ton LPG per tahun. Jika terealisasi optimal, angka tersebut setara dengan 55 hingga 75 persen volume impor LPG saat ini sehingga dapat mengurangi ketergantungan energi dari luar negeri.

Apa tantangan utama pengembangan DME di Indonesia?

Tantangan utama pengembangan DME adalah tingginya biaya investasi gasifikasi batu bara dan sensitivitas harga batu bara. Jika harga batu bara terlalu tinggi, maka harga DME menjadi kurang kompetitif tanpa dukungan subsidi atau insentif pemerintah.

Mengapa reformasi subsidi energi dianggap penting?

Reformasi subsidi energi penting agar bantuan pemerintah lebih tepat sasaran kepada individu melalui DTKS, bukan hanya pada komoditas. Skema ini diyakini dapat memperkuat insentif masyarakat untuk beralih ke energi alternatif seperti DME, jargas, atau kompor listrik.

Wilayah mana yang cocok untuk implementasi DME?

Wilayah non-pipa seperti Sumatera Selatan dan Kalimantan dinilai cocok untuk implementasi DME. Sementara kota besar yang dekat jaringan transmisi gas lebih ideal menggunakan jargas, dan daerah dengan surplus listrik dapat memanfaatkan kompor listrik.

Apa manfaat hilirisasi batu bara bagi ketahanan energi nasional?

Hilirisasi batu bara menjadi DME dapat meningkatkan ketahanan energi nasional karena memanfaatkan sumber daya domestik untuk menggantikan energi impor. Selain menghemat devisa, langkah ini juga berpotensi menciptakan nilai tambah industri dalam negeri dan memperkuat ekonomi nasional.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.