Akurat
Pemprov Sumsel

Kenapa Presiden Indonesia Selalu Dari Jawa? Kelompok Mayoritas Menjadi Salah Satu Alasannya

Iim Halimatus Sadiyah | 8 November 2023, 19:10 WIB
Kenapa Presiden Indonesia Selalu Dari Jawa? Kelompok Mayoritas Menjadi Salah Satu Alasannya

AKURAT.CO Mungkin banyak masyarakat yang tidak sadar, bahwa presiden Indonesia hampir semuanya berasal dari Jawa, jika hanya B.J. Habibie yang terhitung non-Jawa.

Lebih menariknya lagi, tak ada satu pun dari 20 syarat mencalonkan diri sebagai presiden yang diatur UU Pemilu 2017 Pasal 169 menyatakan presiden Indonesia harus dari Jawa.

Setelah melihat pola presiden Indonesia selama 70 tahun terakhir, orang-orang telah mencapai kesimpulan bahwa presiden Indonesia yang pasti adalah orang Jawa.

Dikutip podcast bersama Rocky Gerung, Rabu (8/11/2023), Luhut Binsar Panjaitan, tokoh penting yang menjabat berbagai posisi dalam pemerintahan Joko Widodo, juga mengakui analisis mengenai presiden Indonesia dari Jawa.

Dalam podcast tersebut, Luhut juga sempat diberi pertanyaan mengenai keinginan untuk mencalonkan diri menjadi Presiden Indonesia, namun dia menjawab harus sadar diri.

“Harus tahu diri juga lah, kalau kau bukan orang Jawa jangan terus, ini antropologi, kalau anda bukan orang Jawa, pemilihan langsung hari ini,” jelas Luhut.

Baca Juga: Mengetahui Arti Kata Argo Pada Nama Kereta Api, Berasal Dari Bahasa Jawa Kuno

Ternyata bukan hanya di Indonesia saja, melain di negara Malaysia juga hanya memilih orang Melayu sebagai perdana menteri. 

Menurut Developing Countries Studies Center (DCSC), Keyakinan bahwa presiden Indonesia selalu berasal dari suku Jawa dipicu oleh fakta karena banyak orang Jawa yang menjadi pemimpin dalam kelompok politik.

Kelompok tersebut juga dominan dalam sepanjang sejarah negara, baik yang berpandangan nasionalis, agamis, maupun komunis.

Situasi yang ada di Indonesia juga sama di negara lain, yaitu kelompok dominan yang akan berkuasa, seperti kelompok yang dominan di Amerika Serikat disebut WASP (White, Anglo-Saxon, and Protestant).

Sementara di Indonesia adalah kelompok Jawa-Islam-abangan yang mendominasi di Indonesia. Meskipun demikian, berdasarkan trikotomi Antropolog Geertz, kelompok dominan di masyarakat Jawa dikategorikan menjadi santri-abangan-priyayi.

Nasionalisme sendiri baru ada di Indonesia muncul pada awal abad ke-20, dan mencapai puncaknya pada akhir Perang Dunia Kedua. 

Baca Juga: 5 Gaya Berpakaian Perempuan Jawa Cantik Dan Unik, Asli Dari Nenek Moyang Yang Mulai Ditinggalkan

Nasionalisme baru tersebut yang menggabungkan ide-ide tradisional seperti kejawaan, kesundaan, dan sebagainya dalam konsep keindonesiaan.

Suku Jawa di Indonesia menjadi mayoritas yang berarti masyarakat dengan suku yang sama akan mempertahankan hak untuk menang. 

Selain itu, sebagian besar pemilih adalah pemilih sosiologis, yang memilih kandidat berdasarkan seberapa mirip mereka dengan kandidat tersebut.

Tidak mengherankan bahwa kandidat dari latar belakang suku Jawa dan Islam sangat mencolok mengingat mayoritas pemilih beragama Islam. 

Itulah penjelasan dari pertanyaan mengapa presiden Indonesia ini selalu dari Jawa dan sangat jarang orang dari luar pulau Jawa mencalonkan diri.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.