Akurat Logo

UMKM Perempuan Binaan DANA Catat Kenaikan Pendapatan 113 Persen, Ini Rahasianya

Idham Nur Indrajaya | 2 Juli 2026, 17:13 WIB
UMKM Perempuan Binaan DANA Catat Kenaikan Pendapatan 113 Persen, Ini Rahasianya
UMKM perempuan binaan SisBerdaya dari DANA mencatat kenaikan pendapatan 113%. Simak bagaimana teknologi dan AI mendorong bisnis naik kelas. dok. Akurat/Idham Nur Indrajaya

AKURAT.CO Banyak pelaku UMKM di Indonesia memiliki produk berkualitas, tetapi tidak sedikit yang kesulitan mengembangkan usahanya. Hambatannya sering kali bukan sekadar keterbatasan modal, melainkan minimnya pemanfaatan teknologi, akses pasar yang sempit, hingga pengelolaan usaha yang masih dilakukan secara sederhana. Di tengah tantangan tersebut, muncul fakta menarik bahwa transformasi digital mampu memberikan dampak nyata bagi pertumbuhan usaha, terutama bagi UMKM perempuan.

Buktinya, evaluasi terhadap finalis program SisBerdaya dan DisBerdaya yang diinisiasi DANA Indonesia dan Ant International periode 2023–2025 menunjukkan rata-rata pendapatan peserta meningkat hingga 113 persen, sementara kapasitas produksi tumbuh 126 persen hanya dalam enam bulan setelah mengikuti program. Data tersebut menjadi indikator bahwa ketika pelaku usaha memperoleh pendampingan yang tepat, akses terhadap teknologi, dan peningkatan kapasitas bisnis, peluang untuk naik kelas menjadi jauh lebih besar.

Ringkasan

Teknologi membantu UMKM perempuan berkembang melalui kombinasi digitalisasi bisnis, literasi keuangan, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), serta akses terhadap ekosistem digital yang membuat operasional lebih efisien, pemasaran lebih luas, dan pengambilan keputusan bisnis lebih tepat. Ketika dipadukan dengan pendampingan intensif, teknologi terbukti mampu meningkatkan omzet maupun kapasitas produksi secara signifikan.

Poin utamanya meliputi:

  • memperluas akses pasar melalui platform digital;

  • meningkatkan efisiensi operasional;

  • membantu pengelolaan keuangan lebih baik;

  • memanfaatkan AI untuk mendukung pengembangan usaha;

  • memperkuat kemampuan pelaku usaha dalam mengambil keputusan berbasis data.

Temuan tersebut menjadi salah satu hasil evaluasi program SisBerdaya dan DisBerdaya yang diinisiasi DANA Indonesia bersama Ant International.

Pendapatan naik 113 persen, apa maknanya bagi perkembangan UMKM?

Angka kenaikan pendapatan hingga 113 persen tentu terdengar impresif. Namun, yang lebih penting bukan sekadar besarnya persentase tersebut, melainkan apa yang diwakilinya.

Selama ini, pembahasan mengenai pemberdayaan UMKM sering berpusat pada akses pembiayaan. Padahal, banyak pelaku usaha yang sebenarnya telah memiliki produk unggulan, tetapi belum mampu memperluas pasar karena belum memanfaatkan teknologi secara optimal.

Kenaikan pendapatan yang dicapai peserta SisBerdaya dan DisBerdaya menunjukkan bahwa investasi pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia dapat memberikan dampak yang sama pentingnya dengan tambahan modal usaha.

Hal serupa juga tercermin dari pertumbuhan produksi sebesar 126 persen. Peningkatan kapasitas produksi biasanya tidak terjadi apabila pelaku usaha belum memiliki permintaan pasar yang lebih besar atau proses operasional yang lebih efisien.

Dengan kata lain, pertumbuhan omzet dan produksi berjalan beriringan. Hal ini mengindikasikan bahwa transformasi yang terjadi bukan hanya pada sisi pemasaran, tetapi juga pada cara pelaku UMKM mengelola bisnisnya secara keseluruhan.

Digitalisasi bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan UMKM

Melanjutkan dampak positif tersebut, DANA Indonesia dan Ant International mengumumkan 35 pemenang SisBerdaya dan DisBerdaya 2026 yang terpilih dari lebih dari 6.800 pendaftar dari seluruh Indonesia.

Program ini merupakan inisiatif pemberdayaan bagi pelaku UMKM perempuan dan perempuan penyandang disabilitas yang berfokus pada pemanfaatan teknologi untuk memperkuat kapasitas usaha sekaligus mendorong kesetaraan ekonomi.

Tahun ini, cakupan program juga semakin luas dengan menjangkau wilayah baru seperti Nusa Tenggara Barat, Maluku, hingga Sulawesi Tengah.

CEO & Co-Founder DANA Indonesia, Vince Iswara, mengatakan bahwa teknologi harus menjadi alat yang benar-benar mampu membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi perempuan.

"Kami percaya teknologi dapat membuka lebih banyak peluang bagi perempuan untuk berkembang dan berdaya secara ekonomi. Melalui SisBerdaya dan DisBerdaya, kami ingin memastikan para pelaku UMKM tidak hanya sekadar memiliki akses terhadap teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara cakap dan produktif untuk mengembangkan bisnis mereka," ujar Vince dalam konferensi pers Pengumuman Pemenang SisBerdaya & DisBerdaya 2026 di Jakarta beberapa waktu lalu.

Komitmen tersebut tercermin dalam proses penyelenggaraan program yang tidak berhenti pada pemberian penghargaan. Director of Communications DANA Indonesia, Olivia Harahap, menjelaskan seluruh peserta terlebih dahulu mendapatkan kesempatan yang sama untuk meningkatkan kapasitas melalui pembelajaran daring sebelum memasuki tahapan seleksi.

"Tahun ini ada lebih dari 6.800 peserta yang mendaftar. Seluruh peserta mendapatkan akses terhadap materi pembelajaran secara daring. Setelah itu dilakukan proses seleksi sehingga terpilih sekitar 180 peserta terbaik," kata Olivia.

Menurutnya, peserta yang lolos kemudian diminta menyusun proposal bisnis yang menjelaskan rencana pengembangan usaha masing-masing. Proposal tersebut dinilai bersama para mitra dan dewan juri berdasarkan sejumlah aspek, mulai dari potensi pengembangan bisnis hingga dampak yang dapat dihasilkan.


Baca Juga: Tolak Restorative Justice, Pigai Minta Kasus Penyekapan dan Penganiayaan Perempuan di Jabar Diproses Pidana

Baca Juga: DPR Minta Taufik Hidayat Dihukum Setimpal dalam Kasus Penyekapan Perempuan

Mengapa pendampingan lebih penting daripada sekadar bantuan modal?

Salah satu temuan menarik dari program SisBerdaya dan DisBerdaya adalah keberhasilan peserta tidak hanya didorong oleh dukungan finansial.

Setelah melalui proses penilaian proposal, sebanyak 35 finalis terbaik diundang mengikuti pelatihan intensif secara luring selama dua hari sebelum akhirnya dipilih sebagai pemenang.

"Dari proses tersebut, terpilih 35 finalis yang hari ini kami umumkan sebagai pemenang. Setelah masuk 35 besar, seluruh finalis kami undang dari tiga wilayah Indonesia untuk mengikuti pelatihan intensif secara luring selama dua hari," ujar Olivia.

Ia menjelaskan bahwa selama pelatihan para finalis tidak hanya mendapatkan materi pengembangan bisnis, tetapi juga pembekalan mengenai pemanfaatan teknologi, termasuk artificial intelligence (AI), serta berbagai keterampilan lain yang dapat membantu mempercepat pertumbuhan usaha.

"Mereka mendapatkan pembekalan mengenai pengembangan bisnis, pemanfaatan teknologi, termasuk artificial intelligence (AI), serta materi lain yang mendukung pengembangan usaha," tuturnya.

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa keberhasilan UMKM tidak lahir hanya dari tambahan modal. Di lapangan, banyak pelaku usaha memiliki produk berkualitas, tetapi masih mengalami kesulitan memperluas pasar karena belum terbiasa memanfaatkan teknologi digital, menyusun strategi pemasaran yang tepat, atau mengelola keuangan secara sistematis.

Sebaliknya, ketika pelaku usaha mulai memahami cara memanfaatkan AI untuk membantu membuat materi promosi, mengoptimalkan pemasaran digital, hingga menyusun pencatatan keuangan yang lebih rapi, peluang meningkatkan produktivitas dan omzet menjadi jauh lebih besar.

Kondisi tersebut menjelaskan mengapa peserta program mampu mencatat kenaikan pendapatan rata-rata hingga 113 persen dan pertumbuhan produksi sebesar 126 persen. Peningkatan tersebut bukan muncul secara instan, melainkan melalui kombinasi peningkatan kompetensi, pendampingan intensif, serta pemanfaatan teknologi secara lebih produktif.Mengapa pendampingan lebih penting daripada sekadar bantuan modal?

Salah satu temuan menarik dari program SisBerdaya dan DisBerdaya adalah keberhasilan peserta tidak hanya didorong oleh dukungan finansial.

Sebelum memasuki tahap penentuan pemenang, peserta mengikuti berbagai pelatihan yang dirancang untuk memperkuat fondasi bisnis mereka.

Di lapangan, kondisi seperti ini sering terjadi. Seorang pelaku UMKM mungkin memiliki produk berkualitas dan pelanggan setia di lingkungan sekitar. Namun, tanpa kemampuan membuat strategi pemasaran digital, mencatat arus kas secara rapi, atau memahami perilaku konsumen, pertumbuhan usaha cenderung berjalan lambat.

Sebaliknya, ketika pelaku usaha mulai memahami cara memanfaatkan AI untuk membuat materi promosi, menggunakan platform digital untuk menjangkau pelanggan baru, hingga mengelola keuangan secara lebih disiplin, kapasitas bisnis meningkat secara bertahap.

Inilah yang membuat peningkatan omzet dalam program tersebut menjadi menarik untuk dicermati. Dampaknya tidak lahir dari satu faktor, melainkan kombinasi antara peningkatan kompetensi, pemanfaatan teknologi, dan pendampingan yang berkelanjutan.

Kisah para pemenang menunjukkan teknologi dapat memperkuat potensi lokal

Keberhasilan program ini juga tercermin dari beragam latar belakang usaha para pemenang.

Pada kategori ultra mikro, Bernika Purba melalui Minyak Kempu Karo mengembangkan produk berbasis resep tradisional keluarga untuk melestarikan warisan pengobatan Tanah Karo. Sementara Hardinianti berhasil membawa Markisa Bintang Jaya menjadi usaha yang lebih modern melalui rebranding, digitalisasi, dan konsep zero waste.

Di sisi lain, Vadya Amalia Shalsabil mendirikan At Peace Studio berdasarkan pengalaman pribadinya menghadapi burnout. Produk yang dikembangkan tidak hanya menawarkan nilai ekonomi, tetapi juga mengangkat isu kesehatan mental melalui jurnal, buku mewarnai, dan program mindfulness.

Pada kategori mikro, Alawana menghadirkan konsep fesyen multifungsi yang melibatkan pengrajin perempuan, sedangkan Best Craft Premium mengembangkan produk kerajinan akrilik sekaligus memanfaatkan limbah material menjadi produk bernilai ekonomi.

Tak kalah inspiratif, DeFaVez lahir dari pengalaman seorang ibu yang memiliki anak dengan ADHD. Produk camilan yang dihasilkan mengedepankan proses pengolahan menggunakan teknologi oven sehingga menghasilkan makanan dengan kadar minyak lebih rendah.

Sementara itu, dalam program DisBerdaya, Rachel Stefanie Halim membuktikan bahwa keterbatasan penglihatan tidak menghalangi seseorang membangun usaha Chicken Nugget Keraton tanpa bahan pengawet.

Ada pula English Mate yang menghadirkan pembelajaran bahasa Inggris secara inklusif bersama tutor penyandang disabilitas netra, serta Nirtch Arts yang memadukan seni ilustrasi dengan edukasi Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO).

Contoh-contoh tersebut memperlihatkan bahwa teknologi tidak menghapus identitas lokal maupun nilai sosial sebuah usaha. Sebaliknya, teknologi justru menjadi sarana untuk memperluas dampaknya.

Kolaborasi menjadi kunci memperkuat ekosistem UMKM

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Irene Umar, menilai kolaborasi antara sektor swasta dan pemerintah memiliki peran penting dalam membangun ekosistem UMKM yang lebih inklusif.

"Kami mengapresiasi sekali DANA Indonesia yang telah menginisiasi dan konsisten dengan SisBerdaya & DisBerdaya. Semoga memberikan dampak, khususnya bagi perempuan & penyandang disabilitas. Saya mau mengucapkan selamat dan mengapresiasi kepada seluruh peserta dan pemenang SisBerdaya & DisBerdaya 2026. Pencapaian ibu-ibu hari ini adalah bukti bahwa semangat belajar, keberanian beradaptasi terhadap teknologi, kerja keras yang konsisten, usaha mikro bisa menjadi lebih besar, dan keterbatasan bisa jadi peluang," ujar Irene Umar.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan UMKM tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga oleh kemampuan pelaku usaha untuk terus belajar dan beradaptasi dengan perubahan.

Transformasi UMKM dimulai dari perubahan cara berpikir

Dari berbagai capaian yang ditunjukkan SisBerdaya dan DisBerdaya, terdapat satu pelajaran penting yang layak menjadi perhatian.

Selama ini, transformasi UMKM sering dikaitkan dengan besarnya investasi atau tambahan modal. Padahal, data program ini menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas pelaku usaha melalui teknologi, literasi keuangan, dan pendampingan mampu menghasilkan dampak ekonomi yang dapat diukur secara nyata.

Artinya, digitalisasi bukan lagi sekadar tren, melainkan fondasi baru bagi UMKM untuk meningkatkan daya saing di tengah ekonomi digital yang semakin kompetitif.

Ke depan, semakin banyak pelaku UMKM perempuan yang mampu memanfaatkan teknologi secara produktif, semakin besar pula peluang lahirnya bisnis-bisnis lokal yang tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya. Oleh karena itu, perkembangan program-program pemberdayaan seperti SisBerdaya dan DisBerdaya patut terus dipantau sebagai salah satu contoh bagaimana kolaborasi, inovasi, dan transformasi digital dapat berjalan beriringan dalam memperkuat ekonomi Indonesia.

Baca Juga: Rieke Diah Pitaloka Kritik Komnas Perempuan: Jangan Beri Celah Hukum bagi Pelaku Kekerasan Ekstrem

Baca Juga: PNM Raih Apresiasi Top Company in Ultra Micro Finance for Women Empowerment dalam Upaya Pemberdayaan Perempuan

FAQ

1. Apa itu program SisBerdaya dan DisBerdaya?

SisBerdaya dan DisBerdaya merupakan program pemberdayaan yang diinisiasi DANA Indonesia bersama Ant International untuk mendukung UMKM perempuan dan perempuan penyandang disabilitas. Program ini berfokus pada peningkatan kapasitas usaha melalui pemanfaatan teknologi, literasi keuangan, pelatihan bisnis, dan pendampingan agar pelaku UMKM mampu mengembangkan usahanya secara berkelanjutan.

2. Seberapa besar dampak program SisBerdaya dan DisBerdaya terhadap UMKM?

Berdasarkan evaluasi terhadap finalis periode 2023–2025, peserta program mencatat rata-rata kenaikan pendapatan sebesar 113 persen dan peningkatan produksi sebesar 126 persen dalam enam bulan setelah mengikuti program. Hasil ini menunjukkan bahwa kombinasi pelatihan, pendampingan, dan pemanfaatan teknologi dapat memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan usaha.

3. Mengapa teknologi dapat membantu meningkatkan pendapatan UMKM perempuan?

Teknologi membantu UMKM meningkatkan efisiensi operasional, memperluas akses pasar, mempermudah pengelolaan keuangan, serta mendukung strategi pemasaran digital. Dalam program SisBerdaya dan DisBerdaya, peserta juga mendapatkan pelatihan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk mendukung pengembangan usaha sehingga mampu meningkatkan produktivitas dan daya saing.

4. Berapa jumlah peserta dan pemenang SisBerdaya dan DisBerdaya 2026?

Program SisBerdaya dan DisBerdaya 2026 diikuti oleh lebih dari 6.800 pendaftar dari berbagai daerah di Indonesia. Setelah melalui proses seleksi bertahap, sebanyak 35 peserta terpilih sebagai pemenang.

5. Bagaimana proses seleksi SisBerdaya dan DisBerdaya 2026?

Seluruh pendaftar terlebih dahulu memperoleh akses pembelajaran secara daring. Dari proses tersebut dipilih sekitar 180 peserta terbaik yang kemudian diminta menyusun proposal pengembangan usaha. Proposal dinilai oleh mitra dan dewan juri berdasarkan potensi bisnis, pemanfaatan teknologi, dan dampak sosial. Sebanyak 35 finalis selanjutnya mengikuti pelatihan intensif dan sesi presentasi (pitching) sebelum ditetapkan sebagai pemenang.

6. Pelatihan apa saja yang diterima para finalis?

Finalis mengikuti pelatihan intensif yang mencakup berbagai materi, antara lain:

  • Pengembangan strategi bisnis.

  • Pemanfaatan teknologi digital.

  • Penerapan Artificial Intelligence (AI) untuk UMKM.

  • Literasi dan pengelolaan keuangan.

  • Penguatan kapasitas usaha agar lebih berkelanjutan.

7. Apa saja aspek yang dinilai dalam menentukan pemenang?

Dewan juri tidak hanya menilai performa bisnis, tetapi juga mempertimbangkan beberapa aspek penting, seperti:

  • Potensi pengembangan usaha.

  • Kemampuan memanfaatkan teknologi.

  • Komitmen pelaku usaha dalam mengembangkan bisnis.

  • Dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar.

  • Inovasi produk dan model bisnis.

8. Mengapa pendampingan dinilai lebih penting daripada sekadar bantuan modal?

Tambahan modal memang penting, tetapi tanpa kemampuan mengelola usaha dan memanfaatkan teknologi, pertumbuhan bisnis sering kali tidak berkelanjutan. Pendampingan membantu pelaku UMKM meningkatkan kompetensi, memahami strategi pemasaran digital, mengelola keuangan dengan lebih baik, hingga mengembangkan usaha berdasarkan kebutuhan pasar.

9. Siapa saja yang menjadi sasaran program SisBerdaya dan DisBerdaya?

Program ini ditujukan bagi pelaku UMKM perempuan serta perempuan penyandang disabilitas di Indonesia yang memiliki potensi mengembangkan usahanya melalui inovasi, teknologi, dan peningkatan kapasitas bisnis.

10. Apa makna kenaikan pendapatan 113 persen bagi perkembangan UMKM Indonesia?

Peningkatan pendapatan tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital dapat menjadi pendorong pertumbuhan UMKM ketika disertai pelatihan dan pendampingan yang tepat. Temuan ini juga memperlihatkan bahwa keberhasilan UMKM tidak hanya bergantung pada besarnya modal, tetapi juga pada kemampuan pelaku usaha untuk belajar, beradaptasi dengan teknologi, dan mengelola bisnis secara lebih profesional.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.