Akurat Logo

Pemerintah Targetkan Groundbreaking Proyek Logam Tanah Jarang Pekan Depan

Lukman Nur Hakim Akurat.co | 12 Mei 2026, 21:32 WIB
Pemerintah Targetkan Groundbreaking Proyek Logam Tanah Jarang Pekan Depan
Logam tanah jarang

AKURAT.CO Pemerintah memastikan groundbreaking atau peletakan batu pertama proyek riset logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth element di Bangka Belitung bakal dilakukan tahun ini.

Kepala Badan Industri Mineral (BIM), Brian Yuliarto mengatakan saat ini proses persiapan groundbreaking proyek tersebut masih terus dipercepat oleh Perminas bersama PT Timah.

“Iya, jadi itu masih dikebut terus ya, nanti Perminas bersama dengan PT. Timah tentunya akan, saat ini sedang kita lakukan persiapan terus-menerus ya,” kata Brian di Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Baca Juga: Pemerintah Matangkan Pengembangan Logam Tanah Jarang di Mamuju

Brian menyebutk, proyek pengembangan LTJ tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat hilirisasi mineral strategis nasional sekaligus mendukung pengembangan industri berbasis mineral kritis di dalam negeri.

Pemerinta, kata Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) menargetkan peletakan batu pertama dapat dilakukan pada 20 Mei 2026. “Kita kejar, di tanggal 20 minggu depan. Tapi memang tahun ini pasti akan mulai dibangun,” ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, PT Timah Tbk. (TINS) menjadwalkan groundbreaking atau peletakan batu perdana pabrik pengolahan Logam Tanah Jarang (LTJ) atau Rare Earth Element (REE) pada 20 Mei 2026. Acara tersebut direncanakan akan dihadiri langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.

Adapun, proyek fasilitas riset dan industri ini merupakan hasil kerja sama strategis antara TINS dengan Perusahaan Mineral Nasional (Perminas).

Direktur Utama PT Timah, Restu Widiyantoro mengatakan, agenda peletakan batu pertama tersebut menjadi tonggak penting dalam penguatan hilirisasi mineral strategis nasional.

“Roadmap-nya untuk menuju tanggal 20 Mei nanti yang direncanakan diresmikan oleh Bapak Presiden. Kami laporkan secara singkat,” kata Restu saat RDP dengan Komisi XII DPR RI dikutip, Selasa (14/4/2026).

Restu menjelaskan, proyek ini merupakan hasil kerja sama antara PT Timah dan Perminas yang baru dimulai dalam beberapa bulan terakhir.

Dalam skema tersebut, PT Timah mendapat tugas sebagai pemasok bahan baku REE yang berasal dari sisa hasil produksi (SHP) timah, sementara Perminas akan memprosesnya menjadi produk turunan bernilai tambah.

“Sisa hasil produksi dari timah itu menjadi bahan utama untuk Perminas yang nanti selanjutnya Perminas akan memproses menjadi produk-produk ikutannya,” ujarnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.