Mengenal Fenomena Hujan Meteor Taurid yang Dapat Dilihat Pada November 2025, Begini Penyebab dan Proses Terjadinya

AKURAT.CO Hujan meteor Taurid Selatan akan terjadi dari 28 September hingga 2 Desember, dengan puncak aktivitas pada 4-5 November.
Sementara itu, hujan meteor Taurid Utara berlangsung dari 13 Oktober hingga 2 Desember, dengan puncak pada 11-12 November.
Hujan meteor Taurid dapat dilihat di seluruh Indonesia, terutama dari lokasi yang minim polusi cahaya.
Lantas, apa itu fenomena hujan meteor Taurid dan proses terjadinya yang dapat dilihat di Indonesia?
Apa itu hujan meteor Taurid?
Dikutip dari berbagai sumber, Jumat (1/11/2024), hujan meteor Taurid terjadi ketika partikel debu dari komet Encke memasuki atmosfer Bumi.
Fenomena ini terbagi menjadi dua jenis antara lain Taurid Selatan dan Taurid Utara, yang masing-masing memiliki periode aktivitas yang berbeda.
Baca Juga: Senang David Da Silva Kembali ke Persib Bandung, Ciro Alves Sebut Sang Striker 'Butuh Waktu'
Terdapat beberapa penyebab fenomena hujan meteor Taruid, antara lain:
1. Komet Encke
Hujan meteor Taurid berasal dari sisa-sisa debu yang ditinggalkan oleh komet Encke, yang memiliki periode orbit sekitar 3,3 tahun.
Ketika komet ini mendekati Matahari, ia melepaskan partikel debu dan gas, yang membentuk jalur di ruang angkasa.
2. Lintasan orbit bumi
Setiap tahun, pada waktu tertentu, Bumi melintasi jalur orbit di mana debu dari komet Encke berada.
Ini biasanya terjadi antara akhir September hingga awal Desember, dengan puncak aktivitas pada 4-5 November untuk Taurid Selatan dan 11-12 November untuk Taurid Utara.
Proses terjadinya hujan meteor Taurid
1. Masuknya partikel ke atmosfer
Ketika Bumi melewati jalur debu, partikel-partikel kecil ini masuk ke atmosfer dengan kecepatan tinggi, biasanya sekitar 65.000 km/jam.
2. Pembakaran partikel
Ketika partikel debu tersebut memasuki atmosfer, mereka mengalami gesekan dengan udara.
Proses ini menghasilkan panas yang cukup untuk membakar partikel, menciptakan cahaya yang kita lihat sebagai meteor.
3. Tampilan meteor
Meteor yang terlihat saat hujan meteor dapat bervariasi dalam intensitas dan warna, tergantung pada komposisi partikel yang terbakar.
Meteor yang lebih besar dapat menghasilkan kilatan yang lebih terang, sementara yang lebih kecil mungkin hanya terlihat sebagai titik cahaya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








