Akurat Logo

Sambut B50, Modernisasi Infrastruktur Mekanis Jadi Penopang Industri Sawit Nasional

Ayu Rachmaningtyas | 11 Mei 2026, 22:50 WIB
Sambut B50, Modernisasi Infrastruktur Mekanis Jadi Penopang Industri Sawit Nasional
Industri kelapa sawit.

AKURAT.CO Industri kelapa sawit Indonesia terus menunjukkan tren positif sepanjang 2026 seiring meningkatnya ekspor, konsumsi domestik, dan dorongan hilirisasi pemerintah.

Kondisi tersebut turut meningkatkan kebutuhan infrastruktur dan komponen mekanis pendukung pengolahan crude palm oil (CPO).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor CPO dan produk turunannya pada Januari–Februari 2026 mencapai US$4,69 miliar atau naik 26,4 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat produksi CPO nasional sepanjang 2025 mencapai 51,66 juta ton atau tumbuh 7,26 persen dibanding tahun sebelumnya.

Jika ditambah produksi palm kernel oil (PKO), total produksi sawit nasional mencapai 56,55 juta ton.

Marketing PT Sinar Bintang Jaya Makmur (SBJM) wilayah Kalimantan Barat, Eko Manalu, mengatakan peningkatan produksi dan ekspor sawit turut mendorong kebutuhan komponen mekanis di pabrik pengolahan.

“Volume ekspor juga meningkat dari 3,33 juta ton menjadi 4,54 juta ton. Indonesia masih mempertahankan posisinya sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia,” kata Eko dalam keterangannya, Senin (11/5/2026).

Menurut dia, kebutuhan terhadap komponen seperti conveyor chain, sprocket, hingga sistem transmisi menjadi semakin penting untuk menjaga efisiensi operasional pabrik pengolahan sawit.

“Sebagai salah satu perusahaan penyedia komponen industri, kami melihat tren ini sebagai peluang untuk memperluas pasar di sektor pengolahan sawit nasional,” ujarnya.

Baca Juga: Nadiem Makarim Sengaja Tutup Telinga ke Dirjen demi Loloskan Pengadaan Chromebook

Melalui merek CULLENS, SBJM menghadirkan berbagai produk pendukung industri seperti conveyor chain, sprocket transmisi, dan chain coupling yang digunakan di sektor sawit maupun industri berat lainnya.

Komponen tersebut memiliki peran vital dalam proses produksi CPO, khususnya pada sistem conveyor yang bekerja hampir tanpa henti selama 24 jam untuk mengangkut tandan sawit dan material pengolahan.

Karena itu, SBJM aktif memperkenalkan produknya melalui berbagai pameran industri, termasuk Palmex Indonesia 2026.

“Palmex memang fokus pada industri kelapa sawit. Kami ingin produk kami lebih dikenal oleh perusahaan-perusahaan sawit di Indonesia,” ucap Eko.

Ia menambahkan, tantangan industri saat ini tidak hanya berkaitan dengan kapasitas produksi, tetapi juga ketahanan peralatan yang digunakan di lapangan.

Karena itu, perusahaan menerapkan standar pengujian material yang mengacu pada Singapura dan Malaysia, termasuk uji tarik dan uji ketahanan.

Di sisi lain, pemerintah terus mendorong hilirisasi sawit guna meningkatkan nilai tambah industri nasional, termasuk melalui perluasan implementasi program biodiesel B50 pada 2026.

“Dengan meningkatnya produksi dan ekspor, sektor manufaktur komponen mekanis diperkirakan akan semakin berperan penting dalam menjaga keberlanjutan operasional industri sawit nasional sekaligus memperkuat daya saing Indonesia di pasar global,” tegasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.