Gentle Parenting, Mengasuh Tanpa Marah dan Teriak

AKURAT.CO Praktisi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Ester Terviana berpandangan, orang tua perlu meningkatkan kualitas pengasuhan yang menghormati hak dan kebutuhan anak dengan pendekatan gentle parenting.
Menurutnya, gentle parenting muncul sebagai respons atas kebutuhan pengasuhan yang lebih sadar dan berpihak pada pemenuhan hak anak.
Ester menyoroti realita orang tua yang sebagian besar tidak ingin memarahi anaknya.
Namun, kerap kali orang tua belum mengetahui kiat membuat anak disiplin tanpa teriak atau marah.
Sebagai contoh, hampir sebagian besar orang tua terkesan mengancam pada anak. Misalnya, “kalau tidak nurut mama marah!' “Kalau gak nurut, mama pergi."
“Realitas kegalauan itu kerap dijumpai para orang tua. Kenapa anakku tidak mau belajar? Kenapa anakku main terus? Kenapa anakku tidak patuh? Kapan anakku bisa baca?" Kata Ester dihubungi di Jakarta, Rabu (22/04/2026).
Baca Juga: Dilema Penerapan Gentle Parenting pada Anak, Bikin Stres Orang Tua?
Kajian yang dilakukan Ester menemukan dua pola asuh anak yang selama ini dilakukan orang tua, yakni parenting keras (marah, teriak); dan parenting terlalu memanjakan.
“Dampak parenting keras, bahwa anak patuh karena takut, anak mudah melawan saat besar, anak sulit mengontrol emosi, anak tidak berani mengungkapkan perasaannya, serta anak tidak mempercayai orang tua,” ungkapnya.
Menurut Ester, dampak orang tua terlalu memanjakan anak, akan membuat anak menjadi pribadi yang kurang mandiri, anak tidak memiliki kemampuan untuk bertanggung jawab, anak bisa manipulatif karena terlalu sering dilindungi, dan kemampuan interaksi sosial anak menjadi buruk.
Oleh karena itu, diperlukan terobosan strategi mengasuh anak dengan tenang, tegas, konsisten dan penuh empati.
Bahwa, prinsip gentle parenting adalah tenang sebelum mendidik, memahami emosi anak, tetap ada aturan, dan mengajarkan bukan menghukum.
“Kebutuhan anak yang sebenarnya adalah anak butuh orang tua yang hangat, orang tua yang tegas, dan aturan yang konsisten,” terangnya.
Ester lantas memberikan 5 strategi gentle parenting untuk para orang tua. Pertama, orang tua turun ke level anak.
“Dekati anak dan lihat matanya saat berbicara,” ujarnya.
Kedua, beri instruksi singkat 7-10 kata pada anak. Ketiga, beri pilihan terbatas dua pilihan dengan satu tujuan. Keempat, aturan jelas dan konsekuensi. Hal itu dilakukan dengan membuat kesepakatan keluarga. Dan, kelima, daily routine dan konsisten.
“Rutinitas membuat anak lebih mudah disiplin,” katanya.
Lebih lanjut dikatakan Ester, orang tua juga penting untuk mengoreksi dirinya selama membersamai anak. Terdapat 3 hal yang perlu diperhatikan orang tua.
Pertama, apakah anak merasa dicintai?Pasalnya, anak akan mengingat saat dipeluk, didengarkan, dihargai.
Oleh karena itu, perasaan dicintai memberi anak rasa aman, kepercayaan diri, keberanian menghadapi dunia.
“Cinta orang tua adalah pondasi hidup anak,” kata Ester.
Kedua, cara orang tua berbicara kepada anak.
Anak sangat mengingat kata-kata orang tua. Sebab, kata-kata bisa menjadi dorongan yang membangun atau luka yang membekas.
Baca Juga: Dilema Penerapan Gentle Parenting pada Anak, Bikin Stres Orang Tua?
Ketiga, apakah orang tua hadir dalam hidup anak. Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna.
“Anak membutuhkan orang tua yang hadir, memberi perhatian, dan meluangkan waktu,” pungkas Ester.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









