Akurat
Pemprov Sumsel

Musik, Film, dan Gim Jadi Senjata Baru Indonesia di Kancah Global

Sri Agustina | 10 Oktober 2025, 15:49 WIB
Musik, Film, dan Gim Jadi Senjata Baru Indonesia di Kancah Global

AKURAT.CO Industri hiburan Indonesia kini bergerak lebih jauh dari sekadar ruang hiburan. Dari layar sinema, panggung musik, hingga dunia gim, karya anak bangsa mulai memainkan peran penting sebagai soft power kekuatan budaya yang memperkenalkan Indonesia ke dunia.

Isu ini menjadi bahasan utama dalam acara Power Lunch “Membangun Percakapan Global Lewat Entertainment” yang digelar GDP Venture pada Rabu, 8 Oktober 2025, di Jakarta.

Hadir sebagai pembicara, antara lain Martin Hartono (CEO GDP Venture), Angga Dwimas Sasongko (CEO Visinema), Arief Widhiyasa (Co-founder Agate & CEO Confiction Labs), serta Suwandi Ahmad (Chief Data Officer Lokadata.id) yang memaparkan data terbaru industri hiburan Indonesia.

Baca Juga: Rio Dewanto Dimarahi Angga Dwimas Sasongko , Waduh Ada Masalah Apa?

Menurut data Lokadata (2025), sektor ekonomi kreatif kini berkontribusi sekitar Rp1.300 triliun atau 7,8% dari PDB nasional, dengan lebih dari 24 juta tenaga kerja di dalamnya.

Subsektor film, musik, dan gim menjadi motor utama, menyumbang seperempat dari total nilai ekonomi kreatif nasional.

“Generasi muda kini bukan hanya penikmat, tapi juga kreator. Mereka membuat, meniru, membagikan ulang, dan ikut membentuk percakapan global,” ujar Suwandi Ahmad.

Survei Lokadata juga menunjukkan 95% anak muda Indonesia mendengarkan musik daring setiap hari, dengan 40% menghabiskan waktu lebih dari satu jam. Menariknya, 54% menemukan musik baru melalui media sosial, menandakan bahwa algoritma digital kini ikut membentuk arus budaya populer baru.

Bagi Martin Hartono, soft power tak hanya soal film, musik, atau gim, tetapi juga nilai-nilai budaya dan simbol-simbol yang dikenal dunia.

“India dikenal lewat Bollywood. Indonesia juga punya potensi serupa dengan kekayaan budayanya yang luar biasa,” ujarnya.

Melalui kolaborasi dengan 88rising, GDP Venture mendorong musisi Indonesia tampil dengan identitas khas. Nama-nama seperti Rich Brian, NIKI, Warren Hue, hingga grup vokal No Na menjadi representasi keberhasilan ini. “No Na, kami bentuk dengan keyakinan bahwa girl group Indonesia bisa melampaui K-pop. Data menunjukkan penggemar terbesar kedua mereka justru dari Korea,” ungkap Martin.

Pendekatan GDP Venture bukan dengan meniru tren global, melainkan menghadirkan karakter otentik yang berakar dari nilai dan keberagaman Indonesia sesuatu yang justru menjadi daya tarik di mata dunia.

Sementara itu, Visinema di bawah kepemimpinan Angga Dwimas Sasongko memandang industri film Indonesia tengah menuju fase baru, dari sekadar produksi konten menjadi bisnis hiburan berbasis ekosistem dan Intellectual Property (IP).

“Film bukan hanya produk akhir, tapi medium untuk mendistribusikan cerita. Dari situ, IP bisa berkembang ke serial, musik, hingga merchandise,” ujar Angga.

Salah satu proyek unggulan Visinema adalah animasi JUMBO, yang mengangkat nilai keluarga dan dikembangkan sebagai IP jangka panjang dengan rencana produksi hingga lima tahun ke depan.

Menariknya, pertumbuhan film lokal juga semakin kuat. Dalam tiga tahun terakhir, market share film Indonesia menembus lebih dari 50%, menandakan penonton kini semakin percaya pada cerita dari rumah sendiri.

“Bioskop bukan sekadar tempat menonton, tapi ruang budaya, tempat penonton dan pencipta bertemu dalam pengalaman kolektif,” tambah Angga.

Di sisi lain, industri gim Indonesia juga tak kalah menggeliat. Sebelum pandemi, pertumbuhannya mencapai 9–10% per tahun, melonjak selama pandemi, dan kini stabil dengan kontribusi lebih dari 8,5% terhadap ekonomi kreatif nasional.

“Gim adalah medium kolaboratif yang mempertemukan seni, teknologi, dan budaya. Ini cara baru memperkenalkan nilai Indonesia ke dunia,” kata Arief Widhiyasa, Co-founder Agate dan CEO Confiction Labs.

Agate dikenal lewat gim-gim global seperti Valthirian Arc, Code Atma, dan Rifstorm, semuanya lahir dari tangan kreator lokal.

Untuk memperkuat SDM, sejak 2018 Agate juga mendirikan Agate Academy, lembaga pelatihan pengembangan gim bagi pelajar, mahasiswa, dan profesional.

Dari musik, film, hingga gim, kreativitas anak bangsa kini tumbuh menjadi kekuatan baru yang membangun persepsi positif Indonesia di mata dunia. Keberhasilan ini bukan sekadar soal popularitas, tetapi kemampuan menghadirkan nilai dan identitas lokal dengan cara yang relevan secara global.

Baca Juga: Angga Dwimas Sasongko dan Visinema Pictures Buat Posko Bantuan untuk Korban Banjir

Dengan semakin banyaknya karya Indonesia yang menembus panggung internasional, Indonesia kini tak lagi hanya menjadi penonton, melainkan narator yang membawa suara, nilai, dan kisahnya sendiri di percakapan budaya global.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Sri Agustina
R