Akurat
Pemprov Sumsel

Enggak Sekadar Hadirkan Air Mata, Film Jangan Buang Ibu Jadi Surat Cinta Lintas Generasi untuk Orang Tua ​

Nuzulul Karamah | 13 Maret 2026, 22:21 WIB
Enggak Sekadar Hadirkan Air Mata, Film Jangan Buang Ibu Jadi Surat Cinta Lintas Generasi untuk Orang Tua ​
Industri sinema Indonesia bersiap menyambut sebuah drama keluarga yang menyentuh relung hati terdalam. LEO Pictures secara resmi memperkenalkan proyek terbaru mereka berjudul “Jangan Buang Ibu."

AKURAT.CO, Industri sinema Indonesia bersiap menyambut sebuah drama keluarga yang menyentuh relung hati terdalam. LEO Pictures secara resmi memperkenalkan proyek terbaru mereka berjudul “Jangan Buang Ibu."

Film yang digawangi oleh sutradara Hadrah Daeng Ratu ini menjanjikan sebuah refleksi tajam mengenai arti kehadiran, pengabdian, dan luka tersembunyi dalam sebuah keluarga.

Baca Juga: Nia Dinata dan Hadrah Daeng Ratu Siap Garap Dua Film Original di Netflix

​Dikenal sebagai "Queen of Horror," Hadrah Daeng Ratu kali ini menanggalkan kesan mistis demi sebuah cerita yang sanggup menguras emosi.

Produser Agung Saputra mengungkapkan bahwa pergeseran genre ini justru datang dari keinginan sang sutradara sendiri.

​“Sebenarnya dulu nawarinnya buat horor ya, bu. Karena Bu Hadrah Queen of Horror-nya Indonesia kan. Semua horornya box office gitu. Tapi Bu Hadrah minta, ‘boleh enggak untuk sama LEO Pictures saya pengen drama.' Lalu kebetulan memang saya lagi develop judulnya ‘Jangan Buang Ibu,'" ujar Agung Saputra di Senayan, Jakarta, Jumat (13/3/2026).

​Agung menambahkan bahwa film ini dirancang agar dekat dengan denyut nadi masyarakat tanpa bermaksud menyudutkan pihak mana pun.

​“Kita penginnya tuh relate banget sama masyarakat Indonesia. Tapi kita enggak bikin kalau judulnya kan memang benar-benar ‘Jangan Buang Ibu’ gitu, tapi di sini kita tidak membuat cerita yang sebagai anak durhaka atau ini. Nonton aja nanti baru mengerti bahwa ibu juga di hari tuanya hanya pengen ditemani, pengen diperhatikan,” jelasnya.

Baca Juga: Nirina Zubir Pingin Lebih Ngirit Lihat Sikon Ekonomi Saat Ini

​Sorotan utama tertuju pada Nirina Zubir yang memerankan tokoh Ristiana.

Demi peran ini, Nirina harus bertransformasi menjadi lansia berusia 7 dekade dengan proses prostetik yang melelahkan.

​“Empat jam sebelum orang lain datang! Jadi baru ngerti artinya pre-call itu apa. Seumur hidup main film belum pernah ngalamin kayak gitu,” ungkap Nirina.

​Bagi Nirina, film ini awalnya diniatkan sebagai pesan untuk anak-anaknya sendiri, namun justru berubah menjadi refleksi pribadinya terhadap sang bunda.

​“Ternyata pas lagi menjalankan karakter ini kebalik. Jadi ceritanya malah aku diingatkan betapa dulu punya ibu dan apa yang sudah ibuku lakukan untuk menjadi seorang Nirina Zubir sekarang. Jadi ternyata ini surat cinta buat aku sendiri kepada ibuku,” tuturnya.

​Dinamika Karakter: Antara Ego, Tekanan, dan Kehamilan

​Film ini juga diperkuat oleh deretan bintang papan atas yang membawa konflik masing-masing. Dwi Sasono memerankan sosok bapak yang terjebak ambisi.

​“Di sini itu saya sebagai seorang bapak yang belum selesai dengan dirinya sendiri. Masih terjebak dengan rasa egoistis dan ambisinya. Sehingga keputusannya membuat dampak yang buruk untuk keluarga-keluarganya,” ucap Dwi Sasono.

​Refal Hady sebagai anak sulung yang menyimpan beban berat.

​“Tama ini adalah anak pertama yang sejak kecil sudah menjadi salah satu sandaran dari ibunya dan panutan buat adik-adiknya. Jadi dia punya tanggung jawab yang tinggi, tapi di satu sisi juga vulnerable karena banyak yang tidak tersampaikan oleh kata-kata,” kata Refal.

​Amanda Manopo menghadapi tantangan fisik karena syuting di tengah kehamilan muda.

​“Challenge-nya aku di film ini itu aku posisinya lagi hamil. Lagi hamil waktu itu dan masih trimester pertama. Jadi aku juga takut kalau syuting drama terus emosional, takut baby-nya kenapa-kenapa,” kata Amanda.

​Yasmin Napper, yang kini menjajaki peran di balik layar sebagai Executive Producer, mengaku terlibat karena ikatan kuat dengan ibunya sendiri.

Dia merasa setiap orang pasti memiliki keterikatan dengan sosok ibu dalam bentuk apapun.

​Menutup perkenalan film ini, Hadrah Daeng Ratu berharap karya ini mampu menggerakkan hati penonton untuk lebih menghargai waktu bersama orang tua.

​“Kalau nontonnya bareng ibu di sebelahnya, rasanya pengin pegang tangan ibu, peluk tangan ibu. Yang nontonnya enggak bareng ibu rasanya pengen buru-buru telepon atau pulang karena ini bener-bener film persembahan untuk ibu,” pungkas Hadrah.

​“Jangan Buang Ibu” dijadwalkan akan menghangatkan layar bioskop pada momen liburan tahun ini, membawa pesan sederhana namun mendalam, yakni bahwa ibu adalah rumah tempat kita selalu kembali.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.