Lebaran Tahun Ini, Apakah Kita Sudah Memaafkan Orang Lain?

Ade Yullia Putri S.Sos *)
Tinggal hitungan hari kita akan meninggalkan Bulan Ramadhan dan bersiap menyambut Lebaran dengan segala tradisinya. Salah satunya adalah tradisi maaf memaafkan.
Sebentar lagi telepon seluler kita akan ramai dengan pesan permohonan maaf dari teman, keluarga, tetangga atau kolega.
Story di instagram akan penuh dengan tampilan ucapan mohon maaf lahir dan batin untuk semua teman-temannya di dunia maya yang mungkin pernah tersinggung dengan postingannya selama ini.
Percakapan dan pertemuan kita akan diwarnai dengan ucapan saling meminta maaf kedua belah pihak.
Dengan semua permintaan maaf yang datang dari luar, apakah kita bersedia untuk memaafkan?
Terkadang walaupun tanpa permintaan maaf dari orang yang menyakiti kita, kita tetap bisa memilih untuk memaafkan.
Memaafkan adalah sebuah kesadaran yang timbul dari dalam hati bahwa benar kita pernah disakiti, tetapi memilih untuk melepas rasa sakitnya.
Menurut McCullough, Worthington dan Rachal (1997), memaafkan adalah serangkaian perubahan atau penurunan motivasi seseorang untuk menjauhkan diri atau menghindari orang yang menyakitinya, menurunkan motivasi membalas dendam, serta meningkatnya motivasi untuk berbuat baik dan berdamai pada orang yang sudah melakukan tindakan yang menyakitkan.
Berdasarkan pengertian tersebut, kita dianggap sudah memaafkan apabila terpenuhi tiga aspek di bawah ini:
- Penurunan motivasi untuk menghindar
- Penurunan motivasi untuk membalas dendam
- Peningkatan motivasi untuk berbuat baik
Penurunan Motivasi Untuk Menghindar
Pernahkah kita, ketika disakiti seseorang memilih untuk menghindar, baik menghindar secara fisik maupun secara psikologis.
Kita berusaha atau meminimalisir perjumpaan dengan orang tersebut, kita menghindari tempat-tempat yang memungkinkan kita untuk bertemu, kita tidak membalas pesannya, bahkan tidak jarang memblok kontak pribadi atau sosial medianya?
Ketika kita sudah memaafkan orang tersebut, tidak ada keinginan untuk menghindar atau menjaga jarak, kita bahkan berusaha untuk dekat dengannya. Tidak ada lagi kecanggungan saat bertemu.
Baca Juga: Apa Gaya Pengasuhan Anda dan Mengapa itu Penting?
Penurunan Motivasi untuk Membalas Dendam
Motivasi untuk membalas dendam adalah motivasi untuk membalas perbuatan pihak yang menyakiti.
Sakit hati yang ditimbulkan seseorang seringkali memunculkan keinginan untuk membalas dendam.
“Pokoknya dia harus merasakan apa yang saya rasakan!”
Berbagai cara buruk pun kita tempuh asalkan orang tersebut merasakan sakit yang sama atau bahkan lebih buruk.
Pada saat kita sudah memaafkan seseorang, kita akan melepaskan diri dari kemarahan dan keinginan untuk membalas dendam, selain memberikan rasa tenang pada diri sendiri, penurunan keinginan untuk membalas dendam juga menciptakan lingkungan yang penuh kedamaian dan harmonis.
Seperti kata pepatah: balas dendam terbaik adalah ketika kita mampu letting go dan moving on dengan hidup kita saat ini.
Energi untuk membalas dendam terlalu besar untuk kita tanggung terus menerus setiap harinya, maka dengan memaafkan kita melepas energi negatif tersebut, membuat hidup kita jauh lebih ringan sehingga kita bisa tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Peningkatan Motivasi untuk Berbuat Baik
Hal positif yang kita dapatkan dengan memaafkan adalah muncul keinginan untuk berbuat baik kepada orang yang pernah menyakiti.
Hubungan yang dahulu renggang perlahan mulai mencair dan mengarah kepada kebaikan.
Perasaan kita pun lebih damai dan tenang. Bahkan kita tidak berharap akan dibalas dengan kebaikan yang sama oleh orang yang pernah menyakiti kita.
Hal ini bisa terjadi karena hati kita sudah jauh lebih lapang.
Jadi, Lebaran ini, apakah kita sudah memaafkan orang lain yang menyakiti kita atau masih terjebak dengan rasa sakitnya?
*) Penulis adalah Ibu Rumah Tangga dan Alumni Universitas Indonesia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







