Keluhan 'Bayar Angin' Jadi Sorotan, Tarif Ongkir Mulai Bergeser

AKURAT.CO Praktik pengenaan tarif minimum 1 kilogram untuk pengiriman paket ringan mulai menjadi sorotan seiring meningkatnya transaksi perdagangan digital di Indonesia.
Selama bertahun-tahun, pelanggan jasa logistik tetap dikenakan biaya pengiriman berdasarkan tarif minimum 1 kilogram meski barang yang dikirim hanya berbobot ratusan gram.
Kondisi tersebut pada akhirnya dikeluhkan oleh para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta penjual daring karena dinilai menambah biaya distribusi.
Perubahan mulai terlihat ketika perusahaan logistik mulai menawarkan layanan khusus untuk paket berbobot rendah.
Baca Juga: Lion Parcel Gandeng AstraPay Dorong QRIS di Mitra Agen
Salah satunya dilakukan Lion Parcel yang meluncurkan layanan pengiriman untuk paket dengan berat maksimal 300 gram tanpa menggunakan skema tarif minimum 1 kilogram.
Chief Marketing Officer Lion Parcel, Kenny Kwanto mengatakan kebutuhan terhadap layanan tersebut muncul dari banyaknya masukan pelanggan yang merasa biaya pengiriman tidak sebanding dengan berat barang yang dikirim.
"Produk yang diperdagangkan melalui platform digital saat ini semakin didominasi barang berukuran kecil, mulai dari aksesori fesyen, produk kecantikan, dokumen, hingga perlengkapan elektronik ringan," ucapnya dalam konferensi pers peluncuran MINIPACK #TolakBayarAngin di Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Sebagai ilustrasi, lanjut Kenny, pengiriman paket ringan rute Jakarta-Makassar yang sebelumnya dikenakan tarif reguler Rp46.000 per kilogram kini dapat dikirim dengan biaya Rp23.000 melalui layanan khusus paket ringan atau lebih rendah sekitar 50 persen.
Fenomena ini mencerminkan perubahan kebutuhan pasar logistik nasional yang dalam beberapa tahun terakhir semakin dipengaruhi pertumbuhan e-commerce.
Bagi pelaku usaha daring, ongkos kirim menjadi salah satu komponen biaya yang berpengaruh terhadap harga jual dan daya saing produk.
Di tengah persaingan harga yang semakin ketat di marketplace, efisiensi biaya distribusi menjadi faktor penting dalam menjaga margin keuntungan.
Senada dengan Kenny, Chief Retail Officer Lion Parcel, Febri Andika mengatakan masukan mengenai kebutuhan layanan paket ringan banyak diperoleh dari jaringan agen perusahaan yang kini mencapai lebih dari 7.000 titik di berbagai daerah.
"Sementara itu, dari sisi operasional, perusahaan mengandalkan jaringan distribusi yang diklaim menjangkau 99 persen wilayah domestik Indonesia dan didukung lebih dari 350 penerbangan Lion Group," paparnya.
Baca Juga: Kisah Kurir Perempuan Lion Parcel: Bukti Nyata Emansipasi di Industri Logistik Indonesia
Jika sebelumnya perusahaan lebih mengandalkan skema tarif minimum, kini efisiensi biaya untuk paket berukuran kecil mulai menjadi pertimbangan penting dalam menarik pelanggan dari sektor UMKM maupun perdagangan digital.
Perubahan pola konsumsi masyarakat dan pertumbuhan transaksi daring diperkirakan akan semakin mendorong kebutuhan terhadap layanan logistik yang lebih fleksibel, terutama untuk pengiriman barang dengan bobot di bawah satu kilogram.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 8BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026









