Akurat Logo

Jakarta Akan Padamkan Lampu Serentak pada 13 Juni, Hemat Berapa Megawatt dan Emisi Karbon?

Titania Isnaenin | 11 Juni 2026, 22:52 WIB
Jakarta Akan Padamkan Lampu Serentak pada 13 Juni, Hemat Berapa Megawatt dan Emisi Karbon?
Dampak Jakarta padam lampu 13 Juni dari sisi sains.

AKURAT.CO Aksi pemadaman lampu serentak di wilayah DKI Jakarta kembali digelar pada Sabtu (13/6/2026), mulai pukul 20.30 hingga 21.30 WIB untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Langkah simbolis yang mengistirahatkan sejumlah ikon kota dan gedung perkantoran ini bukan sekadar ritual estetik belaka, melainkan sebuah gerakan nyata berbasis data lingkungan.

Di balik gelapnya sudut-sudut ibu kota selama 60 menit, terdapat kalkulasi teknologi energi dan sains lingkungan yang menarik untuk dibedah secara mendalam.

Membedah Angka Penghematan Megawatt Listrik

Ketika jutaan lampu dinonaktifkan secara bersamaan di pusat bisnis, fasilitas publik, dan pemukiman warga, beban grid kelistrikan PT PLN (Persero) di wilayah distribusi Jakarta akan langsung merosot tajam.

Berdasarkan tren data historis dari aksi serupa yang diprakarsai Pemprov DKI, pemadaman lampu serentak selama satu jam mampu menekan konsumsi listrik secara signifikan.

Dalam durasi 60 menit tersebut, Jakarta diproyeksikan mampu menghemat daya listrik berkisar antara 85 hingga 98 Megawatt-hour (MWh).

Jika dikonversikan ke dalam nominal rupiah melalui tarif keekonomian listrik saat ini, perputaran efisiensi biaya yang berhasil ditekan dari sektor hulu ke hilir mencapai lebih dari Rp140 juta hingga Rp160 juta hanya dalam waktu satu jam.

Penurunan beban secara mendadak ini juga menjadi uji coba menarik bagi sistem Smart Grid milik PLN dalam memanajemen distribusi arus listrik di kota metropolitan.

Kalkulasi Penurunan Emisi Karbon (CO2​e)

Sektor ketenagalistrikan di Indonesia sejauh ini masih didominasi oleh Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis batu bara dan gas alam.

Oleh karena itu, setiap kilowatt-hour (kWh) listrik yang tidak kita gunakan di rumah atau di kantor secara otomatis akan mengurangi volume pembakaran bahan bakar fosil di cerobong pembangkit.

Secara kalkulasi sains lingkungan, setiap penghematan 1 MWh listrik di grid Jawa-Madura-Bali setara dengan mereduksi emisi sekitar 0,7 hingga 0,8 ton karbon dioksida ekuivalen (CO2​e).

Dengan potensi penghematan mencapai 98 MWh pada aksi 13 Juni ini, Jakarta berkontribusi langsung memotong emisi karbon hingga 75 hingga 80 ton CO2​e.

Pengurangan emisi sebesar 78 ton CO2​e dalam satu jam ini setara dengan mengistirahatkan sekitar 16.000 unit mobil penumpang berbahan bakar bensin dari jalanan kota Jakarta selama satu hari penuh, atau sama dengan daya serap karbon dari ribuan pohon dewasa dalam setahun.

Peran IoT dan Smart Building dalam Aksi Pemadaman

Meredupkan kota metropolitan terbesar di Asia Tenggara tidak lagi dilakukan secara manual dengan menarik sakelar di setiap lantai gedung. Di era smart city saat ini, kanal teknologi mencatat peran besar dari Building Management System (BMS) berbasis Internet of Things (IoT).

Gedung-gedung pencakar langit di sepanjang koridor Sudirman, Thamrin, hingga Kuningan telah mengintegrasikan sistem otomasi pencahayaan.

Melalui pemrograman komputer pusat, ribuan lampu eksterior, papan reklame LED raksasa, dan pencahayaan dekoratif dapat dipadamkan secara serentak tepat pada pukul 20.30 WIB dan menyala kembali pada 21.30 WIB tanpa mengganggu operasional sistem keamanan atau perangkat krusial seperti data center.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.