Akurat Logo

Cerita Thio Siujinata, Sukses Padukan Bisnis Kerajinan Tangan dan Coffee Shop

Yosi Winosa | 17 Mei 2026, 21:32 WIB
Cerita Thio Siujinata, Sukses Padukan Bisnis Kerajinan Tangan dan Coffee Shop
Thio Siujinata, owner Craftote Gallery & Coffee

AKURAT.CO Pandemi bagi banyak orang adalah cerita tentang kehilangan. Namun bagi Thio Siujinata (55), pandemi justru menjadi titik lahir sebuah mimpi baru: menyatukan kerajinan tangan dan coffee shop dalam satu ekosistem bisnis yang bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi juga membuka ruang hidup baru bagi anak-anak panti asuhan.

Di sebuah perjalanan pulang dari Abhimata Mitrasamaya, sebuah panti asuhan yang biasa diunjunginya di Bintaro menuju Tomang pada masa pandemi Covid-19, ide itu muncul sederhana.

Thio yang berlatar belakang seni rupa, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan istri dengan background akuntansi memikirkan pekerjaan bagi 3 anak panti yang mulai sudah lulus sekolah. “Eh kita bikin usaha yuk, dimana karyawannya itu anak-anak panti asuhan,” kenang Thio menirukan ucapan istrinya, Rika Christina (53).

Baca Juga: Kisah Sukses Owner Salad Umma, Pivot Bisnis Saat Pandemi Berkat KUR BRI

Dari obrolan spontan itu, lahirlah Craftote pada 21 Oktober 2021, sebuah bisnis yang memadukan kerajinan tangan dengan coffee shop. Dua sektor yang terlihat berbeda, tetapi justru saling menopang. “Kerajinan tangan itu uang besar, coffee shop uang cepat,” kata Thio.

Formula itu perlahan terbukti. Dalam situasi pandemi hingga perang global yang memukul konsumsi dan rantai pasok, omzet Craftote justru naik 25-30%. Meski belum mencapai titik impas atau breakeven point (BEP), Thio menyebut grafik bisnisnya terus menanjak karena mereka terus bergerak.

Bagi Thio, Craftote awalnya hanya dibayangkan sebagai “bisnis usai pensiun”. Namun bisnis tersebut berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih personal: perjalanan hidup baru yang ia nikmati sepenuh hati.

Nama Craftote sendiri lahir dari dua kata: craft dan tote. Thio melihat penetrasi produk kerajinan tangan di Indonesia masih jauh tertinggal dibanding Jepang, Australia, hingga Uni Eropa. Ia kemudian mencoba mendekatkan kerajinan tangan ke kehidupan sehari-hari manusia. Salah satunya melalui budaya ngopi.

Dirangkul BRI

Tak lama setelah dibuka, Craftote mencuri perhatian Rumah BUMN (RB) BRI di Slipi, Palmerah. Pada November 2021, seorang direktur BRI datang bersama timnya dan memberi tantangan yang tak pernah dilupakan Thio. “Kalau bapak bisa menang, bapak bisa dapat kafe kedua dari kami.”

Sebulan kemudian, tepat 30 November 2021, Craftote diumumkan sebagai pemenang. Keesokan harinya, Thio diminta melihat lokasi baru di Rumah BUMN. Dari sana, perjalanan bisnisnya berubah arah.

Ia bukan hanya mendapat tempat usaha, tetapi juga akses pada kelas manajemen, literasi keuangan, branding, hingga live selling. Bagi Thio yang berasal dari dunia seni rupa, istilah fancy seperti BMC (business model canvas) sebelumnya terdengar asing.

Namun pelatihan-pelatihan itu membuka perspektif baru. Craftote tak lagi sekadar tempat menjual kopi dan kerajinan tangan, tetapi mulai tumbuh sebagai bisnis dengan struktur dan strategi.

BRI juga menawarkan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Awalnya Thio menolak. Ia merasa belum membutuhkan modal tambahan. Yang ia perlukan justru akses pameran dan business matching. Permintaan itu ternyata dipenuhi.

Dari situ, jejaring mulai terbentuk. Craftote masuk ke berbagai pameran, memperluas pasar, dan akhirnya mengambil KUR pada 2024 dalam jumlah yang masih kecil. Kini, Thio memandang pendanaan bukan hanya soal uang. Ia ingin ada pendampingan bisnis, monitoring, hingga konsultasi pengembangan usaha.

“Bukan sekadar modal saja yang mau saya terima, tapi juga konsultan bisnis yang mau melihat prospek bisnis apa yang bisa saya kembangkan.”

Salah satu tantangan terbesarnya adalah biaya galeri yang tinggi. Karena itu ia mulai memikirkan pengembangan produk UMKM hijau, istilah bagi produk-produk berkelanjutan nan ramah lingkungan (sustainable) sebagai masa depan Craftote.

Di dekat resepsionis kafe, Thio menggantungkan puluhan nametag dari berbagai pameran dan acara bisnis yang pernah ia ikuti. Semua digantung di dekat pintu sebagai pengingat perjalanan panjang yang dimulai dari satu kesempatan kecil di Rumah BUMN.

Dream Board sebagai Kompas

Dream board yang dibuat dan dipajang Thio menjadi "pemandu" arah bisnis ke depan

Meski Craftote baru berdiri pada 2021, mimpi Thio sebenarnya sudah ada sejak 2001. Hanya saja, mimpi itu belum pernah benar-benar diwujudkan. Momentum itu datang saat ia mengikuti program binaan Bank Indonesia bernama Jawara, Jagoan Wirausaha Jakarta.

Di sana, peserta diminta membuat dream board menggunakan potongan gambar dan tulisan dari berbagai majalah. Bagi Thio, proses itu berlangsung cepat karena seluruh bayangan masa depannya sudah ada di kepala.

Dream board miliknya menggambarkan perjalanan menuju Eropa dengan membawa produk-produk ramah lingkungan Indonesia. Perjalanan itu dibagi dalam sembilan fase. Saat ini, ia merasa berada di fase keempat: action & branding. Target besarnya adalah Berlin, Jerman, pada 2029.

Bukan tanpa alasan. Thio membidik pameran internasional Ambiente di Frankfurt, salah satu pameran barang konsumsi terbesar dunia yang digelar setiap tahun di Messe Frankfurt. Pameran itu menampilkan ribuan exhibitor global untuk kategori dining, giving, dan living.

Jerman tak asing bagi Thio. Saking dekatnya Jerman di kepala Thio, ia bahkan sempat bekerja di salah satu Perusahaan Otomotif Jerman, Mercedes Benz Indonesia di divisi publikasi.

Namun jalan menuju Ambiente tidak mudah. Salah satu pintu masuknya adalah Indonesia International Furniture Expo (IFEX) di ICE BSD. Untuk bisa masuk ke sana, Craftote harus memiliki produk yang benar-benar kompetitif.

Pertemuan dengan Kementerian Perdagangan terjadi lewat jejaring BRI. Dari situ, Craftote mulai didorong masuk ke proyek-proyek produksi dan pengembangan desain. “Yang bisa dilakukan adalah menghasilkan produk terbaik, produk terbaik, dan produk terbaik,” ujar Thio.

Kesadaran itu membuatnya serius membangun kualitas. Pada 2023, produk Craftote memenangkan penghargaan yang ditandatangani istri Wakil Presiden Ma’ruf Amin. Dua tahun kemudian, pada 2025, mereka kembali meraih juara 3 dengan sertifikat yang ditandatangani Selvi Gibran.

Penghargaan itu menjadi legitimasi penting di tengah industri kerajinan tangan yang sangat kompetitif dan mudah ditiru. Karena itu, Thio rutin berkonsultasi berjejaring di klinik desain yang disediakan Kementerian Perdagangan untuk mencari inovasi baru.

Kini, salah satu fokus inovasinya adalah tas anyaman modern, produk yang ia yakini dapat menjembatani kerajinan tradisional dengan pasar anak muda urban.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.