Fenomena Doom Spending: Saat Gen Z Boros Demi Redakan Stres

AKURAT.CO Belanja seharusnya menjadi kebutuhan, tapi bagi sebagian Gen Z, aktivitas ini berubah menjadi pelarian emosional.
Fenomena tersebut dikenal dengan istilah Doom Spending, perilaku boros dan impulsif yang dipicu oleh stres, kecemasan, hingga tekanan sosial.
Alih-alih membeli barang esensial, Gen Z kerap mengeluarkan uang untuk produk yang sebenarnya tidak dibutuhkan, demi mencari rasa lega sesaat.
Sayangnya, kepuasan itu cepat hilang, digantikan penyesalan dan masalah keuangan jangka panjang.
Ciri-Ciri Doom Spending
Fenomena ini mudah dikenali lewat kebiasaan berikut:
-
Belanja tanpa perencanaan matang.
-
Membeli barang yang tak dibutuhkan, hanya demi ikut tren.
-
Menggunakan belanja sebagai pelarian dari stres atau rasa cemas.
-
Merasa puas sesaat, lalu menyesal setelah transaksi selesai.
-
Mengabaikan tabungan dan perencanaan finansial masa depan.
Faktor Pemicu
Mengapa Doom Spending begitu lekat dengan Gen Z?
Baca Juga: Hong Kong Terbuka: Langkah Adnan/Indah Terhenti di Semifinal, Indonesia Tanpa Wakil di Final
-
Ketidakpastian Ekonomi
Kondisi global yang tidak menentu memicu rasa cemas tentang masa depan. Belanja kemudian jadi cara cepat untuk “menghibur diri.”
-
Tekanan Media Sosial
Paparan gaya hidup glamor di Instagram atau TikTok membuat Gen Z merasa harus mengikuti tren. Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) mendorong mereka membeli barang demi terlihat “update.”
-
Kemudahan Teknologi
E-commerce, e-wallet, kartu kredit, hingga fitur buy now pay later membuat berbelanja impulsif jadi terlalu mudah dilakukan, bahkan hanya dengan sekali klik.
Dampak Negatif
Meski terasa menyenangkan di awal, Doom Spending menyimpan konsekuensi serius:
-
Risiko utang menumpuk dan kesulitan keuangan di masa depan.
-
Stres akibat pengeluaran tidak terkendali.
-
Tabungan jangka panjang terabaikan.
-
Pola konsumsi boros yang sulit diubah.
Di Indonesia, 28% populasi adalah Gen Z – kelompok yang paling rentan dengan fenomena ini. Survei menunjukkan media sosial, pendapatan, dan gaya hidup konsumtif berperan besar dalam memperkuat kebiasaan Doom Spending.
Bagaimana Menghindarinya?
Fenomena Doom Spending menjadi tantangan nyata bagi Gen Z dalam mengelola keuangan pribadi.
Baca Juga: Indonesia Dukung Deklarasi Mpumalanga, Majukan Pariwisata Global Berkelanjutan
Solusinya adalah meningkatkan literasi finansial, melatih kesadaran diri, dan membangun kebiasaan sehat seperti budgeting serta mindful spending.
Belanja boleh, tapi jangan sampai jadi jalan pintas yang justru merugikan masa depan. Karena pada akhirnya, gaya hidup keren tidak ada artinya jika keuangan berantakan.
Laporan: Aqila Shafiqa Aryaputri/magang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








