MR.D.I.Y. Perluas Peran, Tak Sekadar Toko Perkakas tapi Jadi Panggung Kreativitas

AKURAT.CO Ketika mendengar nama MR.D.I.Y., yang terbayang biasanya bukan galeri seni. Brand ritel ini lebih lekat dengan kebutuhan rumah tangga, perkakas, alat tulis, hingga berbagai perlengkapan yang digunakan sehari-hari. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, batas antara toko dan ruang kreativitas mulai dibuat lebih tipis.
Langkah itu terlihat dari penyelenggaraan MR.D.I.Y. Indonesia Art Competition 2026. Memasuki tahun kedua, kompetisi tersebut tidak hanya menjadi ajang mencari karya terbaik, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat Indonesia untuk memperoleh eksposur melalui seni.
Tahun ini, lebih dari 1.500 karya dari 32 provinsi masuk ke dalam kompetisi dengan tema Strength & Resilience. Bagi MR.D.I.Y., angka tersebut sekaligus menunjukkan luasnya minat masyarakat untuk berkarya ketika tersedia sebuah panggung yang dapat menjangkau mereka.
MR.D.I.Y. Tak Lagi Hanya Menjual Perkakas
Ada perubahan menarik jika melihat posisi kompetisi seni tersebut dalam strategi sebuah perusahaan ritel. MR.D.I.Y. memang memiliki kepentingan langsung terhadap kategori alat tulis, bahan seni, dan perlengkapan yang mendukung aktivitas kreatif. Namun, kompetisi ini membawa hubungan tersebut ke tingkat yang berbeda.
Perusahaan tidak hanya menjual produk yang digunakan untuk membuat karya, tetapi juga menyediakan panggung untuk memperlihatkan hasil kreativitas masyarakat.
Di sinilah kompetisi seni menjadi lebih dari sekadar kegiatan pendukung brand. Secara strategis, aktivitas seperti ini memungkinkan retailer membangun hubungan dengan konsumen melalui pengalaman dan komunitas, bukan hanya melalui transaksi.
Edwin Cheah, Direktur Utama MR.D.I.Y. Indonesia, mengatakan kompetisi tersebut memang dirancang bukan semata-mata sebagai ajang perlombaan.
“Bagi kami, MR.D.I.Y. Indonesia Art Competition bukan sekadar kompetisi. Ini adalah bukti bahwa semangat berkarya masyarakat Indonesia terus tumbuh, dari kota besar hingga daerah dengan jangkauan platform seni yang belum optimal," ujar Edwin melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, dikutip Senin, 10 Agustus 2026.
Pernyataan tersebut penting karena menunjukkan bagaimana perusahaan melihat fungsi kompetisi. Fokusnya bukan hanya siapa yang memenangkan hadiah, melainkan bagaimana MR.D.I.Y. dapat menjadi bagian dari perjalanan para peserta dalam berkarya.
Dengan kata lain, produk menjadi salah satu titik awal, sedangkan kreativitas menjadi ruang interaksinya.
Bagi bisnis ritel, pendekatan semacam ini memiliki relevansi tersendiri. Konsumen tidak selalu membangun kedekatan dengan sebuah brand karena harga atau jumlah produk yang tersedia. Pengalaman yang dianggap relevan dengan kehidupan mereka juga dapat membentuk persepsi terhadap perusahaan.
Namun, efektivitas strategi tersebut tentu tidak otomatis dapat diukur dari jumlah peserta. Tanpa data mengenai perubahan penjualan, traffic toko, atau loyalitas konsumen, kompetisi seni belum bisa disebut secara langsung meningkatkan kinerja bisnis.
Yang lebih tepat, program ini dapat dibaca sebagai upaya memperluas titik temu antara MR.D.I.Y. dan masyarakat.
1.500 Karya dari 32 Provinsi Menunjukkan Apa?
Salah satu angka paling menarik dari MR.D.I.Y. Indonesia Art Competition 2026 adalah lebih dari 1.500 karya yang berasal dari 32 provinsi.
Sekilas, angka tersebut hanya menunjukkan tingginya partisipasi. Namun, jika dilihat dari perspektif ekosistem seni, distribusi tersebut memberikan gambaran lain: kebutuhan terhadap ruang eksposur bagi seniman dan kreator tidak hanya datang dari kota-kota yang selama ini dikenal sebagai pusat kegiatan seni.
MR.D.I.Y. mencatat partisipasi terbanyak berasal dari Pulau Jawa, kemudian Sumatra, Bali dan Nusa Tenggara, Kalimantan, serta Sulawesi.
Komposisi tersebut memang belum cukup untuk menyimpulkan pemerataan ekosistem seni nasional. Akan tetapi, cakupan 32 provinsi menunjukkan bahwa kompetisi dengan jangkauan nasional dapat menjadi salah satu kanal bagi kreator dari berbagai wilayah untuk memasuki ruang apresiasi yang lebih luas.
Hal tersebut semakin relevan bagi peserta yang tidak memiliki akses mudah terhadap galeri, komunitas seni besar, atau jaringan kurator di kota-kota pusat seni.
Di titik ini, kompetisi berfungsi seperti sebuah jembatan eksposur. Seorang kreator tidak harus terlebih dahulu memiliki jaringan profesional yang luas untuk mengirimkan karya dan mengikuti proses kurasi.
Tentu, kompetisi bukan pengganti ekosistem seni yang lengkap. Seniman tetap membutuhkan pendidikan, komunitas, ruang pamer, pasar, mentor, dan jaringan profesional. Namun, platform seperti ini dapat menjadi salah satu pintu masuk.
R.E. Hartanto, seniman sekaligus dewan juri MR.D.I.Y. Indonesia Art Competition 2026, melihat adanya perkembangan menarik dari kualitas karya peserta tahun ini.
“Tahun ini kami melihat perkembangan yang sangat menarik dari kualitas karya para peserta. Tema Strength & Resilience diterjemahkan melalui pendekatan yang sangat beragam, mulai dari pengalaman personal, isu sosial, hingga refleksi terhadap budaya dan lingkungan sekitar," tuturnya.
Menurut Hartanto, kekuatan karya peserta tidak hanya terlihat dari kemampuan teknis. Para peserta juga dinilai mampu membangun narasi melalui pilihan medium, visual, konsep, dan riset artistik.
Penilaian tersebut menggunakan empat dasar utama, yakni ide, kreativitas, komposisi, dan teknik. Artinya, kompetisi tidak semata-mata mencari karya yang secara visual terlihat menarik, tetapi juga mempertimbangkan gagasan yang dibawa oleh seniman.
Ketika Kompetisi Seni Menjadi Strategi Brand Engagement
Ada satu hal yang membedakan kompetisi seni dengan promosi ritel konvensional.
Iklan biasanya meminta konsumen memperhatikan brand. Kompetisi, sebaliknya, memberi konsumen atau komunitas kesempatan untuk melakukan sesuatu bersama brand.
Perbedaan ini penting.
Bayangkan seorang mahasiswa yang membuat karya di rumah menggunakan alat gambar sederhana. Dalam skenario biasa, karya tersebut mungkin hanya berakhir di media sosial pribadi atau tersimpan di perangkatnya. Melalui kompetisi, karya yang sama mendapatkan kesempatan masuk ke proses kurasi, dinilai oleh profesional, dipamerkan, bahkan berpotensi dibawa ke kompetisi regional.
Dalam ilustrasi tersebut, MR.D.I.Y. bukan pencipta karya. Perusahaan juga bukan pihak yang menentukan isi karya peserta. Perannya adalah menyediakan salah satu jalur agar karya tersebut mendapatkan perhatian.
Model interaksi seperti itu berpotensi menghasilkan hubungan yang berbeda antara brand dan masyarakat. Konsumen tidak ditempatkan hanya sebagai pembeli, melainkan sebagai partisipan dalam sebuah aktivitas kreatif.
Namun, ada tantangannya.
Jika aktivitas seni hanya muncul sekali dalam setahun tanpa kesinambungan, dampak komunitasnya bisa terbatas. Sebaliknya, jika kompetisi berkembang menjadi rangkaian program yang konsisten—misalnya pameran, workshop, mentoring, atau kolaborasi seniman—maka ruang yang dibangun brand dapat memiliki nilai yang lebih panjang.
Untuk saat ini, materi MR.D.I.Y. menunjukkan kompetisi tersebut telah memasuki tahap yang lebih besar dengan hadirnya kompetisi regional. Perkembangan ini membuat program seni tersebut menarik untuk dilihat bukan hanya sebagai aktivitas lokal, tetapi juga sebagai bagian dari hubungan MR.D.I.Y. dengan ekosistem kreatif di Asia Tenggara.
Dari Panggung Nasional Menuju Asia Tenggara
Pada 2026, Indonesia memperoleh kesempatan menjadi tuan rumah MR.D.I.Y. Regional Art Competition. Para pemenang kategori Umum serta Pelajar dan Mahasiswa akan mewakili Indonesia untuk berkompetisi bersama pemenang dari Malaysia dan Thailand.
Perubahan skala ini memberikan dimensi baru bagi kompetisi.
Jika sebelumnya nilai utama kompetisi berada pada pemberian ruang bagi seniman di Indonesia, maka kompetisi regional membuka kemungkinan pertukaran eksposur lintas negara. Karya yang sebelumnya bersaing di tingkat nasional kini mendapatkan kesempatan untuk dibandingkan dan diperkenalkan dalam konteks Asia Tenggara.
Edwin Cheah menyebut penyelenggaraan regional di Indonesia sebagai momentum yang membanggakan bagi perusahaan.
“Tahun ini menjadi momen yang membanggakan karena Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah kompetisi tingkat regional. Kami berharap momentum ini tidak hanya membuka panggung yang lebih luas bagi seniman Indonesia, tetapi juga semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat talenta seni di Asia Tenggara," katanya.
Pernyataan tersebut sekaligus memperlihatkan ambisi yang lebih besar dari sekadar kompetisi nasional. Akan tetapi, klaim mengenai Indonesia sebagai pusat talenta seni Asia Tenggara perlu dilihat sebagai aspirasi, bukan kesimpulan yang otomatis terbukti hanya dari penyelenggaraan satu kompetisi.
Yang lebih konkret adalah adanya platform regional yang mempertemukan talenta dari tiga negara.
Bagi MR.D.I.Y., konteks ini juga menarik dari sisi brand. Kompetisi yang awalnya berangkat dari pasar Indonesia kini terhubung dengan aktivitas di negara lain tempat perusahaan beroperasi. Seni akhirnya menjadi medium yang memungkinkan sebuah retailer membawa identitas brand melampaui aktivitas jual-beli.
Tom Tandio, Pendiri IndoArtNow, menilai penyelenggaraan kompetisi regional di Indonesia memberikan kesempatan untuk memperkenalkan kualitas talenta seni Tanah Air di kawasan Asia Tenggara.
“Penyelenggaraan kompetisi tingkat regional di Indonesia menjadi momentum yang sangat baik untuk memberi kesempatan sekaligus memperkenalkan kualitas talenta seni Tanah Air di kawasan Asia Tenggara," kata Tom Tandio.
Bagi seniman, manfaat paling konkret dari perluasan tersebut adalah eksposur. Bagi perusahaan, nilai tambahnya berada pada kemampuan menciptakan sebuah platform yang menghubungkan brand, komunitas, dan talenta lintas pasar.
Di sinilah cerita MR.D.I.Y. mulai bergeser. Perusahaan tidak lagi hanya berbicara mengenai apa yang bisa dibeli konsumen dari sebuah toko, tetapi juga mengenai apa yang dapat diciptakan masyarakat di ruang yang dibuka oleh brand tersebut.
Baca Juga: Daya Beli Masih Tertekan, Laba MR.D.I.Y. Indonesia Justru Naik 16,4 Persen karena Faktor Ini
Baca Juga: Sambut Tahun Ajaran Baru, Penawaran Spesial MR.D.I.Y. Solusi Belanja Cermat Para Orang Tua
Ketika Toko Berubah Menjadi Ruang Pengalaman
Salah satu perkembangan menarik dari MR.D.I.Y. Indonesia Art Competition 2026 bukan hanya kompetisi dan hadiah yang diberikan kepada para pemenang. Karya-karya terbaik juga mendapatkan ruang untuk dilihat publik melalui MR.D.I.Y. Indonesia Art Exhibition pada 7–23 Agustus 2026 di MR.D.I.Y. Store, Lotte Mall Jakarta.
Pameran tersebut terbuka untuk umum tanpa biaya.
Jika dilihat dari perspektif bisnis ritel, keputusan membawa karya seni ke dalam toko memiliki arti yang lebih luas. Ruang ritel pada dasarnya dirancang untuk mempertemukan konsumen dengan produk. Namun, melalui pameran, ruang yang sama dapat menjalankan fungsi tambahan sebagai tempat berinteraksi dengan gagasan, karya, dan komunitas.
Perubahan kecil dalam fungsi ruang ini berpotensi menciptakan pengalaman yang berbeda.
Seorang pengunjung yang datang ke toko untuk membeli kebutuhan rumah tangga, misalnya, dapat menemukan karya seni yang sebelumnya tidak ada dalam agenda kunjungannya. Sebaliknya, orang yang datang karena tertarik dengan pameran berkesempatan mengenal ruang retail MR.D.I.Y. dalam konteks yang berbeda.
Ini bukan berarti pameran otomatis meningkatkan transaksi. Tidak ada data dalam materi perusahaan yang menunjukkan hubungan langsung antara penyelenggaraan pameran dan penjualan.
Namun, secara konseptual, aktivitas tersebut memperlihatkan bagaimana toko fisik dapat digunakan sebagai ruang pengalaman brand, bukan semata-mata tempat transaksi.
Bagi retailer dengan jaringan toko yang luas, pendekatan seperti ini memiliki potensi menarik. Ruang fisik yang sudah dimiliki perusahaan dapat berfungsi sebagai titik temu dengan komunitas tanpa harus selalu mengandalkan format promosi konvensional.
Apa Arti Strategi Kreativitas Ini bagi MR.D.I.Y.?
Masuknya MR.D.I.Y. lebih jauh ke aktivitas seni menimbulkan pertanyaan penting: apa sebenarnya nilai bisnis dari program yang hasil langsungnya tidak mudah dihitung?
Jawabannya tidak harus berupa penjualan.
Brand yang berinteraksi dengan komunitas melalui aktivitas kreatif dapat membangun asosiasi yang berbeda. MR.D.I.Y. selama ini memiliki identitas kuat sebagai tempat mencari berbagai kebutuhan rumah tangga. Kompetisi seni menambahkan lapisan lain: brand sebagai pendukung aktivitas kreatif.
Koneksi tersebut juga memiliki relevansi dengan kategori produk yang dijual perusahaan.
Alat tulis, perlengkapan menggambar, bahan kerajinan, dan berbagai alat bantu seni bukan sekadar barang yang berada di rak. Produk-produk tersebut menjadi bagian dari proses yang menghasilkan sesuatu, mulai dari sketsa, lukisan, kerajinan, hingga karya seni lainnya.
Dengan menyelenggarakan kompetisi, hubungan antara produk dan aktivitas kreatif menjadi lebih mudah terlihat.
Tetapi justru di sini terdapat tantangan bagi MR.D.I.Y. Program kreatif akan memiliki nilai yang lebih kuat apabila masyarakat melihatnya sebagai ruang yang benar-benar memberi manfaat bagi seniman, bukan sekadar aktivitas pemasaran yang dibungkus dengan tema seni.
Karena itu, keberlanjutan menjadi faktor penting.
Kompetisi tahunan dapat menciptakan momentum. Namun, ekosistem membutuhkan lebih dari sekadar momentum. Seniman membutuhkan kesempatan untuk terus mendapatkan akses terhadap publik, kurator, pembeli, komunitas, pendidikan, dan jejaring profesional.
Jika sebuah brand ingin mengambil posisi lebih besar dalam ekosistem tersebut, tantangannya adalah menjaga keseimbangan antara kepentingan komersial dan nilai bagi komunitas.
Dari Produk ke Komunitas: Di Mana Nilai Tambahnya?
Secara sederhana, hubungan antara retailer dan konsumen biasanya bergerak dalam satu arah: konsumen membutuhkan barang, kemudian datang ke toko dan melakukan pembelian.
Program seperti kompetisi seni mengubah alur tersebut.
Secara ilustratif, mekanismenya dapat digambarkan sebagai:
produk → aktivitas kreatif → karya → kompetisi → apresiasi → komunitas → eksposur
Produk berada di awal proses, tetapi bukan menjadi tujuan akhirnya.
Seorang pelajar atau mahasiswa dapat membeli alat gambar untuk membuat karya. Karya tersebut kemudian digunakan untuk mengikuti kompetisi. Jika terpilih, karya itu mendapatkan ruang pamer. Ketika pemenang nasional kemudian berkompetisi di tingkat regional, rantai tersebut menjadi lebih panjang.
Dalam skenario itu, nilai yang diperoleh peserta bukan hanya barang yang digunakan untuk berkarya. Ada pengalaman, pengakuan, jaringan, dan peluang memperkenalkan karya kepada audiens yang lebih luas.
Bagi MR.D.I.Y., nilai yang dibangun juga berbeda dari transaksi satu kali.
Perusahaan memiliki kesempatan untuk hadir pada beberapa tahapan perjalanan kreatif masyarakat. Inilah yang membuat aktivitas seni menarik sebagai bentuk brand engagement.
Namun, sekali lagi, ilustrasi tersebut bukan bukti bahwa seluruh peserta mengalami perjalanan yang sama. Dampak nyata terhadap perilaku konsumen maupun kinerja bisnis membutuhkan data yang berbeda dan belum disampaikan dalam materi kompetisi.
Apakah Kompetisi Seni Bisa Menjadi Platform Regional?
Penyelenggaraan kompetisi regional 2026 membuka kemungkinan yang lebih besar.
Saat ini, kompetisi tersebut mempertemukan pemenang dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Jika program seperti ini konsisten dilakukan dan cakupannya berkembang, MR.D.I.Y. memiliki peluang membangun sebuah platform kreatif yang mengikuti jaringan bisnisnya di Asia Tenggara.
Namun, ini masih merupakan potensi, bukan fakta bahwa MR.D.I.Y. telah membangun platform seni ASEAN.
Perbedaan tersebut penting.
Sebuah kompetisi regional belum otomatis menciptakan ekosistem seni regional. Ekosistem membutuhkan hubungan yang berkelanjutan antara seniman, institusi, komunitas, pasar, kurator, dan audiens.
MR.D.I.Y. memiliki satu modal yang tidak dimiliki semua penyelenggara kompetisi seni, yakni jaringan retail dan kehadiran lintas negara. Modal tersebut dapat menjadi keunggulan jika digunakan untuk memperluas akses publik terhadap karya dan talenta.
Misalnya, secara hipotetis, karya pemenang Indonesia dapat memperoleh kesempatan dipamerkan di negara peserta lain pada penyelenggaraan berikutnya. Program mentoring lintas negara juga dapat mempertemukan seniman muda dengan praktisi dari pasar berbeda.
Tetapi semua itu masih merupakan ruang pengembangan.
Untuk saat ini, fakta terpenting adalah MR.D.I.Y. telah membawa kompetisi dari level nasional ke tingkat regional dan memberikan kesempatan kepada pemenang Indonesia untuk tampil bersama talenta dari Malaysia dan Thailand.
Pemenang MR.D.I.Y. Indonesia Art Competition 2026
Kompetisi tahun ini menghasilkan sejumlah pemenang dari tiga kelompok peserta.
Kategori Professional
Grand Prize: Ari Bayuaji dengan karya The Storms that Unified Us, 2026.
Kategori Umum
Grand Prize: Veronica Liana dengan karya Rupa Tan Matra #3, 2026.
Judge’s Award: Haidar Ammar dengan karya Holding the Self Together, 2026.
President’s Director Award: Angela Sunaryo dengan karya XELOTEXAN, 2026.
Kategori Pelajar & Mahasiswa
Grand Prize: Muhammad Ragib Noer Khasyi dengan karya Yang Tersisa Sepulang Kerja (1), 2026.
Judge’s Award: M. Nashrul Rizqil Akbar dengan karya Tjap TANGGOEH, 2026.
President’s Director Award: Nadiva Nuriftitah dengan karya The Doorframe, 2026.
Para pemenang kategori Umum serta Pelajar dan Mahasiswa akan membawa karya mereka ke MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026 bersama pemenang dari Malaysia dan Thailand.
Selain kesempatan memperoleh eksposur regional, penyelenggara menyebut kompetisi nasional tahun ini menyediakan total hadiah senilai Rp370 juta.
Apa yang Perlu Dilihat dari Langkah MR.D.I.Y. Berikutnya?
MR.D.I.Y. Indonesia Art Competition 2026 menunjukkan satu perubahan penting dalam cara sebuah perusahaan ritel dapat berinteraksi dengan masyarakat.
Toko tidak harus selalu dipahami sebagai tempat konsumen datang, memilih barang, membayar, lalu pulang. Ia juga dapat menjadi titik pertemuan antara brand dan komunitas, selama aktivitas yang ditawarkan memang memiliki nilai bagi pengunjung.
Dalam kasus MR.D.I.Y., seni menjadi salah satu medium tersebut.
Lebih dari 1.500 karya dari 32 provinsi menunjukkan adanya respons terhadap ruang yang disediakan. Pameran di Lotte Mall Jakarta memperluas fungsi program dari kompetisi menjadi pengalaman publik. Sementara itu, kompetisi regional membawa talenta yang terpilih menuju panggung yang lebih luas.
Bagi seniman, manfaat paling jelas berada pada kesempatan mendapatkan eksposur.
Bagi MR.D.I.Y., tantangan berikutnya justru bagaimana menjaga agar hubungan tersebut tidak berhenti setelah piala diberikan dan pameran selesai.
Jika program terus berkembang, MR.D.I.Y. berpotensi memiliki posisi unik di antara retailer dan ekosistem kreatif: bukan sebagai institusi seni, melainkan sebagai perusahaan yang menyediakan infrastruktur, ruang, dan akses bagi masyarakat untuk berkarya.
Pada titik tersebut, kompetisi seni tidak lagi hanya berbicara mengenai siapa yang menang.
Ia berbicara mengenai bagaimana sebuah brand menggunakan ruang yang dimilikinya untuk menciptakan hubungan yang lebih panjang dengan masyarakat.
Dan pertanyaan berikutnya menjadi menarik: apakah panggung kreativitas yang dibangun MR.D.I.Y. akan berkembang menjadi program regional yang berkelanjutan, atau tetap menjadi agenda kompetisi tahunan?
Perkembangannya akan menentukan seberapa jauh strategi tersebut mampu mengubah aktivitas brand menjadi ekosistem yang benar-benar memberi nilai bagi komunitas.
Baca Juga: Strategi Harga Tetap Sama MR.D.I.Y.: Saat Kepastian Harga Menjadi Kebutuhan Baru di Tengah Inflasi
FAQ
Apa itu MR.D.I.Y. Indonesia Art Competition 2026?
MR.D.I.Y. Indonesia Art Competition 2026 merupakan kompetisi seni yang diselenggarakan MR.D.I.Y. Indonesia bersama IndoArtNow dengan tema Strength & Resilience. Memasuki tahun kedua, kompetisi ini menerima lebih dari 1.500 karya dari 32 provinsi Indonesia dan memberikan penghargaan dalam kategori Professional, Umum, serta Pelajar dan Mahasiswa.
Berapa jumlah karya yang mengikuti MR.D.I.Y. Art Competition 2026?
MR.D.I.Y. Indonesia Art Competition 2026 menerima lebih dari 1.500 karya yang berasal dari 32 provinsi. Partisipasi terbanyak tercatat berasal dari Pulau Jawa, kemudian Sumatra, Bali dan Nusa Tenggara, Kalimantan, serta Sulawesi.
Siapa pemenang MR.D.I.Y. Indonesia Art Competition 2026?
Pemenang Grand Prize kategori Professional adalah Ari Bayuaji melalui The Storms that Unified Us, 2026. Untuk kategori Umum, Grand Prize diraih Veronica Liana dengan Rupa Tan Matra #3, 2026. Sementara kategori Pelajar dan Mahasiswa dimenangkan Muhammad Ragib Noer Khasyi melalui Yang Tersisa Sepulang Kerja (1), 2026.
Berapa total hadiah MR.D.I.Y. Indonesia Art Competition 2026?
Total hadiah yang disediakan dalam MR.D.I.Y. Indonesia Art Competition 2026 disebut mencapai Rp370 juta. Selain hadiah, pemenang kategori Umum serta Pelajar dan Mahasiswa memperoleh kesempatan mewakili Indonesia dalam kompetisi tingkat regional.
Apa itu MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026?
MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026 merupakan kompetisi tingkat regional yang mempertemukan pemenang dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Pada tahun ini, Indonesia menjadi tuan rumah, sementara pemenang kategori Umum serta Pelajar dan Mahasiswa dari Indonesia akan mewakili Tanah Air.
Kapan dan di mana MR.D.I.Y. Indonesia Art Exhibition 2026 berlangsung?
MR.D.I.Y. Indonesia Art Exhibition 2026 berlangsung pada 7–23 Agustus 2026 di MR.D.I.Y. Store, Lotte Mall Jakarta. Pameran tersebut terbuka untuk masyarakat umum tanpa dipungut biaya sehingga pengunjung dapat melihat karya-karya pemenang kompetisi.
Mengapa MR.D.I.Y. mengadakan kompetisi seni?
Berdasarkan keterangan perusahaan, MR.D.I.Y. Indonesia Art Competition menjadi bagian dari upaya mendukung perkembangan seni dan kreativitas lokal sekaligus memberikan eksposur lebih luas bagi seniman. Dari perspektif brand, kegiatan ini juga membuka ruang interaksi antara perusahaan, komunitas, dan masyarakat melalui aktivitas kreatif, meski dampak langsungnya terhadap penjualan tidak dapat disimpulkan tanpa data tambahan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 4Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 520 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 8Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026






