4 Kesalahan Liburan ke Jepang yang Paling Sering Dilakukan Wisatawan Indonesia, Jangan Sampai Menyesal Setelah Tiba

AKURAT.CO Merencanakan liburan ke Jepang sering kali dimulai dengan berburu tiket promo, membuat daftar destinasi impian, hingga menyusun itinerary yang padat agar semua tempat terkenal bisa dikunjungi. Namun, tidak sedikit wisatawan Indonesia yang baru menyadari kesalahan-kesalahan penting setelah mereka tiba di Negeri Sakura. Akibatnya, biaya perjalanan membengkak, waktu terbuang sia-sia, hingga pengalaman liburan tidak seindah yang dibayangkan.
Kesalahan liburan ke Jepang yang paling sering dilakukan wisatawan Indonesia umumnya meliputi:
Menyusun itinerary yang terlalu padat.
Membeli JR Pass tanpa menghitung kebutuhan perjalanan.
Tidak memperhitungkan biaya-biaya tersembunyi.
Mengabaikan risiko perjalanan seperti keterlambatan penerbangan atau kehilangan bagasi.
Kesalahan-kesalahan tersebut terdengar sederhana, tetapi dampaknya bisa sangat besar terhadap kenyamanan selama berlibur. Menariknya, berbagai risiko tersebut juga tercermin dalam data klaim perjalanan yang diterima Allianz Utama Indonesia sepanjang 2026.
Mengapa Wisatawan Indonesia ke Jepang Terus Meningkat?
Jepang masih menjadi salah satu destinasi wisata luar negeri yang paling diminati masyarakat Indonesia. Perpaduan budaya tradisional dan modern, sistem transportasi yang efisien, kuliner yang beragam, hingga musim semi dengan bunga sakura membuat Negeri Sakura selalu masuk daftar tujuan impian banyak orang.
Tren tersebut juga terlihat dari data Japan National Tourism Organization (JNTO). Sepanjang Januari hingga Mei 2026, sebanyak 327.000 wisatawan Indonesia berkunjung ke Jepang. Jumlah itu meningkat sekitar 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Lonjakan jumlah wisatawan ini menunjukkan bahwa semakin banyak masyarakat Indonesia, terutama generasi muda, yang mulai berani melakukan perjalanan internasional secara mandiri. Jika beberapa tahun lalu banyak orang memilih paket tur, kini tren berubah. Wisatawan lebih suka menyusun itinerary sendiri agar lebih fleksibel sekaligus menghemat biaya.
Namun, di balik meningkatnya minat tersebut, muncul fenomena lain yang menarik. Semakin banyak pula wisatawan yang baru pertama kali mengunjungi Jepang. Mereka rajin mencari referensi di media sosial, menonton vlog perjalanan, hingga menyimpan puluhan rekomendasi tempat viral. Sayangnya, informasi yang tersebar di internet sering kali hanya menampilkan sisi menyenangkan sebuah perjalanan, sementara aspek perencanaan yang matang justru luput dari perhatian.
Inilah yang membuat banyak wisatawan baru menyadari berbagai kesalahan setelah liburan berlangsung.
Liburan yang Nyaman Tidak Dimulai di Bandara, tetapi Jauh Sebelum Hari Keberangkatan
Banyak orang menganggap persiapan liburan selesai ketika tiket pesawat sudah dibeli dan hotel telah dipesan. Padahal, kenyamanan perjalanan justru sangat ditentukan oleh keputusan-keputusan kecil yang dibuat sejak jauh hari sebelum keberangkatan.
Ignatius Hendrawan, Direktur & Chief Technical Officer Allianz Utama Indonesia, mengatakan bahwa wisatawan sering kali terlalu fokus mencari harga tiket termurah atau menyusun jadwal perjalanan yang padat, tetapi kurang memperhatikan aspek lain yang tidak kalah penting.
"Saat merencanakan perjalanan, banyak orang fokus mencari tiket dengan harga terbaik atau menyusun itinerary yang padat. Padahal, pengalaman liburan yang nyaman juga ditentukan oleh seberapa matang persiapan yang dilakukan sejak sebelum keberangkatan. Selain melakukan riset mengenai destinasi dan menyusun anggaran, wisatawan juga perlu mempertimbangkan perlindungan yang tepat sebagai bagian dari persiapan," ujar Ignatius Hendrawan melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, dikutip Senin, 6 Juli 2026.
Menurutnya, persiapan yang matang tidak hanya membantu wisatawan menghemat waktu dan biaya, tetapi juga membuat mereka lebih siap menghadapi berbagai situasi yang tidak direncanakan selama perjalanan.
Pandangan tersebut sejalan dengan tren yang juga terlihat di Allianz Utama Indonesia. Perusahaan mencatat lebih dari 41.000 pembelian polis Asuransi Perjalanan Internasional hingga Juni 2026, mencerminkan semakin banyak masyarakat Indonesia yang mulai menyadari pentingnya perlindungan selama bepergian ke luar negeri.
Meski demikian, perlindungan perjalanan hanyalah salah satu bagian dari persiapan. Kesalahan paling besar justru sering terjadi jauh sebelum wisatawan berangkat, yakni saat mereka menyusun rencana perjalanan.
Kesalahan Pertama: Itinerary Terlalu Padat Justru Membuat Liburan Kurang Menyenangkan
Banyak first-time traveler memiliki pola pikir yang sama: semakin banyak tempat yang dikunjungi, semakin sukses liburannya.
Akibatnya, satu hari bisa diisi dengan lima hingga tujuh destinasi sekaligus. Pagi dimulai di Asakusa, siang berpindah ke Shibuya, sore menuju Akihabara, malam berburu foto di Tokyo Tower, lalu masih ingin menikmati suasana Shinjuku sebelum kembali ke hotel.
Di atas kertas, rencana tersebut terlihat masuk akal.
Namun kenyataan di lapangan sering kali berbeda.
Perjalanan antardestinasi membutuhkan waktu lebih lama dari perkiraan. Belum lagi waktu berjalan kaki di stasiun yang besar, antre membeli makanan, mencari pintu keluar yang tepat, hingga menunggu kereta berikutnya. Semua aktivitas kecil itu sering tidak diperhitungkan saat menyusun itinerary.
Akibatnya, wisatawan justru lebih banyak mengejar waktu daripada menikmati perjalanan.
Fenomena FOMO Membuat Itinerary Tidak Realistis
Media sosial tanpa disadari turut mendorong munculnya fenomena Fear of Missing Out (FOMO) dalam dunia wisata.
Banyak orang merasa harus mengunjungi semua tempat yang sedang viral agar tidak menyesal. Padahal, belum tentu semua destinasi tersebut sesuai dengan minat pribadi.
Sebagai contoh, Tokyo Skytree memang menjadi salah satu ikon wisata paling terkenal di Tokyo. Hampir setiap panduan perjalanan memasukkan tempat ini sebagai destinasi wajib.
Namun, popularitas tersebut juga membawa konsekuensi.
Pada musim liburan, antrean tiket bisa sangat panjang dan area observatorium dipenuhi wisatawan. Waktu yang dihabiskan untuk mengantre terkadang lebih lama dibanding waktu menikmati pemandangan dari atas.
Bagi sebagian orang, pengalaman tersebut tetap sepadan. Namun bagi wisatawan yang memiliki waktu terbatas, ada alternatif lain yang justru menawarkan pengalaman serupa tanpa biaya masuk.
Misalnya Tokyo Metropolitan Government Building maupun Bunkyo Civic Center. Kedua observatorium ini menawarkan panorama kota Tokyo dari ketinggian dengan biaya masuk gratis. Selain menghemat anggaran, waktu yang dihabiskan untuk mengantre pun umumnya lebih singkat.
Di sinilah pentingnya melakukan riset sebelum berangkat.
Bukan berarti destinasi populer harus dihindari, melainkan memahami bahwa tempat paling terkenal belum tentu menjadi pilihan terbaik untuk semua orang.
Baca Juga: Jepang Batasi Wisata ke Pemandian Monyet Salju, Ulah Turis Dinilai Sudah Kelewatan
Baca Juga: Kemnaker Buka Pendaftaran Magang Jepang dan Kaigo, Ini Syaratnya
Liburan Berkualitas Tidak Diukur dari Banyaknya Destinasi
Ada satu paradoks yang sering dialami wisatawan pertama kali ke Jepang.
Mereka datang dengan daftar tujuan yang sangat panjang karena ingin memanfaatkan setiap menit selama berada di luar negeri. Namun ketika pulang, yang paling diingat justru rasa lelah akibat berpindah-pindah tempat.
Sebaliknya, wisatawan yang memilih mengunjungi lebih sedikit lokasi sering kali memiliki pengalaman yang lebih berkesan. Mereka memiliki waktu untuk menikmati suasana kota, mencoba kuliner lokal tanpa terburu-buru, atau sekadar duduk di taman sambil mengamati kehidupan masyarakat Jepang.
Fenomena ini menunjukkan bahwa nilai sebuah perjalanan tidak selalu ditentukan oleh jumlah destinasi yang berhasil dikunjungi.
Justru, itinerary yang realistis memungkinkan wisatawan menikmati setiap momen tanpa merasa terus dikejar waktu. Dalam konteks inilah riset sebelum keberangkatan menjadi investasi yang sering kali lebih berharga daripada sekadar mendapatkan tiket pesawat dengan harga paling murah.
Perencanaan yang matang bukan hanya membantu menghemat anggaran, tetapi juga membuat perjalanan terasa lebih fleksibel ketika menghadapi kondisi tak terduga. Prinsip yang sama juga berlaku saat menentukan moda transportasi selama berada di Jepang. Banyak wisatawan langsung membeli Japan Rail Pass (JR Pass) karena menganggapnya selalu lebih hemat, padahal kenyataannya tidak selalu demikian.
Kesalahan Kedua: Jangan Langsung Membeli JR Pass Tanpa Menghitung Rute Perjalanan
Selama bertahun-tahun, Japan Rail Pass (JR Pass) dikenal sebagai "senjata wajib" bagi wisatawan asing yang ingin berkeliling Jepang. Banyak artikel, video perjalanan, hingga unggahan media sosial masih merekomendasikan JR Pass sebagai cara paling hemat untuk menikmati jaringan kereta Jepang.
Padahal, kondisi tersebut sudah tidak selalu berlaku.
Setelah terjadi penyesuaian harga JR Pass, banyak wisatawan justru mengeluarkan biaya lebih besar karena membeli pass yang sebenarnya tidak sesuai dengan pola perjalanan mereka. Kesalahan ini sering terjadi karena wisatawan mengikuti rekomendasi lama tanpa menghitung kembali kebutuhan transportasi mereka.
Misalnya, seorang wisatawan berencana menghabiskan enam hari di Tokyo dan hanya melakukan satu kali perjalanan pulang-pergi ke Osaka menggunakan Shinkansen. Dalam kondisi seperti ini, membeli tiket kereta secara terpisah bisa saja lebih ekonomis dibanding membeli JR Pass nasional.
Sebaliknya, JR Pass akan jauh lebih menguntungkan bagi wisatawan yang berpindah-pindah kota dalam waktu singkat, misalnya Tokyo–Kyoto–Osaka–Hiroshima, dengan frekuensi perjalanan menggunakan kereta cepat yang tinggi.
Inilah mengapa menghitung rute perjalanan sejak awal menjadi langkah penting sebelum menentukan jenis tiket transportasi yang akan digunakan.
Kesalahan ini menunjukkan bahwa cara menghemat biaya liburan bukan sekadar mencari promo, melainkan memahami kebutuhan perjalanan secara spesifik.
Kesalahan Ketiga: Mengabaikan Biaya Kecil yang Justru Membengkakkan Anggaran
Banyak wisatawan menyusun anggaran hanya berdasarkan tiga komponen utama, yaitu tiket pesawat, hotel, dan uang makan. Padahal, ada sejumlah biaya lain yang sering kali baru disadari ketika proses keberangkatan sudah dekat atau bahkan saat sudah tiba di Jepang.
Salah satu perubahan yang perlu diperhatikan adalah kenaikan biaya visa Jepang. Mulai 1 Juli 2026, Pemerintah Jepang menaikkan biaya pengajuan visa bagi wisatawan asing. Biaya single-entry visa meningkat dari 3.000 yen menjadi 15.000 yen, sedangkan multiple-entry visa naik dari 6.000 yen menjadi 30.000 yen.
Namun, biaya visa hanyalah salah satu komponen.
Pengeluaran lain yang sering luput dari perhitungan meliputi:
transportasi lokal yang tidak tercakup dalam pass tertentu;
city tax yang dikenakan sejumlah hotel;
biaya penitipan bagasi;
tambahan bagasi pesawat untuk oleh-oleh;
biaya reservasi atraksi wisata populer;
biaya internet atau kartu SIM selama di Jepang.
Jika dijumlahkan, berbagai pengeluaran tersebut dapat mencapai jutaan rupiah di luar anggaran utama.
Simulasi Sederhana
Bayangkan seorang wisatawan telah menyiapkan anggaran Rp25 juta untuk liburan selama tujuh hari.
Ia merasa seluruh kebutuhan sudah tercukupi karena tiket pesawat dan hotel telah dibayar. Namun setelah perjalanan berlangsung, muncul pengeluaran tambahan seperti biaya visa, city tax hotel, tambahan bagasi pulang, reservasi atraksi, hingga transportasi lokal yang ternyata tidak masuk dalam JR Pass.
Tanpa disadari, total pengeluaran bertambah beberapa juta rupiah. Kondisi seperti ini sangat umum terjadi, terutama bagi first-time traveler yang belum memahami struktur biaya perjalanan di Jepang.
Karena itu, menyusun anggaran secara menyeluruh jauh lebih penting dibanding sekadar mencari tiket pesawat termurah.
Kesalahan Wisatawan Indonesia Bukan Kurang Informasi, tetapi Terlalu Banyak Informasi
Menariknya, sebagian besar kesalahan di atas bukan terjadi karena wisatawan tidak mencari informasi.
Justru sebaliknya.
Mereka memperoleh terlalu banyak referensi dari media sosial, blog perjalanan, maupun video wisata.
Masalahnya, tidak semua informasi tersebut relevan dengan kondisi masing-masing wisatawan. Itinerary seorang content creator yang berada di Jepang selama dua minggu belum tentu cocok diterapkan oleh wisatawan dengan waktu liburan lima hari. Begitu pula rekomendasi membeli JR Pass yang mungkin dibuat sebelum adanya penyesuaian harga.
Fenomena ini menunjukkan bahwa merencanakan perjalanan tidak cukup hanya mengumpulkan informasi sebanyak mungkin. Yang lebih penting adalah menyaring informasi berdasarkan kebutuhan, anggaran, serta gaya berwisata masing-masing.
Di sinilah riset yang lebih mendalam menjadi pembeda antara perjalanan yang nyaman dengan perjalanan yang penuh penyesalan.
Kesalahan Keempat: Menganggap Risiko Perjalanan Jarang Terjadi
Selain itinerary dan anggaran, ada satu aspek yang masih sering diabaikan wisatawan Indonesia, yaitu mengantisipasi risiko selama perjalanan.
Sebagian orang menganggap risiko perjalanan identik dengan kejadian besar seperti gempa bumi atau kecelakaan. Padahal, berdasarkan pengalaman menangani klaim, gangguan yang paling sering terjadi justru merupakan hal-hal yang tampak sederhana, tetapi dapat mengganggu seluruh rencana liburan.
Data klaim Allianz Utama Indonesia sepanjang 2026 menunjukkan bahwa penundaan perjalanan menjadi klaim yang paling banyak diajukan dengan 2.123 kasus. Disusul perlindungan terhadap bagasi sebanyak 1.087 kasus, serta 579 klaim biaya medis dan biaya terkait medis di luar negeri.
Khusus untuk perjalanan ke Jepang, polanya juga serupa. Penundaan perjalanan menjadi klaim terbanyak dengan 188 kasus, diikuti gangguan perjalanan dan kehilangan transportasi lanjutan sebanyak 106 kasus, biaya medis sebanyak 87 kasus, serta perlindungan terhadap bagasi sebanyak 84 kasus.
Data tersebut memberikan gambaran yang menarik. Risiko terbesar wisatawan ternyata bukan kejadian luar biasa, melainkan gangguan operasional yang peluang terjadinya jauh lebih tinggi.
Penerbangan yang tertunda beberapa jam, koper yang tidak langsung tiba di bandara tujuan, atau kondisi kesehatan yang memerlukan perawatan medis dapat mengubah seluruh rencana perjalanan sekaligus menimbulkan biaya tambahan yang tidak sedikit.
Ignatius Hendrawan menilai persiapan perjalanan seharusnya tidak hanya berfokus pada destinasi yang ingin dikunjungi, tetapi juga kesiapan menghadapi situasi yang tidak dapat diprediksi.
"Minat masyarakat Indonesia untuk bepergian ke luar negeri terus meningkat, termasuk ke Jepang. Karena itu, kami mengajak masyarakat untuk mempersiapkan perjalanan secara menyeluruh, tidak hanya dengan menyusun itinerary dan anggaran, tetapi juga mempertimbangkan perlindungan Asuransi Perjalanan. Dengan begitu, wisatawan dapat lebih fokus menikmati pengalaman selama liburan tanpa harus terbebani oleh risiko finansial apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," ujar Ignatius Hendrawan.
Sebagai bagian dari upaya memberikan perlindungan bagi wisatawan Indonesia, Allianz Utama Indonesia menghadirkan Allianz TravelPro, solusi asuransi perjalanan yang dapat dibeli secara daring melalui OptimAll. Produk ini memberikan berbagai manfaat perlindungan, mulai dari biaya medis di luar negeri, evakuasi medis darurat, penundaan penerbangan, kehilangan bagasi, hingga berbagai ketidaknyamanan lain yang dapat terjadi selama perjalanan internasional.
Meski demikian, perlindungan perjalanan bukanlah pengganti perencanaan yang matang. Keduanya justru saling melengkapi. Itinerary yang realistis membantu mengurangi risiko kesalahan yang bisa dihindari, sementara perlindungan perjalanan membantu mengurangi dampak finansial dari situasi yang berada di luar kendali wisatawan.
Liburan yang Berkesan Dimulai dari Persiapan yang Tepat
Meningkatnya jumlah wisatawan Indonesia ke Jepang menunjukkan bahwa minat masyarakat untuk menjelajahi dunia terus berkembang. Namun, pengalaman liburan yang menyenangkan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya destinasi yang berhasil dikunjungi atau seberapa viral tempat yang didatangi.
Sering kali, justru keputusan-keputusan kecil sebelum keberangkatan yang menentukan apakah perjalanan akan berjalan lancar atau penuh kendala. Menyusun itinerary yang realistis, menghitung kebutuhan transportasi dengan cermat, memperkirakan seluruh biaya perjalanan, serta mengantisipasi berbagai risiko merupakan langkah sederhana yang dapat membuat pengalaman liburan jauh lebih nyaman.
Pada akhirnya, tujuan utama sebuah perjalanan bukanlah mencentang sebanyak mungkin daftar destinasi, melainkan menikmati setiap momen tanpa dibayangi kekhawatiran yang sebenarnya bisa dipersiapkan sejak awal. Dengan perencanaan yang matang, wisatawan dapat lebih fokus menikmati keindahan Jepang dan membawa pulang pengalaman yang benar-benar berkesan.
Baca Juga: Tren Kuliner Jepang Meningkat, Archipelago Luncurkan 60 Seconds to Tokyo
Baca Juga: Sunset, Kuliner Jepang Premium, hingga Pantai Privat, Ini Pengalaman Weekend di ALOHA PIK2
FAQ
Apa kesalahan yang paling sering dilakukan wisatawan Indonesia saat liburan ke Jepang?
Kesalahan yang paling umum adalah membuat itinerary terlalu padat, membeli JR Pass tanpa menghitung rute perjalanan, mengabaikan biaya-biaya tambahan, serta tidak mengantisipasi risiko seperti penundaan penerbangan atau kehilangan bagasi.
Apakah JR Pass masih layak dibeli?
Ya, tetapi tidak untuk semua wisatawan. JR Pass lebih menguntungkan jika Anda melakukan banyak perjalanan antarkota menggunakan kereta JR dalam waktu singkat. Jika hanya mengunjungi satu atau dua kota, membeli tiket secara terpisah atau menggunakan regional pass bisa lebih hemat.
Biaya apa saja yang sering terlupakan saat liburan ke Jepang?
Selain tiket pesawat dan hotel, wisatawan sering melupakan biaya visa, city tax hotel, transportasi lokal, tambahan bagasi, internet, serta reservasi atraksi wisata.
Mengapa itinerary yang terlalu padat tidak disarankan?
Karena wisatawan sering meremehkan waktu yang dibutuhkan untuk berpindah lokasi, berjalan di stasiun, mengantre, atau beristirahat. Akibatnya, perjalanan menjadi melelahkan dan banyak destinasi tidak dapat dinikmati secara maksimal.
Mengapa asuransi perjalanan penting untuk liburan ke Jepang?
Asuransi perjalanan dapat membantu mengurangi beban finansial apabila terjadi risiko seperti penundaan penerbangan, kehilangan bagasi, atau kebutuhan perawatan medis selama berada di luar negeri.
Bagaimana cara membuat persiapan liburan ke Jepang yang lebih matang?
Mulailah dengan menyusun itinerary yang realistis, menghitung seluruh biaya perjalanan secara rinci, memilih moda transportasi sesuai kebutuhan, memantau informasi terbaru mengenai persyaratan perjalanan, serta mempertimbangkan perlindungan perjalanan agar liburan berlangsung lebih tenang dan nyaman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026








