Hidrogen Hijau Digadang-gadang Jadi Masa Depan Baja, tapi Ada 3 Masalah Besar

AKURAT.CO Hidrogen hijau mulai dilirik sebagai salah satu teknologi penting untuk menekan emisi industri baja. Namun, menjadikan hidrogen sebagai pengganti karbon dalam produksi baja tidak sesederhana menyediakan energi terbarukan. Ada sedikitnya tiga masalah besar yang harus diselesaikan Indonesia: biaya produksi, kesiapan infrastruktur dan teknologi, serta siapa yang akan membeli baja rendah karbon dengan harga lebih tinggi.
Persoalan tersebut muncul dalam Green Steel Conference bertajuk “Accelerating the Steel Transition: Building a Competitive, Green Steel, and Responsible Steel Industry Road to COP31” yang digelar AEER di Jakarta, 29 September 2026.
Konferensi tersebut mempertemukan pemerintah, industri baja, penyedia energi, lembaga keuangan, akademisi, peneliti, organisasi masyarakat sipil, hingga masyarakat di sekitar kawasan industri baja. Salah satu pembahasannya adalah bagaimana teknologi dapat digunakan untuk menurunkan emisi tanpa membuat industri kehilangan daya saing.
Di titik inilah hidrogen hijau menjadi menarik. Teknologi tersebut menawarkan kemungkinan untuk mengurangi ketergantungan industri baja terhadap karbon dalam proses produksi. Indonesia juga memiliki sumber energi terbarukan yang relatif beragam, mulai dari tenaga surya, panas bumi, angin hingga hidro.
Masalahnya, keberadaan sumber energi terbarukan tidak otomatis membuat hidrogen hijau murah dan siap digunakan industri baja.
Mengapa Hidrogen Hijau Dianggap Penting untuk Baja?
Industri baja merupakan salah satu sektor yang sulit didekarbonisasi. Proses produksi tidak hanya membutuhkan listrik dalam jumlah besar, tetapi juga membutuhkan sumber energi dan material yang mampu mendukung proses pengolahan bijih besi.
Selama ini, karbon memiliki posisi penting dalam proses tersebut. Karena itu, mengurangi emisi industri baja tidak cukup hanya dengan mengganti listrik berbasis fosil dengan listrik dari energi terbarukan.
Hidrogen hijau menawarkan salah satu alternatif. Hidrogen yang diproduksi menggunakan energi terbarukan dapat digunakan untuk menggantikan sebagian fungsi karbon dalam proses produksi baja tertentu.
Nanang Kurniawan, VP Technology & Engineering Pertamina New & Renewable Energy, dalam konferensi tersebut menyebut hidrogen hijau sebagai salah satu opsi yang dapat digunakan untuk menggantikan karbon dalam produksi baja.
Indonesia sendiri memiliki modal awal berupa potensi energi terbarukan. Sumber tersebut dapat menjadi basis produksi hidrogen hijau, terutama jika biaya teknologi energi terbarukan terus mengalami penurunan.
Namun, potensi tersebut baru merupakan titik awal. Antara listrik terbarukan dan baja yang benar-benar diproduksi dengan hidrogen terdapat rantai teknologi dan investasi yang panjang.
Baca Juga: Energi Hijau dan Data Center Jadi Bidikan Baru Pemerintah
Baca Juga: Luhut dan Wang Yi Bahas Penguatan Kerja Sama Indonesia-China di Teknologi hingga Energi Hijau
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







