Akurat Logo

RI Jajaki Kerja Sama Modernisasi Alat Pertanian dan Tambang dengan Belarus

Esha Tri Wahyuni | 15 Mei 2026, 16:55 WIB
RI Jajaki Kerja Sama Modernisasi Alat Pertanian dan Tambang dengan Belarus
Airlangga menjajaki kerja sama modernisasi alat pertanian dengan perusahaan Belarus

AKURAT.CO Pemerintah Indonesia mulai mempercepat penjajakan kerja sama industri strategis dengan Belarus di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.

Fokus utama kerja sama diarahkan pada modernisasi alat pertanian, kendaraan komersial, hingga alat berat pertambangan guna memperkuat ketahanan pangan dan hilirisasi industri nasional.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengunjungi sejumlah industri strategis Belarus dalam rangkaian Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-8 RI–Belarus Bidang Kerja Sama Perdagangan, Ekonomi, dan Teknik di Minsk, Kamis (14/5).

Dalam kunjungan tersebut, Airlangga mendatangi tiga perusahaan besar Belarus yakni Minsk Tractor Works (MTZ), MAZ (Minsk Automobile Plant), dan BelAZ Holding Management Company.

Kunjungan dilakukan bersama Wakil Menteri Industri Belarus Leonid Ryzkovsky dan dihadiri sejumlah perwakilan pemerintah, KADIN, hingga APINDO.

Pemerintah menilai kerja sama ini menjadi bagian penting dari strategi diversifikasi mitra perdagangan Indonesia melalui skema Indonesia–Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (Indonesia–EAEU FTA).

Baca Juga: Trump Klaim Berhasil Bebaskan Warga Polandia dan Moldova dari Belarus-Rusia

“Perusahaan-perusahaan Belarus berpengalaman dalam memproduksi berbagai macam produk alat berat, terutama yang dapat memperkuat industrialisasi, mekanisasi pertanian modern, serta pengembangan industri alat berat di Indonesia,” ujar Airlangga dalam keterangannya,  Jumat (15/5/2026).

Data pemerintah Belarus menunjukkan sektor manufaktur menyumbang sekitar 20,3% terhadap produk domestik bruto (PDB) negara tersebut pada 2024.

Belarus juga dikenal memiliki tingkat swasembada pangan mencapai sekitar 96%, ditopang oleh penguatan agroindustri dan mekanisasi pertanian modern.

Dalam kunjungan ke MTZ, pemerintah Indonesia menjajaki peluang pengadaan traktor dan alat mesin pertanian untuk mendukung program ketahanan pangan nasional dan pengembangan food estate.

MTZ disebut menawarkan skema penyesuaian spesifikasi alat sesuai kebutuhan Indonesia, termasuk peluang pelatihan operator dan transfer teknologi.

Langkah ini dinilai penting di tengah dorongan pemerintah mempercepat modernisasi pertanian nasional.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, tingkat mekanisasi pertanian Indonesia masih relatif tertinggal dibanding sejumlah negara maju di Asia dan Eropa, terutama untuk penggunaan alat panen dan traktor modern di lahan pangan utama.

Sementara itu, dalam kunjungan ke MAZ, kedua negara membahas peluang pengembangan kendaraan komersial, bus industri, hingga kendaraan rendah emisi.

Pemerintah juga membuka peluang local assembly atau perakitan lokal di Indonesia sebagai bagian dari penguatan industri manufaktur domestik.

Di sektor pertambangan, pembahasan difokuskan pada kerja sama dengan BelAZ Holding Company terkait dump truck tambang dan pengembangan ekosistem perawatan alat berat.

Belarus juga menawarkan pengembangan rantai pasok berbasis karet alam Indonesia untuk kebutuhan ban kendaraan berat.

Kerja sama ini dinilai strategis karena Indonesia merupakan salah satu eksportir batu bara terbesar dunia. Pemerintah mencatat ekspor batu bara Indonesia mencapai sekitar 800 juta ton per tahun, sehingga kebutuhan kendaraan tambang yang efisien dan berkelanjutan terus meningkat.

Selain alat berat, kedua negara juga membahas pengembangan cassava menjadi ethanol dan potensi penggunaan baterai berbasis nikel untuk kendaraan industri dan pertanian modern.

Isu ini sejalan dengan agenda hilirisasi mineral Indonesia yang saat ini mendorong pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik nasional.

Meski demikian, pemerintah Belarus mengakui masih terbatasnya data kebutuhan spesifik alat berat Indonesia. Karena itu, kedua negara sepakat memperkuat forum konsultasi reguler dan pemetaan kebutuhan industri agar kerja sama lebih tepat sasaran.

Sebagai informasi, hubungan dagang Indonesia dan Belarus masih tergolong terbatas dibanding mitra utama Indonesia di kawasan Eropa maupun Asia Timur.

Namun, pemerintah mulai melihat kawasan Eurasia sebagai pasar dan sumber teknologi alternatif di tengah perlambatan perdagangan global dan meningkatnya fragmentasi rantai pasok internasional.

Kunjungan ini sekaligus menjadi bagian dari persiapan rencana kunjungan Presiden Belarus ke Indonesia dalam waktu mendatang.

Pemerintah berharap penjajakan tersebut dapat menghasilkan tindak lanjut konkret berupa investasi, transfer teknologi, hingga penguatan kapasitas industri nasional di sektor pertanian dan pertambangan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.