Surplus 12 Persen, Pemerintah Siap Serap Telur Lewat Bantuan Pangan

AKURAT.CO Pemerintah menyiapkan perubahan penting dalam skema bantuan pangan nasional.
Jika selama ini bantuan pangan identik dengan beras dan MinyaKita, ke depan komoditas lain seperti telur ayam ras dapat masuk sebagai bagian dari bantuan pemerintah untuk menyerap kelebihan produksi dan menjaga harga di tingkat peternak.
Menteri Perdagangan, Budi Santoso mengatakan, kebijakan tersebut sedang disiapkan sebagai instrumen stabilisasi harga pangan sekaligus perlindungan bagi petani dan peternak ketika terjadi surplus produksi.
Baca Juga: Kemendag Tertibkan 2.639 Iklan Bermasalah di Marketplace
"Jadi misalnya ketika harga telur itu sedang turun, maka bantuan pangan tidak mesti MinyaKita atau beras, tapi bisa juga telur. Jadi ini dalam rangka menyerap produk-produk makanan kita atau produk bahan pokok kita yang memang produksinya sekarang nambah," kata Budi Santoso di Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Menurut Budi, langkah tersebut muncul seiring penurunan harga telur di sejumlah daerah sentra produksi, terutama Blitar, Jawa Timur.
Pemerintah telah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) agar produksi telur dari peternak lokal dapat terserap melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjalankan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Data Kementerian Perdagangan menunjukkan produksi telur nasional saat ini berada dalam kondisi surplus sekitar 12% dibandingkan kebutuhan pasar. Kondisi itu berpotensi menekan harga di tingkat peternak apabila tidak diimbangi dengan penyerapan yang memadai.
"Sekarang surplus 12 persen untuk telur sehingga ini bagus buat peternak. Dan penyerapannya sebenarnya ada, tinggal kita mengatur manajemennya untuk SPPG dengan baik, sehingga telur bisa terserap dengan baik," ujar Budi.
Pemerintah berharap penyerapan tambahan tersebut dapat membantu mengangkat harga telur di tingkat peternak agar kembali mendekati Harga Acuan Penjualan (HAP) atau harga yang dianggap wajar di pasar.
Perubahan skema ini menandai pergeseran fungsi bantuan pangan dari sekadar menjaga daya beli masyarakat menjadi instrumen pengelolaan pasokan nasional.
Baca Juga: Kemendag Siapkan Aturan Baru Usai Kebijakan Ekspor Tunggal Komoditas Strategis Lewat DSI
Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah mengandalkan beras sebagai komoditas utama dalam bantuan pangan. Program bantuan beras yang dijalankan pemerintah melalui Perum Bulog terbukti efektif menjaga akses pangan masyarakat sekaligus membantu stabilisasi harga beras nasional.
Namun, dinamika produksi pangan yang semakin beragam membuat pemerintah mulai mempertimbangkan pendekatan yang lebih fleksibel. Ketika satu komoditas mengalami kelebihan pasokan, pemerintah dapat masuk sebagai pembeli melalui program bantuan pangan maupun program makan bergizi.
Model tersebut dinilai mampu mengurangi risiko anjloknya harga di tingkat produsen sekaligus memastikan kebutuhan gizi masyarakat tetap terpenuhi.
Tidak hanya telur, pemerintah juga membuka peluang penerapan skema serupa untuk komoditas lain yang mengalami tekanan harga akibat surplus produksi.
"Kalau nanti ayam turun di bawah HET, maka akan kita dorong juga agar penyerapannya melalui program-program pemerintah bisa ditingkatkan," kata Budi.
Secara ekonomi, harga komoditas peternakan sangat sensitif terhadap perubahan pasokan. Ketika produksi meningkat sementara permintaan tidak tumbuh secepat pasokan, harga di tingkat peternak biasanya turun lebih dulu.
Berdasarkan karakteristik industri perunggasan nasional, telur ayam merupakan salah satu komoditas dengan siklus produksi yang relatif sulit dihentikan secara mendadak. Akibatnya, saat terjadi kelebihan produksi, peternak sering menghadapi tekanan harga yang dapat menggerus margin usaha.
Melalui program penyerapan pemerintah, sebagian pasokan berlebih dapat dialihkan ke program sosial dan pemenuhan gizi masyarakat sehingga tekanan terhadap harga pasar dapat dikurangi.
Selain menjaga keberlanjutan usaha peternak, langkah tersebut juga berpotensi memperkuat rantai pasok Program Makan Bergizi Gratis yang membutuhkan pasokan protein dalam jumlah besar dan berkelanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal










