Kebutuhan Listrik Indonesia Diproyeksi Naik 6 Kali Lipat, Energi Terbarukan Baru Dimanfaatkan Kurang Dari 0,5 Persen

AKURAT.CO Indonesia sedang menuju masa ketika kebutuhan listrik tidak lagi hanya ditentukan oleh pertumbuhan penduduk dan ekspansi industri konvensional. Kendaraan listrik, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), pusat data, hilirisasi mineral, hingga elektrifikasi rumah tangga berpotensi mengubah peta konsumsi energi nasional secara drastis.
Riset Bank DBS Indonesia memperkirakan kebutuhan listrik Indonesia akan meningkat dari sekitar 300 terawatt hour (TWh) pada 2024 menjadi lebih dari 1.800 TWh pada 2060. Artinya, konsumsi listrik nasional berpotensi meningkat sekitar enam kali lipat dalam waktu kurang dari empat dekade.
Tantangannya, Indonesia sebenarnya memiliki potensi energi terbarukan sekitar 3.687 gigawatt (GW), tetapi pemanfaatannya masih kurang dari 0,5%. Kesenjangan inilah yang menjadi salah satu persoalan besar dalam perjalanan transisi energi Indonesia: kebutuhan listrik terus meningkat, sementara sumber energi bersih yang tersedia dalam jumlah besar belum sepenuhnya mampu diterjemahkan menjadi proyek dan pasokan listrik yang nyata.
Ringkasan
Secara sederhana, lonjakan dari 300 TWh menjadi lebih dari 1.800 TWh menunjukkan bahwa listrik akan semakin menjadi fondasi utama aktivitas ekonomi Indonesia.
Jika selama ini pertumbuhan kebutuhan listrik banyak berkaitan dengan rumah tangga, manufaktur, dan aktivitas komersial, struktur permintaan ke depan akan jauh lebih kompleks. Digitalisasi ekonomi menciptakan kebutuhan energi baru. Industri juga semakin terdorong menggunakan listrik dalam proses produksinya.
Bank DBS Indonesia dalam riset The Sustainability Shift: Indonesia's Industrial Landscape in Five Key Sectors, Opportunities and Risks menempatkan elektrifikasi sebagai salah satu perubahan besar yang akan membentuk lanskap industri Indonesia.
Kenaikan kebutuhan listrik tersebut antara lain didorong oleh pertumbuhan kendaraan listrik, pengembangan AI dan pusat data, hilirisasi mineral, serta elektrifikasi di sektor industri dan rumah tangga.
Angka lebih dari 1.800 TWh pada 2060 juga tidak sekadar menunjukkan peningkatan konsumsi. Angka tersebut menggambarkan perubahan cara ekonomi Indonesia bekerja.
Semakin digital sebuah ekonomi, semakin besar pula ketergantungannya terhadap infrastruktur energi. AI, cloud computing, dan pusat data memang terlihat sebagai produk ekonomi digital, tetapi seluruh aktivitas tersebut pada akhirnya bergantung pada ketersediaan listrik yang stabil.
Apa yang Mendorong Lonjakan Konsumsi Listrik Indonesia?
Salah satu pendorong baru kebutuhan energi berasal dari pertumbuhan ekosistem digital.
Sektor Teknologi, Media, dan Telekomunikasi tengah mengalami pergeseran dari bisnis yang sebelumnya bertumpu pada konektivitas menuju layanan digital. Riset Bank DBS Indonesia mencatat pertumbuhan sektor telekomunikasi berbasis konektivitas melambat dari sekitar 9,69% pada 2015 menjadi 7,14% pada kuartal I 2026.
Pada saat yang sama, ekonomi digital Indonesia terus berkembang. Nilai total gross merchandise value atau GMV diperkirakan mencapai sekitar US$99 miliar pada 2025, sementara 79% pengguna Indonesia telah mengenal AI.
Pergeseran tersebut menciptakan kebutuhan baru terhadap cloud computing, cybersecurity, dan terutama pusat data.
Chairman Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) Hendra Suryakusuma mengatakan pertumbuhan AI membuat pusat data menjadi salah satu penggerak baru ekosistem digital.
“Momentum pertumbuhan AI membuat pusat data menjadi growth engine baru bagi ekosistem digital Indonesia. Namun, ketersediaan energi terbarukan dan kepastian kebijakan ke depan akan sama pentingnya dengan besarnya potensi pasar dalam menentukan keputusan investasi,” kata Hendra melalui hasil riset DBS Indonesia yang diterima AKURAT.CO, dikutip Kamis, 20 Agustus 2026.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi digital memiliki hubungan langsung dengan sektor energi.
AI mungkin berkembang melalui perangkat lunak, algoritma, dan layanan digital. Namun, di belakang seluruh aktivitas tersebut terdapat pusat data yang membutuhkan pasokan listrik secara berkelanjutan.
Hubungan sebab-akibatnya menjadi semakin jelas: AI mendorong pertumbuhan pusat data, pusat data meningkatkan kebutuhan listrik, dan lonjakan kebutuhan listrik membutuhkan tambahan pembangkit serta jaringan energi.
Persoalannya kemudian bukan hanya bagaimana menghasilkan listrik lebih banyak, tetapi dari sumber energi apa tambahan listrik tersebut akan berasal.
Baca Juga: Ekosistem Motor Listrik Mampu Tekan Subsidi BBM Hingga Rp82,2 Triliun
Baca Juga: Danantara Ungkap Biang Kerok Motor Listrik Sulit Berkembang di Indonesia
Indonesia Punya Potensi Energi Terbarukan 3.687 GW, Mengapa Pemanfaatannya Masih Rendah?
Di sinilah muncul salah satu paradoks terbesar dalam transisi energi Indonesia.
Indonesia memiliki potensi energi terbarukan sekitar 3.687 GW. Namun, pemanfaatannya masih kurang dari 0,5%.
Sekilas, persoalan ini bisa terlihat seperti masalah kekurangan investasi. Kenyataannya, tantangannya lebih kompleks.
Potensi energi tidak otomatis dapat disamakan dengan kapasitas listrik yang siap digunakan masyarakat atau industri. Sebuah wilayah bisa memiliki sumber energi surya, panas bumi, atau sumber energi terbarukan lainnya dalam jumlah besar. Namun, energi tersebut tetap membutuhkan pembangkit, jaringan transmisi, integrasi ke sistem kelistrikan, hingga struktur pembiayaan yang layak.
Keterbatasan transmisi menjadi salah satu hambatan penting. Sumber energi terbarukan tidak selalu berada di lokasi yang sama dengan pusat permintaan listrik.
Pusat industri, kawasan perkotaan, dan pusat data membutuhkan listrik dalam jumlah besar dan stabil. Jika sumber energi berada jauh dari lokasi tersebut, diperlukan investasi tambahan untuk membangun jaringan yang mampu menyalurkan listrik.
Kebutuhan juga meluas ke grid modernization dan sistem penyimpanan energi berbasis baterai atau battery energy storage system (BESS).
Inilah alasan mengapa besarnya potensi energi terbarukan belum otomatis menghasilkan tingkat pemanfaatan yang tinggi.
Masalah energi terbarukan Indonesia bukan hanya soal menemukan sumber daya, tetapi menghubungkan sumber daya tersebut dengan pusat permintaan dan mengubahnya menjadi proyek yang layak secara komersial.
Paradoks Transisi Energi: Listrik Harus Bertambah, tetapi Emisi Juga Harus Ditekan
Indonesia menghadapi tantangan ganda.
Pertama, kapasitas pasokan listrik harus terus meningkat untuk mengimbangi pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan baru dari AI, kendaraan listrik, pusat data, serta hilirisasi industri.
Kedua, pertumbuhan tersebut terjadi ketika pasar global semakin memperhatikan jejak karbon dalam rantai pasok.
Artinya, Indonesia tidak cukup hanya membangun lebih banyak kapasitas listrik. Pertanyaan yang semakin penting adalah bagaimana tambahan kebutuhan energi tersebut dapat dipenuhi tanpa memperpanjang ketergantungan terhadap sumber energi beremisi tinggi.
Persoalan ini terlihat jelas di sektor logam dan pertambangan.
Indonesia menguasai sekitar 60% produksi nikel dunia dan pada 2025 naik ke peringkat ke-13 produsen baja terbesar dunia. Namun, sekitar 97% listrik untuk pemrosesan nikel masih berasal dari captive coal power.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa industrialisasi dan transisi energi tidak selalu berjalan secara otomatis dalam arah yang sama.
Di satu sisi, hilirisasi mineral membuka peluang ekonomi dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Di sisi lain, intensitas karbon dari proses produksinya dapat menjadi persoalan baru ketika standar keberlanjutan global semakin ketat.
Direktur dan Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer PT Vale Indonesia Tbk Budiawansyah mengatakan kinerja karbon akan semakin memengaruhi daya saing produk nikel Indonesia.
“Seiring meningkatnya perhatian pasar terhadap carbon performance, produk nikel dengan intensitas karbon yang lebih rendah berpotensi memiliki diferensiasi nilai di pasar global. Pemanfaatan energi terbarukan, penguatan ketertelusuran, dan praktik pertambangan yang bertanggung jawab akan semakin penting dalam mempertahankan daya saing dan akses Indonesia ke pasar global serta rantai pasok baterai,” ujar Budiawansyah.
Di titik ini, energi bersih tidak lagi hanya berkaitan dengan target lingkungan.
Ketersediaan listrik rendah karbon berpotensi menjadi bagian dari strategi daya saing industri Indonesia.
Mengapa Proyek Energi Terbarukan Belum Tentu Mudah Mendapat Pembiayaan?
Besarnya peluang pasar tidak selalu berarti sebuah proyek otomatis memperoleh pembiayaan.
Riset Bank DBS Indonesia menunjukkan kesiapan proyek, profil risiko, kepastian arus kas, dan kompleksitas struktur pembiayaan menjadi sejumlah faktor yang menentukan apakah sebuah peluang keberlanjutan dapat direalisasikan.
Inilah perbedaan penting antara potensi dan proyek yang bankable.
Sebuah proyek energi terbarukan dapat memiliki lokasi yang menjanjikan dan teknologi yang tersedia. Namun, investor dan lembaga keuangan tetap perlu melihat bagaimana proyek tersebut menghasilkan pendapatan, siapa pembeli listriknya, bagaimana risiko operasionalnya dikelola, serta apakah struktur pembiayaannya dapat berjalan dalam jangka panjang.
Director of Institutional Banking Group PT Bank DBS Indonesia Anthonius Sehonamin mengatakan keberlanjutan kini semakin berkaitan dengan ketahanan usaha, daya saing, dan penciptaan nilai.
“Di tengah perubahan lanskap bisnis yang semakin kompleks, perusahaan membutuhkan perspektif yang jelas untuk menentukan prioritas dan mengambil keputusan jangka panjang. Keberlanjutan kini semakin berkaitan erat dengan ketahanan usaha, daya saing, dan penciptaan nilai. Namun, pergeseran menuju bisnis yang lebih berkelanjutan tidak memiliki satu jalur yang sama di setiap sektor,” kata Anthonius.
Pernyataan tersebut penting karena memperlihatkan perubahan peran perbankan dalam transisi energi.
Pembiayaan bukan lagi semata-mata soal menyediakan modal. Perusahaan juga membutuhkan dukungan dalam menyiapkan proyek, menentukan struktur pembiayaan, dan menjembatani kebutuhan keberlanjutan dengan kelayakan komersial.
Bank DBS Indonesia menyediakan berbagai solusi, mulai dari sustainability financing, sustainability-linked financing, structured finance, blended finance, hingga business lending dan trade finance.
Dari Solar hingga BESS, Di Mana Peluang Bisnis Baru?
Lonjakan kebutuhan listrik membuka peluang di berbagai titik rantai nilai energi.
Peluangnya tidak hanya berada pada pembangunan pembangkit energi terbarukan.
Beberapa sektor yang berpotensi berkembang meliputi:
pembangunan energi surya;
pengembangan energi panas bumi;
BESS atau sistem penyimpanan energi berbasis baterai;
pembangunan dan modernisasi jaringan transmisi;
grid modernization;
elektrifikasi industri;
pengembangan ekosistem kendaraan listrik;
infrastruktur penukaran baterai.
Setiap sektor memiliki fungsi berbeda.
Pembangkit menghasilkan listrik. Jaringan transmisi membawa listrik ke lokasi yang membutuhkan. Sistem penyimpanan energi dapat membantu mengelola ketersediaan energi pada kondisi tertentu.
Artinya, pertumbuhan kebutuhan listrik Indonesia berpotensi menciptakan pasar baru yang tidak hanya berkaitan dengan pembangkitan energi.
Peran pembiayaan juga semakin luas. Bank DBS Indonesia, misalnya, menyebut dukungannya terhadap pembiayaan energi terbarukan termasuk panas bumi dan pembiayaan hijau untuk ekosistem elektrifikasi, termasuk kendaraan listrik roda dua serta infrastruktur penukaran baterai.
Simulasi Sederhana: Mengapa Potensi Energi Besar Belum Tentu Langsung Menjadi Listrik?
Bayangkan sebuah wilayah memiliki potensi energi surya yang sangat besar.
Di wilayah lain, sebuah kawasan industri berkembang pesat. Pusat data baru dibangun, kendaraan listrik semakin banyak digunakan, dan pabrik melakukan elektrifikasi proses produksi.
Secara teori, energi surya di wilayah pertama dapat membantu memenuhi kebutuhan listrik di kawasan industri tersebut.
Namun, agar hal itu terjadi, setidaknya diperlukan beberapa tahapan.
Pertama, proyek pembangkit harus dibangun.
Kedua, diperlukan jaringan yang mampu menyalurkan listrik ke pusat permintaan.
Ketiga, sistem kelistrikan harus mampu mengintegrasikan tambahan pasokan tersebut.
Keempat, proyek mungkin membutuhkan solusi penyimpanan energi.
Kelima, pengembang membutuhkan kepastian mengenai pembeli listrik dan arus pendapatan.
Keenam, seluruh struktur tersebut harus cukup layak untuk memperoleh pembiayaan.
Ilustrasi tersebut menunjukkan mengapa angka potensi energi sebesar 3.687 GW tidak dapat langsung disamakan dengan kapasitas listrik yang tersedia.
Jarak antara potensi dan pemanfaatan diisi oleh infrastruktur, teknologi, regulasi, kontrak, dan pembiayaan.
Justru pada titik-titik tersebut terdapat peluang investasi baru sekaligus hambatan yang harus diselesaikan.
Siapa yang Terdampak oleh Lonjakan Kebutuhan Listrik Indonesia?
Peningkatan konsumsi listrik akan berdampak pada berbagai kelompok.
Industri
Ketersediaan listrik semakin menentukan kemampuan industri untuk melakukan ekspansi dan elektrifikasi. Bagi sektor yang ingin masuk ke rantai pasok global, sumber energi juga dapat memengaruhi daya saing karbon produknya.
Sektor digital
Pertumbuhan AI dan pusat data membuat keandalan pasokan listrik menjadi bagian penting dari pengembangan ekonomi digital.
Potensi pasar yang besar saja tidak cukup jika investasi pusat data menghadapi ketidakpastian mengenai energi dan kebijakan jangka panjang.
Investor dan perbankan
Lonjakan kebutuhan energi menciptakan kebutuhan pembiayaan dalam skala besar, mulai dari pembangkit hingga transmisi dan penyimpanan energi.
Namun, peluang tersebut tetap membutuhkan proyek yang memiliki struktur risiko dan arus kas yang dapat diterima.
Masyarakat
Semakin banyak aktivitas sehari-hari bergantung pada listrik, mulai dari mobilitas hingga layanan digital.
Dalam jangka panjang, kualitas dan keandalan infrastruktur kelistrikan akan semakin berpengaruh terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
Apa Arti Lonjakan Kebutuhan Listrik bagi Masa Depan Ekonomi Indonesia?
Pertumbuhan kebutuhan listrik hingga lebih dari 1.800 TWh pada 2060 dapat dibaca dari dua sisi.
Di satu sisi, angka tersebut menunjukkan besarnya potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Permintaan listrik meningkat karena lebih banyak aktivitas yang menggunakan energi listrik, mulai dari transportasi, industri, hingga teknologi digital.
Di sisi lain, lonjakan tersebut juga menjadi ujian bagi kesiapan infrastruktur energi nasional.
Jika tambahan kebutuhan listrik tidak diikuti percepatan pembangunan energi terbarukan, transmisi, dan sistem pendukung, Indonesia berisiko menghadapi kesenjangan antara kebutuhan ekonomi dan kemampuan penyediaan energi.
Head of Research PT Bank DBS Indonesia William Simadiputra mengatakan strategi bisnis ke depan perlu memadukan penciptaan nilai, ketahanan, dan keberlanjutan.
“Bagi kami, temuan riset ini menegaskan bahwa strategi yang akan memenangkan persaingan ke depan adalah yang mampu memadukan penciptaan nilai, ketahanan, dan keberlanjutan sekaligus, bukan memilih salah satu di antaranya,” kata William.
Pesan tersebut menjadi relevan bagi masa depan sektor energi Indonesia.
Transisi energi bukan sekadar memilih antara pertumbuhan ekonomi atau keberlanjutan. Tantangan sebenarnya adalah memastikan pertumbuhan ekonomi yang membutuhkan semakin banyak listrik dapat berjalan bersamaan dengan pembangunan sistem energi yang lebih tangguh dan rendah karbon.
Indonesia sebenarnya tidak kekurangan potensi energi.
Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi listrik yang benar-benar tersedia ketika ekonomi membutuhkannya.
Kebutuhan listrik yang diproyeksikan meningkat sekitar enam kali lipat hingga 2060 dapat membuka peluang investasi dan penciptaan nilai yang sangat besar. Namun, tanpa percepatan pembangunan pembangkit energi bersih, jaringan transmisi, sistem penyimpanan energi, serta proyek yang layak dibiayai, kesenjangan antara ambisi dan realisasi bisa semakin lebar.
Pantau terus perkembangan transisi energi, investasi, dan ekonomi Indonesia untuk melihat bagaimana lonjakan kebutuhan listrik akan membentuk arah pertumbuhan bisnis pada masa depan.
Baca Juga: Ini Cara Kemenperin Integrasikan IKM ke Rantai Pasok Kendaraan Listrik
Baca Juga: Usai Gempa M7,7, PLN Pulihkan Seluruh Sistem Kelistrikan Flores
FAQ
Mengapa kebutuhan listrik Indonesia diperkirakan meningkat hingga 2060?
Kebutuhan listrik Indonesia diperkirakan meningkat karena pertumbuhan kendaraan listrik, pusat data, AI, hilirisasi mineral, elektrifikasi industri, dan penggunaan listrik yang semakin luas di rumah tangga. Perubahan tersebut membuat listrik menjadi bagian yang semakin penting dalam aktivitas ekonomi.
Berapa proyeksi konsumsi listrik Indonesia pada 2060?
Berdasarkan riset Bank DBS Indonesia, konsumsi listrik Indonesia diproyeksikan meningkat dari sekitar 300 TWh pada 2024 menjadi lebih dari 1.800 TWh pada 2060. Kenaikan tersebut setara dengan peningkatan sekitar enam kali lipat.
Berapa potensi energi terbarukan Indonesia?
Indonesia memiliki potensi energi terbarukan sekitar 3.687 GW berdasarkan data yang dikutip dalam riset Bank DBS Indonesia. Namun, pemanfaatannya masih kurang dari 0,5%, sehingga terdapat kesenjangan besar antara ketersediaan sumber daya dan kapasitas energi yang benar-benar dimanfaatkan.
Mengapa energi terbarukan Indonesia belum dimanfaatkan secara maksimal?
Hambatannya tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan modal. Pengembangan energi terbarukan juga menghadapi persoalan keterbatasan transmisi, kesiapan jaringan, kebutuhan penyimpanan energi, lokasi sumber daya, kepastian arus kas, serta kelayakan proyek untuk memperoleh pembiayaan.
Apa hubungan AI dan pusat data dengan kebutuhan listrik Indonesia?
Pertumbuhan AI meningkatkan kebutuhan terhadap infrastruktur komputasi dan pusat data. Pusat data membutuhkan pasokan listrik yang stabil dan besar, sehingga ekspansi AI dan ekonomi digital dapat menjadi salah satu faktor pendorong peningkatan konsumsi listrik.
Apa itu BESS dan mengapa penting dalam transisi energi?
BESS atau battery energy storage system merupakan sistem penyimpanan energi menggunakan baterai. Kehadirannya dapat menjadi bagian dari infrastruktur pendukung sistem energi, terutama untuk membantu pengelolaan dan pemanfaatan pasokan listrik dalam sistem kelistrikan yang semakin kompleks.
Apa peluang bisnis dari meningkatnya kebutuhan listrik Indonesia?
Peluang bisnis muncul di berbagai sektor, mulai dari energi surya, panas bumi, BESS, transmisi, modernisasi jaringan listrik, elektrifikasi industri, kendaraan listrik, hingga infrastruktur penukaran baterai. Besarnya kebutuhan listrik membuka peluang investasi baru, meski setiap proyek tetap harus memiliki struktur bisnis dan pembiayaan yang layak.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 20 Agustus 2026: Watak Weton Kamis Wage Punya Cita-Cita Tinggi
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Drone Buatan Inggris Dipakai Ukraina, Rusia Mengancam: Semakin Terlibat, Semakin Tinggi Harga yang Harus Dibayar!
- 4Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 520 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 810 Merek Tertua di Indonesia yang Masih Bertahan, Ada yang Berusia 144 Tahun
- 9Kabar Baik, Guru PPPK Penuh Waktu Bisa Ikut Seleksi CPNS Mulai 2027
- 10Mampukah Pramono Anung Tuntaskan PR yang Tertinggal di Jakarta?






