Akurat
Pemprov Sumsel

Lebih Dekat Dengan Jurnalisme Sastrawi, Elaborasi Antara Seni dan Fakta dalam Penulisan

Eko Krisyanto | 30 Agustus 2024, 14:19 WIB
Lebih Dekat Dengan Jurnalisme Sastrawi, Elaborasi Antara Seni dan Fakta dalam Penulisan

.

AKURAT.CO - Jurnalisme sastrawi atau yang juga dikenal sebagai literary journalism merupakan bentuk jurnalisme yang menggabungkan teknik bercerita ala karya sastra dengan laporan fakta dan investigasi mendalam di situs berita.

Berbeda dengan berita hard news yang sering kali langsung dan singkat, jurnalisme sastrawi memberikan ruang bagi narasi yang lebih panjang, detail, dan mendalam, sehingga pembaca dapat merasakan kedalaman dan konteks suatu peristiwa dengan lebih emosional dan reflektif.

Ada tiga poin utama mengenai jurnalisme sastrawi: teknik bercerita, kedalaman investigasi, dan relevansi di era digital.

1. Teknik Bercerita yang Memikat

Salah satu ciri khas utama dari jurnalisme sastrawi adalah penggunaan teknik bercerita yang lebih mirip dengan karya sastra fiksi. Dalam jurnalisme digital,, penulis biasanya fokus pada fakta-fakta yang disajikan secara singkat dan langsung.

Sebaliknya, jurnalisme sastrawi memanfaatkan elemen-elemen seperti narasi, karakterisasi, dialog, dan deskripsi mendalam untuk menyampaikan tentang liputan Indonesia dan dunia.

Teknik ini memungkinkan jurnalis untuk menyampaikan informasi dalam bentuk yang lebih menarik dan memikat. Misalnya, dalam penulisan naratif, tokoh utama dapat dijelaskan dengan detail yang biasanya hanya ditemukan dalam novel atau cerpen.

Penulis bisa menggambarkan latar tempat dengan deskripsi rinci, memberikan pembaca gambaran yang jelas tentang situasi yang dilaporkan.

Contoh klasik jurnalisme sastrawi adalah karya-karya Truman Capote seperti In Cold Blood, di mana ia menceritakan kisah pembunuhan di Kansas dengan detail yang sangat menggugah. Buku ini bukan hanya memberikan fakta tentang kejahatan, tetapi juga mengangkat isu-isu psikologis, sosial, dan moral yang lebih luas.

2. Kedalaman Investigasi

Berbeda dari laporan berita harian yang sering kali harus cepat dan padat, jurnalisme sastrawi memberikan ruang untuk investigasi yang lebih mendalam. Jurnalis sastrawi biasanya melakukan riset yang ekstensif, mewawancarai berbagai narasumber, dan menghabiskan waktu yang lebih lama untuk memahami konteks dari peristiwa yang dilaporkan.

Hal ini menghasilkan tulisan yang bukan hanya menyajikan fakta permukaan, tetapi juga lapisan-lapisan di balik peristiwa tersebut.

Pendekatan investigasi yang mendalam ini menuntut jurnalis untuk menjadi pengamat yang lebih teliti, bahkan kadang-kadang melibatkan dirinya langsung dalam pengalaman yang ia tulis.

Ada kasus di mana jurnalis menghabiskan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuk tinggal bersama komunitas atau mengikuti tokoh yang mereka laporkan. Tujuannya adalah untuk mendapatkan perspektif yang lebih lengkap dan menyeluruh.

Misalnya, jurnalis Barbara Ehrenreich, dalam bukunya Nickel and Dimed, menyamar sebagai pekerja bergaji rendah untuk mengeksplorasi bagaimana hidup dengan upah minimum di Amerika.

Pengalaman pribadinya tersebut memberikan insight yang tidak bisa dicapai hanya melalui wawancara atau riset konvensional.

3. Relevansi Jurnalisme Sastrawi di Era Digital

Di era digital saat ini, ketika berita bisa tersebar dengan sangat cepat melalui media sosial dan portal berita online, jurnalisme sastrawi tetap memiliki tempat yang penting.

Meskipun pembaca modern cenderung menyukai berita yang singkat dan cepat, masih ada ruang untuk konten yang lebih panjang dan mendalam, terutama bagi mereka yang mencari pemahaman yang lebih dalam terhadap suatu isu.

Jurnalisme sastrawi memberikan alternatif dari berita-berita kilat yang sering kali hanya membahas permukaan suatu masalah. Dengan membangun narasi yang kuat dan mendalam, jurnalisme sastrawi menawarkan kepada pembaca sebuah pengalaman membaca yang lebih bermakna dan reflektif.

Di tengah banjir informasi yang sering kali bersifat dangkal, laporan mendalam dengan gaya sastrawi dapat memberikan perspektif yang lebih kaya dan nuansa yang lebih kompleks.

Media-media seperti The New Yorker atau Harper’s Magazine tetap menjadi rumah bagi karya-karya jurnalisme sastrawi, menunjukkan bahwa masih ada pembaca yang menginginkan tulisan berkualitas yang memadukan investigasi dengan seni bercerita.

Di Indonesia, buku-buku seperti Jurnalisme Sastrawi yang diterbitkan oleh Pantau menunjukkan bahwa model ini juga diapresiasi di kalangan pembaca Indonesia.[]

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
A