Akurat
Pemprov Sumsel

Masuk Pasar Global, UMKM Diminta Perkuat Branding Produk

Esha Tri Wahyuni | 29 Maret 2026, 13:10 WIB
Masuk Pasar Global, UMKM Diminta Perkuat Branding Produk
Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena

AKURAT.CO Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena, menegaskan pentingnya literasi produk bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memperluas pasar hingga ke tingkat internasional.

Samuel menyebut, penggunaan bahasa dalam pemasaran harus disesuaikan dengan target pasar.

“Produk-produk kita kalau mengikuti event-event lokal, tentunya berbahasa Indonesia tidak masalah. Tetapi kalau mengikuti ajang internasional perlu ada flyers pendamping dalam bahasa internasional, sehingga calon konsumen paham,” ujarnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu (29/3/2026)..

Baca Juga: Bazar Rakyat di Monas Dorong Perputaran Ekonomi UMKM Pascalebaran

Secara nasional, peran UMKM terhadap perekonomian Indonesia tergolong signifikan. Data Kementerian Koperasi dan UKM mencatat UMKM berkontribusi sekitar 61% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap hampir 97% tenaga kerja hingga 2025.

Namun, tingkat partisipasi UMKM dalam ekspor masih relatif rendah, berkisar di angka 15%, jauh di bawah negara tetangga di Asia Tenggara.

Samuel menjelaskan, literasi produk tidak hanya sebatas kemampuan menjual, tetapi juga mencakup pemahaman dalam mengemas dan mengomunikasikan keunggulan produk secara komprehensif.

“Pelaku UMKM harus peduli kepada siapa produk itu dipresentasikan. Itu penting,” katanya.

Dirinya menyoroti aspek transparansi informasi produk sebagai faktor krusial, terutama untuk produk makanan. Menurutnya, informasi bahan baku hingga potensi alergi wajib dicantumkan.

“Kalau kita jual makanan atau jajanan, ada orang-orang yang alergi terhadap kacang atau bahan tertentu. Cantumkan di produk kita karena itu bisa fatal persoalannya,” ujarnya.

Selain itu, detail produk seperti tingkat kepedasan, komposisi bahan, hingga asal daerah produksi juga dinilai mampu meningkatkan nilai jual. Samuel mencontohkan, identitas geografis seperti asal produk dari Kendal, Salatiga, atau Semarang perlu disertai penjelasan keunggulannya.

Baca Juga: BRI Dukung UMKM Tercabaikan Bandung, Inovasi Baso Aci Modern

“Apa sih kelebihan dari daerah penghasil tersebut? Itu penting,” katanya.

Dalam konteks global, tren konsumen juga mulai bergeser ke produk yang berkelanjutan. Samuel menekankan pentingnya mencantumkan nilai ramah lingkungan dan tanggung jawab sosial dalam kemasan.

“Info mengenai bahwa produk mereka ini peduli pada lingkungan, produk mereka ini punya kepedulian pada sosial. Ini menjadi penting,” ujarnya.

Sebagai diferensiasi, ia juga mengusulkan pendekatan kreatif dalam kemasan, seperti penggunaan pantun singkat untuk meningkatkan daya tarik produk.

“Kenapa sih enggak ada kemasan kita satu pun juga yang berisi pantun-pantun singkat? Sama seperti kalau kita naik penerbangan, itu kan juga suka dibacakan pantun,” kata Samuel.

Pemerintah dalam beberapa tahun terakhir terus mendorong digitalisasi dan ekspansi UMKM melalui berbagai program, termasuk onboarding ke platform digital dan peningkatan kualitas produk. Namun, tantangan utama masih berada pada aspek branding, standardisasi, dan literasi pasar global.

Peningkatan literasi produk dinilai dapat memperkuat daya saing UMKM di pasar internasional, sekaligus meningkatkan nilai ekspor nonmigas. Bagi konsumen, transparansi informasi produk juga berkontribusi terhadap perlindungan konsumen dan kepercayaan pasar.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.