Dari Antre Kembalian ke Antre Bakso: Cara QRIS BRI Bikin Bakso Pakde Joe Kian Laris dan Pelanggan Makin Praktis

AKURAT.CO Di sebuah sudut Jalan Patal Senayan Nomor 27, aroma kuah hangat dan bakso yang baru diangkat dari panci sudah mulai mengundang pelanggan sejak pagi.
Sebelum jam makan siang tiba, kursi-kursi sering kali sudah terisi. Tidak sedikit pelanggan yang datang rutin, bahkan menjadikan tempat ini sebagai “kantor kedua” untuk makan sambil membuka laptop.
Namun di balik ramainya pembeli, ada perubahan penting yang diam-diam ikut mengubah ritme usaha: digitalisasi pembayaran lewat QRIS BRI. Bagi Sisi (44), pemilik Bakso Pakde Joe, perubahan itu bukan sekadar mengganti uang tunai dengan kode QR. Ada perubahan cara mengelola usaha, mencatat pemasukan, hingga melayani pelanggan dengan lebih cepat.
Baca Juga: BI: Transaksi Digital Indonesia Melonjak, QRIS Tumbuh 95 Persen pada Mei 2026
Usaha bakso yang dirintis sejak 2022 ini lahir dari keputusan sederhana: ingin memiliki usaha sendiri setelah merasa cukup bekerja untuk orang lain. Kesempatan datang ketika lapak yang sebelumnya disewa tidak lagi diteruskan pemilik lama.
Dengan modal awal membeli gerobak dan memanfaatkan biaya sewa yang masih relatif terjangkau, Sisi mulai menjalankan usaha ini. Soal resep tak begitu susah bagi Sisi, karena suaminya kebetulan orang Wonogiri yang terkenal sebagai peracik bakso andal.
Kini usaha baksonya berkembang dijalankan 4 karyawan. Tidak ada sistem shift, tidak ada struktur usaha yang rumit. Semua dijalankan bertahap. “Dulu inspirasi saya memulai usaha ini sih ingin punya usaha sendiri saja sih dan karena sudah bosan bekerja juga,” kenang Sisi.
Perlahan hasilnya mulai terlihat. Bakso Pakde Joe yang setiap harinya buka dari pukul 06.00 atau 06.30 WIB ini mampu menjual sekitar 300 porsi per hari. Bahkan pada hari ramai, dagangan bisa habis sebelum waktu makan siang selesai, atau paling telat sekitar ashar (pukul 15.00 WIB).
Tetapi pertumbuhan pelanggan membawa tantangan baru: transaksi yang semakin padat. Ketika pembeli mulai ramai, proses menerima pembayaran tunai ternyata sering menyita perhatian.
Menghitung uang, memastikan nominal pas, mencari kembalian, hingga merekap pemasukan menjadi pekerjaan tambahan yang menyita waktu. Di titik itulah pembayaran digital mulai terasa manfaatnya.
Menurut Sisi, proses mendaftar QRIS BRI berjalan sederhana karena sejak awal ia sudah menjadi nasabah BRI. Setelah aktif digunakan, manfaat yang paling terasa justru bukan sekadar pelanggan bisa membayar lewat ponsel.
Yang berubah adalah ritme operasional harian. Setiap transaksi tercatat lebih rapi. Tidak ada lagi kerepotan menyiapkan uang kecil atau khawatir salah hitung ketika antrean sedang ramai. Rekap pemasukan juga menjadi lebih mudah dilihat dan dicek kembali.
Salah satu pelanggan Bakso Pakde Joe memesan makanan
“Sejak pakai QRIS BRI jadi lebih mudah sih, buat pengecekan dan segala macamnya. Lebih rapi pembukuan dan enggak ribet cari kembalian. Dulu pas daftar QRIS BRI enggak sulit, lebih gampang kok. Karena dari awal memang saya sudah punya rekening BRI juga,” ujar Sisi.
Bagi pelaku UMKM yang mengandalkan volume transaksi harian seperti usaha bakso, efisiensi kecil seperti ini ternyata berdampak besar. Waktu yang sebelumnya habis untuk urusan pembayaran kini bisa dialihkan untuk memastikan kualitas rasa tetap terjaga, mempercepat pelayanan, dan memikirkan pengembangan usaha.
Sisi pun mulai membayangkan langkah berikutnya: menambah variasi menu dan memperluas pelanggan yang selama ini sebagian besar datang karena rekomendasi dan pelanggan tetap. “Harapanya ke depan ya semakin berkembang lah harapannya. Varian rasanya nambah juga semoga makin banyak. Iya mayoritas langganan, ya ada banyak orang baru juga sih,” harap Sisi.
Kantor Kedua
Namun cerita digitalisasi di Bakso Pakde Joe tidak berhenti di sisi penjual. Di meja pelanggan, perubahan itu juga terasa nyata. Indra (33), salah satu pelanggan rutin, mengaku cukup sering makan di Bakso Pakde Joe. Alasannya sederhana: dekat kantor, harga yang masih masuk akal, dan suasana yang nyaman untuk makan sambil tetap produktif.
“Harganya masuk banget sih untuk ukuran karyawan. Apalagi kalau bicara in this economy harganya cukup cocok sih,” tutur Indra.
Berbagai variasi menu Bakso Pakde Joe terjangkau harganya
Sebagai penggemar bakso, ia memang sering mencoba tempat makan baru. Tetapi ketika menemukan tempat yang cocok dari sisi rasa dan kenyamanan, frekuensi kunjungan biasanya meningkat. Yang menarik, salah satu faktor yang membuat pengalaman makan terasa lebih praktis justru datang dari metode pembayarannya.
Indra mengaku kini sudah jarang membawa uang tunai dalam jumlah besar. Menurutnya, uang kas sering tidak terasa keluar, sulit dilacak, bahkan kadang merepotkan ketika harus mencari uang pas.
“QRIS itu praktis banget. Soalnya sekarang kan sudah agak males bawa-bawa uang kas di dompet, suka enggak keitung, suka ilang, terus kadang juga enggak ada kembalian harus nunggu lama lagi. Udah jarang banget sih ada kas di dompet saya. Enak banget sih pakai QRIS soalnya lebih keitung juga kan pengeluarannya jadi gampang maksudnya diakumulasinya daripada narik manual,” papar Indra.
Dengan QRIS, proses selesai hanya dalam hitungan detik. Tidak perlu menunggu kembalian. Tidak perlu menghitung ulang uang yang keluar. Semua langsung tercatat di aplikasi pembayaran.
Bagi pekerja perkotaan yang ritme harinya serba cepat, pengalaman seperti ini mulai menjadi kebutuhan, bukan lagi fasilitas tambahan. Menariknya lagi, kebiasaan itu tidak berhenti di tempat makan.
Perubahan perilaku ini menunjukkan satu hal penting: digitalisasi pembayaran bukan lagi soal teknologi, tetapi soal kenyamanan dan kontrol finansial.
Di satu sisi, pemilik usaha mendapatkan operasional yang lebih efisien dan pencatatan yang lebih rapi. Di sisi lain, pelanggan mendapatkan pengalaman transaksi yang lebih cepat dan transparan.
Bakso Pakde Joe menjadi contoh sederhana bagaimana transformasi digital bekerja di level paling dekat dengan kehidupan sehari-hari: semangkuk bakso, antrean makan siang, dan satu kode QR yang membuat semuanya berjalan lebih lancar.
Bagi usaha kecil, perubahan besar memang tidak selalu dimulai dari ekspansi cabang atau investasi besar. Kadang, ia dimulai dari keputusan sederhana untuk menerima pembayaran dengan cara yang mengikuti kebiasaan pelanggan hari ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Link Nonton Piala Dunia 2026 Resmi dan Legal, Kualitas HD Bukan di Score808
- 2Di Balik Penolakan Keras Singapura ke Ekspor Satu Pintu DSI: Risiko Kehilangan Ratusan Miliar Dolar Arus Ekspor dan Devisa
- 3Prediksi Skor Uzbekistan vs Kolombia di Piala Dunia 2026: Debutan Asia Hadapi Ujian Berat dari Los Cafeteros
- 4Prediksi Skor Swiss vs Bosnia dan Herzegovina: Nati Diunggulkan, Tapi Jangan Remehkan Ancaman Tim Balkan
- 5Prediksi Skor Ghana vs Panama di Piala Dunia 2026: Duel Seimbang, Akankah Black Stars Bangkit?
- 6Prediksi Skor Belgia vs Mesir Lengkap dengan Statistik Head to Head dan Susunan Pemain
- 7Prediksi Skor Turki vs Paraguay: Saatnya Crescent-Stars Bangkit atau La Albirroja Ciptakan Kejutan?
- 8Prediksi Skor Austria vs Yordania di Piala Dunia 2026: Das Team Diunggulkan, Mampukah Debutan Asia Membuat Kejutan?
- 9Pramono Anung Resmikan Koridor Rasuna Said, 109 Tiang Monorel Mangkrak Resmi Disingkirkan
- 10Halte Setiabudi Integritas Jadi Media Perkenalan Nilai-nilai Positif kepada Masyarakat






