Akurat Logo

Sempat Depresi Awal Dibui, Sekarang Eks Napi Ini Rintis Usaha Konveksi Rumahan

Saeful Anwar | 20 Agustus 2026, 14:34 WIB
Sempat Depresi Awal Dibui, Sekarang Eks Napi Ini Rintis Usaha Konveksi Rumahan
Eks warga binaan, Fajar, merintis usaha konveksi.

AKURAT.CO Satu mesin jahit bekas seharga Rp1,5 juta menjadi teman Fajar untuk mewujudkan impiannya memiliki bisnis konveksi.

Dua bulan setelah mendapat pembebasan bersyarat dari Lapas Kelas II Garut, Jawa Barat, ia mulai menata kembali kehidupannya dengan bekal keterampilan produksi konveksi yang diperoleh selama menjalani masa pidana.

Mesin jahit tersebut dibelikan oleh mertuanya. Setiap pagi hingga sore, Fajar bekerja di sebuah usaha konveksi milik orang lain.

Selepas Magrib hingga sekitar pukul 22.00 WIB, ia kembali bekerja di rumah untuk menyelesaikan pesanan jahit yang diterimanya secara pribadi.

“Untuk sekarang saya sehari-hari kerja di konveksi, jadi orderan jahit, permak kalau di rumah itu saya kerjakan sesudah saya selesai kerja yang untuk konveksi, misalnya setelah Magrib sampai jam 22.00 WIB,” kata Fajar saat ditemui wartawan di halaman Lapas Kelas II Garut seusai melapor terkait pembebasan bersyarat.

Debutnya dimulai ketika seorang kerabat meminta dibuatkan satu setel almamater lengkap dengan rompi dan celana. Untuk pesanan tersebut, Fajar hanya mematok harga Rp150 ribu.

“Namanya kasih harga ke saudara, ya bingung juga karena saya sedang merintis. Saya enggak matok harga, yang penting orang-orang tahu bagaimana kualitas jahitan saya,” ujarnya.

Perlahan, pesanan mulai berdatangan. Ada pelanggan yang meminta pakaian dipotong, ada pula yang membutuhkan jasa permak.

Meski nilainya hanya Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per potong, bagi Fajar setiap pesanan merupakan kesempatan untuk membangun basis pelanggan.

Dari pekerjaan di konveksi milik orang lain dan usaha konveksi rumahan yang dirintisnya, Fajar mengaku memperoleh penghasilan hampir Rp4 juta pada bulan pertama setelah bebas.

Memasuki bulan kedua, ia bahkan sempat mendapatkan penghasilan lebih dari Rp1 juta dalam sepekan, kemudian sekitar Rp900 ribu pada pekan berikutnya.

“Kalau pendapatan saya kerja di konveksi sama terima orderan jahit dan permak di rumah mungkin hampir Rp4 juta dapatlah sebulan pertama kemarin. Bulan kedua ini ada yang seminggu dapat sejuta lebih, minggu berikutnya Rp900 ribu,” ucap Fajar.

Penghasilan tersebut belum banyak digunakan untuk kebutuhan lain. Fajar memilih mengumpulkannya sedikit demi sedikit untuk membeli perlengkapan menjahit, seperti penggaris pola dan benang.

“Rencana jangka pendek narik pelanggan dulu, branding kualitas jahitan saya dulu. Ini saya masih kumpulin keuntungan buat modal, beli penggaris pola, benang-benang,” tuturnya.

Baca Juga: 47 Rumah Warga Tangerang Selesai Direnovasi, Program Bebenah Kampung Hadirkan Hunian Lebih Layak

Tak Bisa Tidur Nyenyak, Dihantui Ketakutan

Fajar masuk ke Lapas Garut pada Oktober 2021 setelah sebelumnya ditahan di Rutan Garut. Ia terjerat perkara terkait Undang-Undang Perlindungan Anak dan divonis 10 tahun penjara serta denda Rp50 juta subsider enam bulan.

Fajar mengaku sempat mengalami depresi karena bayangan buruk tentang kehidupan di dalam lapas. Gambaran tersebut terbentuk dari apa yang dilihatnya di televisi dan film, ditambah cerita orang lain mengenai kehidupan di penjara.

“Jujur sih kalau dari bayangan pertama kali masuk lapas kayak suram lah gitu. Kayak lihat yang di TV-TV kayak gitu kan, yang di film-film, bayangannya kekerasan lah, di-bully sesama warga binaan gitu kan. Awalnya saat mapenaling (masa pengenalan lingkungan) dua minggu itu saya tidur paling cuma hitungan sejam, kebangun, tidur sejam lagi, kebangun lagi, penuh was-was. Karena kan sebelumnya juga ada eks residivis yang nakut-nakutin lah, misalkan di lapas gini-gini-gini,” terang Fajar.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.