Warganet Heboh Boyband Korea ini Salim atau Cium Tangan di GDA, Berikut Sejarahnya dalam Budaya Indonesia

AKURAT.CO Jagat media sosial X dihebohkan dengan salah satu Boyband yang mendapatkan penghargaan di Golden Disc Award 2023 di Jakarta International Stadium, (6/1).
Boyband tersebut diketahui adalah TXT dari tangkapan layar akun X @hblfess.
Salim atau cium tangan adalah budaya saling menyapa yang telah menjadi tradisi di Indonesia selama berabad-abad.
Tindakan ini tidak hanya mencerminkan sopan santun, tetapi juga menunjukkan penghargaan dan nilai-nilai kekeluargaan yang kental di dalam masyarakat Indonesia.
Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi lebih dalam mengenai budaya salim atau cium tangan di Indonesia.
Baca Juga: Sosok Zeda Salim, Presenter yang Ungkap Kesedihan Ria Ricis dan Sempat Dekat dengan Ammar Zoni
1. Sejarah dan Asal Usul:
Budaya salim atau cium tangan memiliki akar yang dalam dalam sejarah Indonesia. Dipercaya berasal dari pengaruh Islam, tradisi ini kemudian menjadi bagian integral dari budaya Indonesia dan diwariskan dari generasi ke generasi.
2. Simbol Penghormatan:
Salim atau cium tangan tidak hanya sekadar tindakan fisik, melainkan juga simbol penghormatan dan pengakuan terhadap orang yang lebih tua atau yang memiliki kedudukan yang lebih tinggi. Ini mencerminkan hierarki sosial dan nilai-nilai adat yang dijunjung tinggi.
3. Kepedulian terhadap Senior:
Mengalami budaya salim mengajarkan pentingnya merawat hubungan antara generasi. Anak muda menunjukkan ketaatan dan penghormatan kepada orang yang lebih tua, sedangkan senior memberikan arahan dan bimbingan kepada yang lebih muda.
4. Ragam Tindakan:
Meskipun istilah "salim" seringkali digunakan secara umum, tindakan ini bisa memiliki variasi tergantung pada budaya dan daerah di Indonesia. Beberapa daerah mungkin lebih cenderung melakukan cium tangan sederhana, sementara di tempat lain, tindakan ini mungkin melibatkan membawa tangan ke dada sebagai bentuk penghormatan.
5. Konteks Sosial:
Budaya salim atau cium tangan sangat terkait dengan konteks sosial. Tindakan ini umumnya dilakukan dalam situasi formal, seperti pada acara-acara resmi, pertemuan keluarga besar, atau saat berkunjung ke rumah seseorang.
6. Ekspresi Keakraban:
Saat dilakukan dengan benar, tindakan salim bisa menjadi ekspresi keakraban dan kehangatan. Ini menciptakan suasana yang nyaman dan ramah di antara individu-individu yang terlibat.
7. Perubahan dalam Masyarakat Modern:
Meskipun budaya salim tetap kuat di masyarakat Indonesia, terutama dalam lingkungan tradisional, masyarakat modern mungkin mengalami pergeseran dalam praktik ini. Beberapa orang muda mungkin lebih cenderung menyampaikan salam verbal atau kontak fisik yang lebih ringan sebagai bentuk penghormatan.
8. Etika dan Norma:
Meski begitu, ada etika dan norma tertentu yang perlu diikuti saat melakukan salim atau cium tangan. Ini melibatkan sikap hormat, kedua tangan ditempatkan di dada, dan pandangan mata yang rendah sebagai bentuk sopan santun.
Kesimpulan:
Budaya salim atau cium tangan di Indonesia bukan sekadar tradisi formal, melainkan fondasi dari nilai-nilai kekeluargaan, penghormatan, dan keakraban. Meskipun mungkin mengalami pergeseran sejalan dengan modernisasi, praktik ini tetap menjadi cerminan budaya yang kaya dan penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini





